BERITA TERKINI

Bocah 4 Tahun di Ogan Ilir Idap Tumor Wajah Butuh Uluran Tangan

×

Bocah 4 Tahun di Ogan Ilir Idap Tumor Wajah Butuh Uluran Tangan

Sebarkan artikel ini

Reporter : Salifuddn

OGAN ILIR, Mattanews.co – Elza Putra Sanjaya (4), hanya terbaring di tempat tidurnya dengan didampingi kedua orangtuanya.

Bocah asal Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan (Sumsel) tersebut, mengalami pembengkakan di wajah sebelah kirinya.

Menurut Zuhdi, orangtua Elza, putra mereka didiagnosa dokter mengidap tumor.

“Kata dokter di Palembang, anak saya kena tumor wajah,” ujar Zuhdi (49 tahun), Ayahanda Elza saat ditemui di kediamannya di Desa Tanjung Harapan, Jum’at (18/12/2020).

Tumor wajah yang dialami Elza itu, berawal dari tumbuhnya benjolan sebesar kelereng di wajah kiri putra pertamanya itu.

Begitu Elza bangun tidur, kata Zuhdi, benjolan itu tiba-tiba muncul dan semula dianggap hanya benjolan biasa.

“Waktu itu sekitar akhir April atau pas mau bulan puasa. Anak saya benjol kecil di pipinya. Kami kira biasa karena digigit semut atau digigit serangga atau apa. Biasalah namanya tinggal di kampung di tengah kebun,” kata Zuhdi.

Meski awalnya menganggap itu hal biasa, Zuhdi dan istrinya Junita (39) lama-lama curiga benjolan tersebut tak kunjung hilang.

Bahkan tiga bulan kemudian, Elza mengeluh kesakitan di area pipi kirinya. Kedua orang tuanya lalu membawa Elza ke Puskemas terdekat, juga ke klinik kesehatan yang ada di Tanjung Raja.

“Anak saya selama dua bulan kesakitan. Tidak bisa tidur nyenyak, makan kurang nafsu karena nyeri di pipi. Benjolan juga makin besar,” ungkap Zuhdi.

Pada awal bulan September 2020 lalu, Zuhdi dan istrinya memutuskan membawa Elza ke rumah sakit di Palembang untuk mengobati benjolan di wajahnya.

Tujuan pertama yakni Rumah Sakit A.K. Gani Palembang, namun pihak rumah sakit tak sanggup menangani Elza.

Begitu dibawa ke Rumah Sakit Muhammad Hoesin (RSMH) palembang, Elza menjalani serangkaian tes termasuk rapid test. Hingga dilakukan tindakan medis satu bulan kemudian.

Editor : Belgium