BERITA TERKINIHEADLINEMATTA OPINI

Arteri Peradaban, “Membaca Denyut Musi dan Batanghari 9 dengan Mata Batin”

×

Arteri Peradaban, “Membaca Denyut Musi dan Batanghari 9 dengan Mata Batin”

Sebarkan artikel ini

Oleh : Gatot Sultan

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Di balik riuh suara mesin ketek dan pekatnya warna sedimen, mengalir dua raksasa yang bukan sekadar massa H₂O. Sungai Musi dan Sungai Batanghari 9 adalah urat nadi yang memompa kehidupan ke jantung Sumatera Selatan dan sekitarnya. Namun, bagi mata yang hanya melihat dari kacamata ekonomi, sungai hanyalah jalur logistik. Bagi kita yang ingin membangun “kesadaran penuh” (mindfulness), sungai ini adalah guru filsafat yang mengalirkan kebijaksanaan kuno tentang keberlanjutan.

Sungai sebagai Ruang “Menjadi” (Becoming)

Secara filosofis, sungai adalah simbol perubahan yang abadi. Seperti kata Heraclitus, “Panta Rhei” segalanya mengalir. Namun, di Sumatera Selatan, Musi dan Batanghari 9 bukan sekadar arus yang lewat, mereka adalah ruang memoria.

Musi adalah rahim bagi Kerajaan Sriwijaya. Tanpanya, kosmologi Melayu-Nusantara tidak akan pernah terbentuk.
Batanghari 9 adalah saksi bisu perjalanan batin para leluhur yang mencari keseimbangan antara darat dan air.

Mengaitkan sungai dengan kelestarian alam Sumsel berarti menyadari bahwa kita tidak sedang menjaga “benda mati”. Kita sedang menjaga sejarah yang terus bergerak. Saat kita mencemari Musi, kita sedang meracuni identitas kita sendiri.

Kesadaran Penuh Melampaui Logika, Menuju Rasa

Seringkali, kampanye lingkungan gagal karena terlalu teknis: kadar pH, mikroplastik, atau debit air. Kita kehilangan “Rasa”.
Membangun kesadaran penuh (full awareness) berarti merasakan bahwa air yang mengalir di sungai Batanghari 9 dan bermuara di sungai Musi adalah air yang sama yang menguap menjadi hujan dan menghidupi hutan-hutan penyangga kita. Ada keterhubungan organik (organic interconnectedness) di sini.

“Sungai tidak pernah terburu-buru, namun semua tujuan tercapai. Kelestarian alam bukan tentang memaksakan kehendak manusia, tapi menyelaraskan langkah dengan irama sungai”.

Cinta kepada sungai haruslah bersifat Eros dan Agape:

1. Eros : Hasrat untuk melihat sungai kembali jernih dan indah.
2. Agape : Pengorbanan tanpa pamrih untuk menjaga ekosistemnya demi generasi yang bahkan belum lahir.

Kelestarian sebagai Laku Spiritual

Menjaga kelestarian Musi dan Batanghari 9 adalah sebuah Ibadah Ekologis. Jika kita memandang sungai sebagai “Penjaga”, maka kita adalah “Pelayan”-nya. Pergeseran paradigma ini penting, kita bukan penguasa sungai, melainkan bagian dari aliran tersebut.

Ketika kita meletakkan rasa cinta di atas kepentingan korporasi atau pragmatisme sesaat, kita sedang membangun sebuah peradaban yang berakal budi. Alam Sumsel hanya akan tetap lestari jika manusianya mampu mendengar “bisikan” sungai yang meminta ruang untuk bernapas.

Kesimpulan, “Pulang ke Aliran”

Membangun Sumsel tanpa memuliakan Musi dan Batanghari 9 adalah seperti membangun rumah di atas pasir hisap. Intelektualitas kita diuji bukan dari seberapa besar infrastruktur yang kita bangun di bantarannya, melainkan dari seberapa bersih air yang bisa kita wariskan.

Marilah kita kembali melihat sungai bukan sebagai “halaman belakang” tempat membuang limbah, melainkan sebagai “Sajadah Panjang” tempat kita bersujud dan merawat kehidupan dengan penuh cinta.

Salam Budaya
Seni Kesadaran
RUMAH ASPIRASI BUDAYA