MATTANEWS.CO, SUMSEL – Elly Supriati, 40 tahun, warga Jalan Sudirman KM 6 Prabumulih terlihat sibuk mengisi galon kosong dengan air yang berada didalam lemari kaca. Lemari itu ternyata sudah terpasang instalasi isu ulang air yang terkoneksi ke saluran air minum dari tangki utama penyimpanan.
Meski terik matahari menyengat, semangat Elly mengangkat galon-galon yang sudah diisi untuk dirapikan berbaris di depan depot isi ulang air minumnya tetap membara. Walau seorang wanita paruh baya, Elly tidak takut merasa lelah.
Selain jadi ibu rumah tangga, dakam kesehariannya menjalani rutinitas sebagai pengusaha air minum isi ulang di Kota Nanas tersebut. Usahanya itu tidak dijalani sendiri, melainkan ada seorang karyawan yang dipekerjakannya untuk menjemput dan mengantar air minum isi ulang ke rumah pelanggan.
Usaha kecil milik Elly ini sudah berjalan sejak 2011 lalu. Sampai sekarang masih berdiri. Berbagai suka dan duka sudah dihadapi Elly selama ini, termasuk saat pandemi Covid-19 terjadi di 2020 lalu. “Selama ini Alhamdulillah usaha yang saya jalani lancar dan menguntungkan,” jelasnya, Kamis (29/4).
Namun saat pandemi terjadi, Elly mengaku seakan mendapat ujian berat. Meski masih banyak pelanggan yang tetap membeli air isi ulang di depotnya itu, namun diakui Elly jumlahnya berkurang dari biasanya.
“Apalagi memang waktu penerapan PSBB saat itu, benar-benar terasa. Kita tetap harus membeli air minum dari produsen di Palembang, gaji karyawan harus dibayar, biaya operasional depot juga harus dilunasi. Sementara saat PSBB, jumlah pesanan air isi ulang alami penurunan,” kata dia.
Belum lagi, sebagai ibu dari 4 orang anak, ia harus membagi waktu dan pengelolaan uang antara usaha dan keluarga. Kebutuhan hidup anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah harus ditanggungnya.
“Sempat kebingungan kekurangan modal untuk usaha. Disarankan kakak kandungku, untuk pinjam dana di bank agar operasional usaha isi ulang air galon tetap lancar berjalan, tapi hitung-hitungan bunga yang sangat besar,” kata dia.

Namun Lilis, sahabatnya, memberikan masukan untuk mengajukan kredit di Pegadaian. Sebab Elly tidak memiliki mobil untuk digadaikan, melainkan hanya memiliki simpanan emas yang disimpannya selama ini.
Setelah mencari tahu mengenai kredit di Pegadaian melalui situs Pegadaian.co.id, Elly pun memberanikan diri untuk datang langsung ke kantor cabang Pegadaian di Prabumulih. “Pada pertengahan tahun lalu, saya bawa sekitar 4 suku emas ke kantor Pegadaian. Bukan mau gadai emas yang biasa, saya mau ambil program kredit dengan angsuran bulanan (Krasida), sebab antisipasi jika pandemi terus terjadi setidaknya saya ada suntikan modal, namun gadaian emas tetap aman dan bisa ditebus dengan pembayaran cicilan bulanan,” ungkap Elly.
Dari transaksi tersebut, Elly mendapat sekitar Rp15 juta. Ia pun mempergunakan uang itu untuk perputaran modal dan operasional depot isi ulang air minum miliknya. Menariknya, kata Elly, di Pegadaian dirinya bisa mencicil tagihan hingga 12 bulan dimana sewa modalnya (bunga) sangat kecil dibanding bank dan pinjaman lain.
“Alasannya saya pakai Pegadaian itu, sewa modalnya kecil sekali, hanya 1,25 persen saja. Jadi tidak sebesar bunga di bank-bank lain,” kata Elly.
Dengan modal yang telah diberikan itu, ia pun bisa kembali mengoperasionalkan depot isi ulang air minumnya hingga saat ini, dan bertahan meski pandemi masih terjadi.
Hampir serupa dengan Elly, Hartono atau akrab disapa Aan, pemilik usaha kuliner sate madura di Jalan Sukarela Kecamatan Sukarami Palembang pun juga menggunakan jasa pegadaian untuk menambah modal usahanya.
Ia membutuhkan suntikan modal untuk memperpanjang biaya sewa kontrakan tempat usahanya dan juga untuk perputaran kebutuhan usaha sate tersebut. “Kita kemarin ada kekurangan untuk biaya sewa kontrakan, kita hanya ada simpanan emas 2 suku. Dan saat mengajukan kredit di Pegadaian pada akhir tahun lalu, kita dapat pinjaman sekitar 5 juta,” kata dia.

Namun ia tidak ingin berlama-lama waktu kredit, sehingga hanya mengambil pinjaman selama 6 bulan saja. “Kami sudah pernah pinjam uang di salah satu finance, sayang bunganya besar sekali dan pengajuannya lama. Itu seakan jadi cambuk bagi kami untuk tidak lagi terjerat dengan lembaga keuangan bukan finance seperti itu. Sama halnya pinjam uang dengan rentenir,” kata dia.
Ayah dari satu anak itu pun mengungkapkan, melakukan pinjaman di Pegadaian tidak butuh waktu lama dalam prosesnya. Setelah perhiasan emas ditaksir, ia langsung mendapatkan uangnya. “Cepat sekali prosesnya, ada biaya administrasinya tapi sangat ringan. Setelah dapat pinjaman, bisnis sate saya bisa terus berjalan. Ini jadi berkah lagi untuk saya hidupkan bisnis ini demi kesejahteraan keluarga saya,” ungkap Aan.
Gencarkan Kredit Ultra Mikro
Pandemi Covid-19 memberikan dampak pada semua sektor perekonomian di Tanah Air. Termasuk usaha mikro, kecil dan menengah pun terkena imbasnya. Tidak sedikit, UMKM di Indonesia gulung tikar hingga merugi akibat hal itu. Hal inilah juga yang membuat PT Pegadaian tetap konsisten menempatkan keberadaannya ditengah masyarakat, demi membantu UMKM agar terus bertahan menghadapi pandemi.
Tentunya, hal itu tergambar dari adanya berbagai produk dan program dari Pegadaian yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menegakkan kembali pondasi bisnisnya. “Pegadaian sudah berkontribusi dalam peningkatan perekonomian masyarakat. Kami siap layani masyarakat baik penyediaan modal kerja UMKM, ataupun masyarakat yang ingin berinvestasi atau yang ingin memberikan hadiah di lebaran nanti,” kata Julianto, Pimpinan PT Pegadaian (Persero) Kantor Wilayah III Palembang, belum lama ini.
Ia menjelaskan, produk yang dimiliki semuanya mengarah dan dapat digunakan untuk meningkatkan kembali gairah ekonomi bagi sektor UMKM. Adapun produk tersebut diantaranya yakni Kreasi, yakni pemberian kredit dengan angsuran bulanan yang diberikan kepada pelaku UMKM untuk pengembangan usaha dengan sistem fidusia menggunakan barang jaminan berupa BPKB kendaraan bermotor.
Kemudian ada Krasida yakni kredit sistem gadai kepada semua golongan nasabah untuk kebutuhan produktif maupun konsumtif menggunakan jaminan emas, baik emas batangan maupun perhiasan dengan sistem pembayaran angsuran bulanan. “Semua produk kita ini fokus untuk memberikan solusi terpercaya untuk mendapatkan fasilitas kredit yang cepat, mudah, dan murah,” kata dia.
Kanwil III Palembang sendiri mencatat hingga pertengahan April kemarin, pihaknya sudah menyalurkan kredit untuk Kreasi sebesar Rp310 miliar. Rencananya ditarget penyaluran kredit sendiri bisa melampaui Rp400 miliar di tahun ini.

“Wilayah kita membawahi Sumsel, Jambi, Lampung, Bangka dan Belitung. Kita yakin di akhir tahun ini bisa tembus hingga Rp400 miliar,” kata dia.
Diakui Julianto, semua fasilitas kredit yang dimiliki Pegadaian tidak akan menyulitkan masyarakat, sebab bukan hanya proses yang mudah dan biaya administrasi yang ringan, sewa modal yang diberikan pun sangat rendah.
“Kita berbeda dengan lembaga keuangan lainnya, sewa modal kita sangat rendah. Inilah yang menjadi kekuatan kita, karena kita tidak hanya fokus pada bisnis melainkan juga value bagi masyarakat,” jelasnya.
Di tahun ini, kata dia, sudah banyak UMKM yang bangkit setelah terpuruk akibat pandemi di tahun lalu. Ini juga yang menjadi semangat Pegadaian untuk tetap bisa mendampingi masyarakat dan pelaku UMKM.
“Sebenarnya memang pada 2020 kemarin banyak nasabah yang mengalami kendala dalam mengembangkan usahanya tapi saat itu kita punya kebijakan relaksasi. Dan alhamdulillah, dengan prorgram itu, UMKM bisa bernafas lega dan mulai bangkit,” jelasnya.
Di wilayah kerjanya sendiri, Julianto mengungkapkan, UMKM yang mengambil program kredit rata-rata berasal dari sektor perdagangan, sembako, pakaian, dan sebagainya. “Sektor pertanian dan perikanan memang masih kecil, tapi ini yang akan kita kembangkan selanjutnya,” pungkasnya.














