[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Klik Disini Untuk Mendengarkan Berita”]
MATTANEWS.CO, SAROLANGUN – Tambang batubara yang berada di Desa Talang Serdang, Kabupaten Sarolangun Jambi, tidak ubahnya seperti buah simalakama.
Di satu sisi, keberadaan tambang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pendapatan devisa negara dan daerah penghasil melalui pajak pertambangan dan royalti. Serta penyerapan tenaga kerja guna mengatasi angka pengangguran.
Namun di sisi lain, keberadaan perusahaan tambang batubara berdampak buruk pada lingkungan.
Seperti di lokasi PT SBP, yang diduga dam air sungai jebol akibat lubang batubara terlalu dekat dengan aliran Sungai Batang Tembesi.
Tepatnya di Sungai Ketalo Desa Talang Serdang Kabupaten Sarolangun Jambi.
Ketua Lembaga Swadaya Maayrakat (LSM) Sapurata Mirza mengatakan, dari informasi rekannya, jika Sungai Ketalo sering jebol.
Dan pada hari Sabtu (13/3/2021) lalu, dia langsung mengkroscek informasi itu, dengan langsung mendatangi lokasi.
“Ternyata benar, ini yang ke sekian kalinya dam tersebut jebol. Sehingga air sungai mudah masuk dan begitu pun sebaliknya,” ucapnya, Senin (15/3/2021).
Lantaran dam tersebut dekat sekali dengan galian batu bara dengan sungai, dia menyaksikan langsung jarak antara sungai dengan lubang galian batu bara begitu dekat.
Menurutnya, jarak Sungai Ketalo dengan lubang galian batu bara tersebut sekitar 20 meter.
“Yang seharus 100 meter lebih, karena untuk pertahanan dan kekuatan arus air sungai. Kalau jaraknya 20 meter, wajarlah dam tersebut jebol. Karena terlalu dekat dengan Sungai Ketalo lubang galian batu bara tersebut,” ujarnya.
Dia meminta kepada pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sarolangun, untuk croscek ulang ke PT SBP tersebut.
Karena jarak sungai dengan ljbang galian batubara, lanjutnya, diduga terlalu dekat.
Dia mengharapkan untuk menegakkan Undang-Undang (UU) No. 03 tahun 2020, tentang perubahan atas UU nomor 04 tahun 2009.
Yaitu tentang pertambangan minerba dan perusahaan tersebut akan di cabut perizinannya
“Insyaallah kami melaporkan permasalahan ini ke DLH Kabupaten Sarolangun,” katanya.














