BERITA TERKINIHEADLINEPEMPROV SUMSEL

Australia dan Singapura “Warning” Karhutla Sumsel

×

Australia dan Singapura “Warning” Karhutla Sumsel

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Dua negara, Australia dan Singapura sudah me-warning Indonesia terkait dengan asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Negara tetangga itu tak ingin kejadian bencana asap luar biasa pada 2015 lalu kembali terjadi tahun ini dan sampai ke Australia dan Singapura.

“Australia dan Singapura sudah mulai was-was dan memberikan warning karena peningkatan jumlah asap di Sumatera salah satunya dari Sumsel. Bahkan, beberapa waktu lalu, media Singapura sudah memunculkan kekhawatiran Karhutla seperti yang terjadi pada 2015 akan terulang,” ujar Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto usai Rakor Penanganan Bencana Karhutla di Sumsel, Selasa (12/9).

Suharyanto menyebut, Sumsel menjadi salah satu dari enam provinsi yang diperingatkan BNPB. Lima daerah lain adalah Kalbar, Kalsel, Kalteng, Jambi dan Riau. Keenam provinsi katanya, sudah dilakukan peninjauan agar penanganan Karhutla optimal. “Memang ada Karhutla, tapi saya pastikan hingga hari ini asapnya belum sampai ke Singapura,” tambahnya.

Ia menyebut, jika Karhutla terus terjadi maka asap bisa menyeberang ke negara tetangga. “Kita selalu berupaya agar semakin hari di masa kemarau dan elnino ini Karhutla bisa diredam,” katanya.

Khusus di Sumsel, ia menyebut masih ada lahan yang terbakar, beberapa diantaranya sudah teratasi dan padam. “Pemadaman kita lakukan secara masif, persiapan heli water bombing juga akan kita lakukan dengan menarik unit (heli water bombing) dari daerah lain seperti Riau dan Kalbar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, TMC juga akan dilakukan di Sumsel untuk penanganan Karhutla. Saat ini, TMC masih dilakukan di Jakarta. Antisipasi lain yang akan dilakukan BNPB adalah dengan memberi batuan operasional Rp5 miliar dan perlengkapan seperti pompa tambahan 200 unit, APD, selang, tenda posko, pompa apung, alat komunikasi dan perlengkapan lainya.

“Sumsel jadi prioritas karena dari enam provinsi, lima lainnya bisa dikendalikan, hanya tinggal Sumsel. Apalagi saat ini Sumsel belum ada hujan yang bisa membasahi lahan kering,” terangnya.

Gubernur Sumsel, Herman Deru mengatakan, Karhutla di Sumsel khususnya di OKI merupakan lahan yang terbengkalai.

“Total 1,2 juta hektar lahan gambut di Sumsel, 600 ribu hektar diantaranya ada di OKI dan kebanyakan yang terbakar karena tidak terkelola. Sedangkan di Banyuasin ada 300 hektar lebih lahan gambut, tapi minim Karhutla karena sudah dikelola dengan baik,” ujarnya.

Saat ini, Sumsel belum menaikkan status dari siaga ke Tanggap Darurat karena Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Sumsel masih fluktuatif. Apalagi, klaimnya kondisi Karhutla di Sumsel sudah banyak padam.