Reporter : Zulfi
ACEH TAMIANG, Mattanews.co – Hingga bulan Maret 2020, kasus stunting di Kabupaten Aceh Tamiang mencapai lebih dari 1.000 kasus.
Hal itu berdasarkan data dari 15 Puskesmas, di bawah Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Tamiang.
Stunting sendiri berdasarkan ilmu kesehatan adalah kondisi gagal tumbuh pada balita.
Ini akibat gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan janin hingga usia anak Dua tahun.
Dalam jangka pendek, kekurangan gizi akan menyebabkan gangguan kecerdasan dan optimalnya ukuran fisik tubuh. Serta gangguan metabolisme.
“Jumlah kasus penderita di Kabupaten Aceh Tamiang sendiri berjumlah 1.716 kasus. Sangat pendek 496 kasus dan Pendek 1.220 kasus,” ungkap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Aceh Tamiang Tsuaibah, Senin (9/3/2020).
Dari 12 Kecamatan, kasus tertinggi penderita balita sangat pendek berda di Kecamatan Manyak Payed, yakni 77 orang. Lalu, di peringkat kedua Kecamatan Kejuruan Muda yakni 72 orang.
Berdasarkan data kesehatan dinas kesehatan Provinsi Aceh. Kabupaten Aceh Tamiang sendiri masuk kedalam zona kuning, atau level tinggi dari 23 Kabupaten/Kota di Aceh.
Selain Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten/Kota di Aceh yang berada di zona kuning.
Yaitu Kabupaten Singkil, Simeulue, Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Besar, Birueun, Aceh Utara, Aceh Barat Daya, Gayo Lues, Aceh Jaya, Bener Meriah, dan Pidie Jaya.
Menurut Tsuaibah, stunting terjadi akibat malnutrition atau kondisi tubuh yang tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup. Terutama terhadap ibu hamil sehingga berdampak kepada pertumbuhan janin.
“Hal ini sudah menjadi perhatian serius pemerintah Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Tamiang. Sehingga dalam kasus ini pemerintah sedang serius dalam menanggapi kasus ini,” katanya.
Untuk itu, pemerintah daerah kabupaten Aceh Tamiang terus berupaya menekan angka stunting di wilayah ini.
Sehingga nantinya tidak menghambat generasi muda dan cita-cita anak akibat postur tubuh yang tidak normal.
“Perlu dukungan semua pihak dalam mengentaskan permasalahan ini, dan banyak pihak yang harus dilibatkan. Mulai dari pemerintah Desa hingga Kabupaten. Karena kondisi stunting yang ada saat ini harus bisa dirubah ke kondisi normal, dan itu dapat dilakukan,” ujarnya
Tsuaibah mengatakan, pemahaman terhadap kaum ibu juga sangat penting dalam hal ini.
Untuk itu, dirinya mengaku pihaknya selalu memberikan sosialisasi terkait kasus stunting ini di tengah-tengah masyarakat, melalui bidan Desa yang ada di kampung.
Editor : Nefri














