MATTANEWS.CO, JABAR – Koordinator BEM Nusantara Jawa Barat Joni menyelenggarakan Istigosah dan Refleksi September Hitam sebagai bentuk kepedulian terhadap nilai kemanusiaan dan upaya merawat ingatan kolektif bangsa. Senin (29/09/2025).
Bulan September bukan hanya deretan tanggal dalam kalender, tetapi juga saksi atas luka kemanusiaan yang belum sepenuhnya terobati. Tragedi Semanggi II, penghilangan paksa aktivis, hingga pembunuhan Munir Said Thalib masih menjadi catatan kelam yang belum menemukan kejelasan hukum.
Melalui kegiatan ini, Koordinator BEM Nusantara Joni mengajak masyarakat untuk berintrospeksi, memperkuat iman, serta meningkatkan kesadaran spiritual. Istigosah menjadi ruang pembersihan hati, sementara refleksi September Hitam mengingatkan kembali pentingnya menegakkan demokrasi dan hak asasi manusia secara nyata,” ujur Joni.
Dalam forum refleksi, Joni sebagai koordinator BEM Nusantara Jawa Barat juga menegaskan enam tuntutan kepada pemerintah:
1. Menegakkan supremasi sipil atas kebijakan strategis negara.
2. Mendesak Presiden membentuk tim investigasi independen terkait isu makar dan keterlibatan asing.
3. Mengusut tuntas seluruh pelanggaran HAM, masa lalu maupun sekarang.
4. Menghentikan impunitas dan kriminalisasi terhadap rakyat.
5. Memeratakan infrastruktur pendidikan di daerah 3T.
6. Meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga pendidik.
Koordinator BEM Nusantara Joni menegaskan komitmennya untuk berdiri bersama rakyat, memperjuangkan keadilan, dan menolak lupa atas tragedi kemanusiaan. Mereka menyerukan agar negara hadir menuntaskan agenda penegakan HAM dan demokrasi di Indonesia.
“Refleksi September Hitam menjadi pengingat bahwa keadilan tidak boleh ditunda dan kebenaran tidak boleh dikubur oleh kepentingan politik. Sejarah, pada akhirnya, hanya berpihak kepada mereka yang berani memperjuangkannya,” tandasnya.














