BERITA TERKINIPENDIDIKANSeni dan Budaya

BigBang Indonesia Ajak Musisi, Penari, Teater, Sastrawan Majukan Seni Budaya Kota Palembang

×

BigBang Indonesia Ajak Musisi, Penari, Teater, Sastrawan Majukan Seni Budaya Kota Palembang

Sebarkan artikel ini

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Klik Disini Untuk Mendengarkan Berita”]

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – BigBang Indonesia mengajak pelaku seni budaya, musisi, sastrawan, pelaku teater dan tari berdiskusi dalam menyatukan pemikiran, guna kemajuan seni dan budaya di Kota Palembang, di Cafe dan Resto Dapur Cinta, Kelurahan 13 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 2, Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (15/6/2021).

Dalam diskusi BigBang Indonesia, Fadhil Indra mengatakan, fakta sejarah sudah ada, jadi tidak ada alasan bagi siapapun untuk mengabaikan segala potensi inspirasi, yang bisa dijadikan sebuah karya. Apalagi dimasa digitalisasi yang semuanya bisa digenggam dengan tangan.

Sebagai pemantik dalam diskusi, BigBang Indonesia menghadirkan Budayawan Sumsel, Herwan Surya Negara, Musisi Us Gillent, Musisi millenial Chandra, M Fitriansyah, Qusoi dan Yudi.

Budayawan Sumsel, Herwan Surya Negara menuturkan, gagasan ‘NamBlas PAS’ harus didukung penuh demi kemajuan serta sebagai wadah para penggiat seni musik di Kota Palembang, sementara Palembang memiliki dua makna, yaitu Palembang hari ini dan Palembang dalam arti luas.

“Palembang hari ini seperti yang kita lihat, dimana Palembang adalah Kota Madya sebagai Ibu Kota Sumsel. Sedangkan, Palembang dalam arti luas memiliki arti, bahwa Palembang merupakan icon dari berbagai keberagaman dari Provinsi Sumsel,” bebernya.

Menurut Herwan, poin penting gagasan dalam menduniakan seni musik dan budaya, harus dilandasi dengan semangat serta dorongan yang serius. Selain itu, dengan dimulai deklarasi BigBang Indonesia, para pelaku seni dan budaya harus konsisten,pada setiap momentum 16 Juni.

Musisi lokal Palembang, US Gillent berharap, setelah agenda ini bagaimana kedepannya mengupayakan para musisi dan pekerja seni yang masih banyak memprihatinkan, agar mendapatkan sebuah perhatian atas karyanya.

“Bagaimana kedepannya, para pelaku seni dan budaya bisa sejahtera. Sehingga, ia akan terus berkarya,” ungkapnya.

Pandangan dari musisi millenial, Candra mengucapkan rumusan 16 yang sakral dijadikan sebuah poin mencangkup Budaya Palembang. Ia berharap, sebagai musisi bisa mendaptkan arahan dari generasi senior tentang seni dan budaya khas Palembang.

“Banyak anak muda baik dibidang musik, budaya maupun adat istiadat tidak memahami tentang sejarah. Maka dari itu, kami berharap dapat bimbingan yang berskala,” jelasnya.

Sementara, M Fitriansyah perwakilan dari Kawan Lamo mengatakan, gagasan BigBang Indonesia untuk membuat konsep ‘NamBlas PAS’ merupakan ide besar. Menurutnya, banyak musisi muda saat ini kurang dalam wawasan sejarah.

“Saya juga berharap untuk para pelaku seni dan budaya agar lebih bijak dan memiliki jiwa besar, sehingga ke depannya BigBang Indonesia bisa mendunia. Sebab, untuk saat ini banyak musisi dan seniman tidak memahami sejarah tentang Budaya Palembang. Dari itu, perlunya dilakukan investigasi tentang musik Palembang,” ujar pria yang kerap disapa Mpit ini

Perwakilan dari Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Palembang, Yudi menjelaskan berbicara tentang musik, memang seharusnya merujuk dari sejarah. Namun sebagai pemusik yang terlibat dengan budaya, masih banyak yang bingung tentang budaya asal Kota Palembang seperti apa.

“Alkuturasi budaya di Palembang sangatlah besar, ada Arab, China, India dan yang paling besar adalah melayu. Disini juga musisi berusaha untuk mengakultuarsikan budaya dengan benar melalui konsep Palembang sebenarnya,” katanya.

Pemantik terakhir, Sekretaris Jendral (Sekjend) Dewan Kesenian Palembang (DKP), Qusoi mengatakan, permasalahan lainnya datang dari kurangnya perhatian dari pemerintah. Sehingga, banyaknya musisi ataupun seniman yang berkualitas yang meninggalkan profesi demi nafkah.

“Semoga dengan adanya deklarasi ‘NamBlas PAS’ mampu membakar semangat baru bagi musisi, seniman dan budayawan,” jelasnya.

Diakhir diskusi, mendekati detik-detik HUT Kota Palembang ke-1338, BigBang Indonesia secara resmi mendeklarasilan ‘NamBlas PAS’ dengan konsep semua lampu dilokasi dipadamkan, kemudian terdapat 16 tamu undangan memegang lilin sehingga membuat acara nampak hikmat.

Dalam hitungan mundur dari angka 16, masing-masing lilin dihidupkan dengan teriakan berhitung mundur satu-persatu dari tamu undangan. Tepat pada hitungan 0, dilanjutkan dengan doa, kemudian disusul dengan pembacaan puisi dari Jaid Saidi yang berjudul ‘Lewat Hari Ini’. Diakhir rangkaian deklarasi semua peserta menyanyikan lagu wajib nasional ‘Indonesia Raya’.