MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Bupati Tulungagung Drs.Maryoto Birowo bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menghadiri sosialisasi dan pengukuhan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) bertempat di Resto Winna Joglo Kecamatan Kedungwaru, Kamis (14/10/2021).
Dalam sambutanya, Bupati Tulungagung Drs. Maryoto Birowo mengatakan bencana merupakan tanggungjawab bersama dan membutuhkan kerjasama semua pihak dalam menanganinya.
Sesuai Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana dapat dilakukan dalam situasi tidak terjadi bencana maupun tidak bencana salah satunya adalah pengurangan risiko bencana.
“Jadi begini, sesuai PP No 21 Tahun 2008 sudah sangat jelas mitigasi bencana upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana,” kata Maryoto.
Masih Maryoto melanjutkan, dalam pelaksanaan penanggulangan bencana di Kabupaten Tulungagung mengikuti arahan sistem dari Pemerintah Pusat.
Berdasar kajian, tanggap darurat menjadi pengurangan resiko berdasarkan kajian tahun 2019-2023 dalam upaya pengurangan resiko bencana perlu keterlibatan berbagai pihak termasuk masyarakat sehingga pengurangan resiko bencana dapat berjalan efektif dan efisien.
“Maka, dengan konsep Pentahelix suatu konsep dengan sinergitas peran pemerintah, masyarakat sektor bisnis, investor, peneliti akademisi dan media bisa berjalan dengan baik secara gotong royong tanpa pamrih, tulus ikhlas,” lanjutnya.
“Dengan kita kukuhkan forum ini pengurangan resiko dan dimana alam geografis demikian jika terjadi bencana kita sudah siap,” imbuhnya.
Suatu ide untuk mengurangi risiko bencana, Maryoto menjelaskan maka dibentuk forum ini semoga dapat berkontribusi dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana terutama pada pengurangan risiko bencana.
Sehingga tercipta daerah tangguh dengan masyarakat berdikari dan dapat mandiri mampu bangkit sehingga menuju kehidupan normal.
Bupati Tulungagung mengharapkan dengan dibentuknya forum ini sebagai perwujudan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana.
Kedua, akan menjadi mitra Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung dalam penanggulangan risiko bencana tentu saja melalui program kegiatan, harus memastikan mobilisasi sumber daya yang efektif kerjasama dan kesiapsiagaan tanggap bencana yang efektif.
“Yang ini semua ini sebagai forum menjadi inisiator terbentuk relawan bersama BPPD dan mitra lainnya serta pendampingan,” harapnya.
“Serta dapat menumbuhkan iklim sadar bencana yang memungkinkan untuk mengembangkan budaya kesadaran publik dan pencegahan,” tutupnya.
Tempat sama, Kepala BPBD Kabupaten Tulungagung Suroto melalui Kepala Bidang Pencegahan Dedi Eka Purnama menyampaikan hal serupa kegiatan sosialisasi dan pengukuhan FPRB sebagai wujud peran serta masyarakat dalam berperan serta dalam penanggulangan bencana.
“Jadi begini, selama ini di Tulungagung belum ada wadah untuk para relawan, maka dengan sosialisasi dan pengukuhan ini guna mempersatukan seluruh relawan,” katanya.
“Nantinya berfungsi sebagai mitra BPBD Tulungagung turut membantu dalam mensosialisasikan kepada masyarakat terkait bencana,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, dalam sosialisasi dan pengukuhan ini diikuti 54 relawan tersebar di seluruh Tulungagung.
“Baru sebagian, mungkin masih ada relawan yang belum bergabung dalam FPRB bisa kita tampung,” terangnya.
“Perlu kita garis bawahi, ini pengukuhan bukan fungsionarisnya tetapi pengukuhan wadah FPRB tersebut,” imbuhnya.
Kata Dedi, di Kabupaten Tulungagung sudah ada 8 Desa Tangguh Bencana yang sudah terbentuk.
“Indikator sebagai Desa Tangguh Bencana salah satunya sudah terbentuk Forum tersebut,” terangnya.














