MATTANEWS.CO – Di sudut warung kopi yang mulai ramai menjelang siang, Hasan (50) menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya. Angka biaya haji tahun ini kembali beredar di berbagai grup percakapan. Angka yang baginya bukan sekadar informasi, tetapi sesuatu yang harus ia ukur dengan kemampuan hidupnya.
Ia menghela napas pelan.
“Kalau naik terus, kami yang nunggu ini makin jauh rasanya,” katanya.
Hasan bukan baru mulai menabung. Ia sudah melakukannya lebih dari delapan tahun. Bahkan beberapa tahun lalu, ia sempat hampir gagal menyetor setoran awal.
Saat itu, penghasilannya sebagai pekerja harian menurun drastis. Tabungan yang ia kumpulkan perlahan terpakai untuk kebutuhan rumah tangga. Ketika kesempatan setor datang, ia harus memilih menunda atau memaksakan diri.
“Saya sampai pinjam saudara waktu itu, supaya bisa tetap masuk daftar tunggu,” ujarnya.
Ia berhasil. Namanya kini tercatat. Tetapi sejak saat itu, setiap perubahan biaya bukan sekadar angka melainkan bayangan tentang apakah ia akan mampu bertahan sampai hari keberangkatan tiba.
Untuk tahun 2026, pemerintah menetapkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) rata-rata sekitar Rp87 juta. Jamaah hanya membayar sekitar Rp54 juta, sementara sisanya ditopang oleh nilai manfaat dari pengelolaan dana haji.
Jika ditarik ke belakang, tren biaya ini memang tidak sepenuhnya stabil. Pada 2023, biaya haji berada di kisaran Rp69 juta yang dibayar jamaah, kemudian meningkat pada 2024 menjadi sekitar Rp93 juta untuk total biaya penyelenggaraan, dan kini berada di kisaran Rp87 juta pada 2026.
Kenaikan komponen biaya dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya tekanan yang nyata. Dalam rentang 2023 hingga 2026, terjadi peningkatan signifikan pada struktur pembiayaan, terutama akibat kenaikan biaya layanan di Arab Saudi dan fluktuasi nilai tukar.
Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, menegaskan bahwa nilai manfaat menjadi penopang penting dalam menjaga keseimbangan tersebut.
“Nilai manfaat dari pengelolaan dana haji menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pembiayaan haji agar tetap terjangkau,” ujarnya.
Namun di balik skema itu, muncul pertanyaan yang tidak sederhana.
Seberapa jauh nilai manfaat bisa terus menopang biaya tanpa mengganggu keberlanjutan dana?
Pemerintah melalui Kementerian Agama menegaskan bahwa biaya haji disusun berdasarkan kebutuhan riil di lapangan.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief, menjelaskan bahwa komponen biaya terus mengalami penyesuaian.
“Biaya haji disusun berdasarkan komponen riil, mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga transportasi, yang seluruhnya mengalami penyesuaian setiap tahun,” ujarnya.
Penyesuaian itu tidak terjadi dalam ruang kosong. Biaya layanan di Arab Saudi meningkat, standar pelayanan berubah, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus berfluktuasi.
Namun bagi Hasan, semua penjelasan itu tetap bermuara pada satu hal.
“Yang penting jangan sampai makin berat,” katanya.
Di sinilah perdebatan menjadi lebih dalam.
Pengamat ekonomi syariah, Yusuf Wibisono, menilai bahwa penggunaan nilai manfaat memang diperlukan, tetapi harus dijaga dengan sangat hati-hati.
“Pemanfaatan nilai manfaat perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menggerus prinsip keberlanjutan dana haji dalam jangka panjang,” ujarnya.
Menurutnya, dana haji adalah amanah lintas generasi. Apa yang digunakan hari ini akan berdampak pada mereka yang masih menunggu di masa depan.
Pernyataan ini menempatkan kebijakan pembiayaan haji dalam posisi yang tidak mudah.
Di satu sisi, ada jutaan calon jamaah yang membutuhkan keterjangkauan hari ini. Di sisi lain, ada kewajiban menjaga dana agar tetap cukup untuk generasi berikutnya.
Anggota Dewan Pengawas BPKH, Mulyadi, menegaskan bahwa keseimbangan tersebut harus tetap dijaga.
“Optimalisasi nilai manfaat penting, namun tidak boleh mengabaikan tujuan utama, yaitu pelayanan kepada jemaah,” ujarnya.
Namun bagi masyarakat seperti Hasan, dilema itu tidak selalu terasa dalam bentuk teori.
Ia hanya tahu satu hal: perjuangannya belum selesai.
Menjelang siang, ia berdiri dari kursinya. Kopinya sudah dingin, tetapi pikirannya masih hangat oleh angka-angka yang baru saja ia lihat.
Ia memasukkan ponselnya ke saku, lalu bersiap kembali bekerja.
“Saya cuma berharap, jangan sampai kami yang sudah berjuang dari nol ini akhirnya tidak sampai,” katanya pelan.
Kalimat itu menggantung.
Bukan sekadar harapan, tetapi juga peringatan.
Bahwa di balik setiap angka biaya haji, ada cerita tentang orang-orang yang menahan kebutuhan, meminjam uang, dan menyusun hidupnya pelan-pelan demi satu tujuan.
Jika keterjangkauan hari ini tidak dijaga, mereka bisa tertinggal.
Jika keberlanjutan tidak diperhitungkan, generasi berikutnya bisa kehilangan kesempatan.
Dan jika keduanya gagal dijaga, maka yang hilang bukan hanya keseimbangan angka tetapi kepercayaan.














