MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Aula Gedung Pelayanan Satu Atap Putussibau mendadak senyap. Kamis (17/9/2026) pagi itu, 111 pria dan wanita berdiri tegak, mengepalkan tangan, mengucapkan sumpah jabatan. Di hadapan Bupati Kapuas Hulu, Fransiskus Diaan, S.H., M.H., mereka resmi berubah status – dari calon terpilih menjadi pemimpin definitif di desanya masing-masing.
Inilah puncak dari pesta demokrasi terbesar di tingkat akar rumput Kabupaten Kapuas Hulu tahun ini. Pilkades serentak di 111 desa yang selama berbulan-bulan menyedot perhatian, menguras emosi, dan menguji kedewasaan masyarakat, akhirnya mencapai garis akhir.
Pelantikan akbar ini bukan sekadar seremoni. Daftar tamu yang hadir menunjukkan betapa strategisnya momentum ini.
Dalam sambutannya yang penuh penekanan, Bupati Fransiskus Diaan tidak langsung memberi selamat. Ia terlebih dahulu mengajak semua yang hadir menarik napas lega.
Ia menyebut, pelaksanaan Pilkades serentak di 111 desa adalah bukti nyata bahwa demokrasi di Kapuas Hulu telah matang. Tahapan yang panjang dan rawan konflik – mulai dari persiapan, pencalonan, pemungutan suara yang menegangkan, hingga penetapan – berhasil dilewati dengan lancar, aman, dan damai.
“Ini bukan kerja satu orang. Ini adalah hasil kerja bersama. Terima kasih kepada pemerintah daerah, TNI, Polri yang menjaga keamanan, panitia pelaksana di semua tingkatan, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, stakeholder terkait, dan yang paling utama, seluruh masyarakat Kapuas Hulu yang telah menggunakan hak demokrasinya dengan bijak,” ujar Bupati dengan nada tegas.
Tak lupa, Bupati memberikan penghormatan khusus kepada para Penjabat Kepala Desa. Menurutnya, mereka adalah pahlawan transisi yang telah menjaga agar roda pemerintahan, pelayanan, dan pembangunan desa tidak lumpuh selama kekosongan jabatan.
Kemudian, suasana berubah lebih serius. Bupati menatap satu per satu wajah 111 Kades yang baru dilantik.
“Selamat. Hari ini saudara-saudara resmi dilantik. Tapi ingat, pelantikan ini bukanlah garis finish. Ini justru adalah garis start. Ini adalah awal dari amanah besar yang sangat berat yang harus saudara pikul di atas pundak saudara selama 6 tahun ke depan,” tegasnya.
Pesan pertama yang paling keras ia sampaikan adalah tentang persatuan.
Bupati meminta agar semua Kades segera menjadi juru damai di desanya masing-masing. Ia meminta mereka untuk meruntuhkan sekat-sekat politik yang terbentuk selama Pilkades.
“Saya minta, begitu pulang dari sini, segera rangkul semua masyarakat. Tidak ada lagi pendukung nomor 1, nomor 2, nomor 3. Tidak ada lagi kubu-kubuan. Pilkades sudah selesai. Yang ada sekarang hanya satu kubu, yaitu kubu membangun desa. Satukan kembali masyarakat, bangun kebersamaan,” perintahnya.
Pesan kedua menyangkut tata kelola pemerintahan. Bupati menekankan pentingnya membangun jembatan koordinasi. Seorang Kades tidak bisa bekerja sendiri. Ia harus mampu bersinergi dengan BPD, tokoh masyarakat, dan yang terpenting, memperkuat koordinasi dengan pemerintah di tingkat atas – Kecamatan, Kabupaten, hingga Provinsi – agar perencanaan pembangunan sinkron dan pelayanan kepada masyarakat menjadi efektif.
Lalu, Bupati masuk ke dua isu paling sensitif yang sering menjerat kepala desa.
Tentang Dana Desa, Bupati tidak memberi ampun. Ia mengingatkan dengan kalimat yang lugas dan jelas.
“Kelola Dana Desa secara bertanggung jawab, transparan, dan akuntabel. Setiap rupiah uang negara harus jelas peruntukannya untuk kesejahteraan masyarakat. Jangan main-main. Saya tidak ingin ada Kepala Desa di Kapuas Hulu yang berurusan dengan hukum hanya karena salah mengelola Dana Desa,” katanya.
Tentang Perangkat Desa, Bupati juga mengingatkan agar tidak terjadi balas dendam politik. Pengangkatan dan pemberhentian perangkat desa harus mengikuti aturan dan mekanisme yang berlaku, melalui proses penjaringan dan penyaringan yang objektif.
“Tujuannya hanya satu mendapatkan perangkat yang memiliki etos kerja baik, profesional, dan mampu bekerja, bukan karena kedekatan atau tim sukses, “tuturnya.
Diakhir sambutannya, Bupati menyampaikan peringatan dini yang bersifat kemanusiaan. Menghadapi prediksi BMKG tentang potensi musim kemarau panjang yang akan berlangsung hingga awal tahun 2027, ia meminta 111 Kades menjadi komandan terdepan di wilayahnya.
Ia meminta para Kades meningkatkan kewaspadaan bersama masyarakat terhadap ancaman kebakaran hutan, lahan, dan yang sering terlupakan – kebakaran permukiman.
Kewaspadaan ini, kata Bupati, adalah kunci untuk mencegah kerugian material yang tidak ternilai dan yang paling penting, mencegah jatuhnya korban jiwa.
Pelantikan 111 Kepala Desa ini pun usai. Namun gaungnya baru dimulai. Dari aula inilah, harapan baru untuk 111 desa di ujung timur Kalimantan Barat itu dipancangkan.
“Harapan akan hadirnya pemimpin desa yang tidak hanya menang dalam pemilihan, tetapi juga menang dalam melayani, menang dalam membangun, dan menang dalam menjaga persatuan – dengan kepemimpinan yang bertanggung jawab, transparan, dan profesional, “pungkasnya mengakhiri. (*)














