MATTANEWS.CO, MALANG – J99 People Humanity Squad merupakan gabungan dari business unit J99 Corps mengirim bantuan untuk korban erupsi Gunung Semeru yang berada di Lumajang Jawa Timur.
Dalam misi kemanusiaan tersebut diikoordinir oleh PT KCI, BU yang ikut serta antara lain MS Glow, MS Glow Aesthetic Clinic, Kosmetika Global Indonesia, Juragan 99 Garment, Juwara Solution Global, J99 Trans, Jiwater, J99 Foundation dan kliktimes.com.
Pengiriman bantuan tersebut terdiri dari 10 armada mobil dan satu truk berisi muatan bantuan bergerak dari kantor PT Kosmetika Cantik Indonesia di Jalan Komud Abd Saleh Pakis Kabupaten Malang.
Hal tersebut disampaikan oleh Rulli Iwansyah selaku General Affairs and CSR Supervisor MS Glow mem-briefing para J99 People yang turut dalam kegiatan itu, kemudian Ustadz Alfan mengajak berdoa bersama sebelum berangkat.
“Semangat selalu, semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi berkah dan bermanfaat untuk warga yang terkena musibah, sampai hari ini debu-debu Semeru masih menjadi duka bagi mereka,” ujar Ruli, Kamis (28/11/2025).
J99 People Humanity Squad, mengirimkan bantuan antara lain kebutuhan memasak di dapur umum seperti penyedap rasa, kopi bubuk, teh, kopi curah, energen. Lauk pauk berupa daging, tahu tempe, ayam, nugget, alat makan, seperti piring plastik, kertas minyak, sendok plastik.
Selain itu, tim juga membawa tas kresek warna merah, trash bag hitam, obat – obatan : minyak kayu putih, koyo, kapas, obat tetes mata, vitamin untuk para relawan, beras, minyak goreng.
Bahkan, tim juga membawakan peralatan yang sangat penting yaitu alat tulis sekolah, peralatan mandi, air mineral (jiwater) untuk korban bencana, busana muslim untuk anak – anak, baju koko dan gamis perempuan, tas anak sekolah.
Setelah perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya tim sampai di Sekolah Darurat SDN Supiturang 02, di tempat itu siswa dan guru menjalani belajar mengajar di tenda. Ada Sembilan guru dan 94 siswa yang belajar di lahan milik Ketua RT 14 Dusun Sumbersari Desa Supiturang Kecamatan Pronojiwo.
“Siswa belajar mulai jam 7 sampai 10. Senin (1/12) nanti akan simulasi pembelajaran yang tanpa ada sela kegiatan apapun mulai jam 07.00 – 09.30,” terang Guru Kelas 5 Haryono.
Ia menerangkan dari 94 siswa, 30 siswa merupakan korban langsung erupsi yang rumahnya rata tanah semua. Para siswa belajar di dua tenda dengan ukuran 6×12 meter. Setiap tenda disekat jadi tiga, dibagi masing-masing kelas.
Dari sekolah darurat, tim kemudian bergerak langsung ke lokasi bencana yang berjarak sekitar 1,5 km. Di sana J99 People Humanity Squad menyaksikan langsung rumah warga yang rata tanah. Sekaligus melihat perjuangan warga yang tengah membersihkan sisa barang yang tersisa dari sebagian rumah yang masih ada.
Selanjutnya l, Tim menuju Desa Supiturang yang sebagian besar rumah rata tanah alias hilang sama sekali. Sebuah musola bahkan tinggal tersisa pengimamannya saja. Ada satu musola bahkan yang tersisa hanya separuh dari pengimamannya saja. Padahal ini adalah rumah ibadah yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah-rumah yang tidak terlanda banjir lahar.
“Rumah saya rata tanah, Ketika erupsi terjadi pukul 16.00 WIB, saya dan warga sekitar pukul 15.00 WIB sudah mengungsi ke Desa Oro-Oro Ombo, sampai sekarang ada disana, kalau pagi kami kesini untuk bersih-bersih,” tuturnya.
Selain Maisaroh ada juga Kiptiyah yang mengaku dua jam sebelum bencana terjadi ia tengah di sawah. Kemalangan wanita ini tak jauh beda dari Maisaroh, sebab rumahnya masih utuh meski separohnya terendam tanah lahar.
“Kami tinggal di pengsungsian, tapi pagi kembali ke sini untuk mencari sisa barang yang masih bisa digunakan,” aku Kiptiyah.
Dari lokasi bencana, tim J99 People Humanity Squad bergerak menuju Gedung SDN Supiturang 01. Ada sejumlah siswa yang masih menjalani belajar mengajar di gedung tersebut. Para siswa dan guru tampak bahagia ketika rombongan tiba.
Tim juga membuat game-game ringan untuk membuat para siswa yang terdampak bencana erupsi bisa tertawa Bersama. Membagikan makanan ringan dan sejumlah bantuan yang membuat para siswa dan orangtua bisa tersenyum haru.
“Jumlah siswa terdampak langsung erupsi ada 25 jiwa, ya semua rumahnya rusak. Ada yang mengungsi di posko pengungsian dan ada yang nginap di rumah saudara. Pembelajaran disini masih terlaksana, siswa tidak memiliki alat tulis dan seragam,” terang Kepala SDN Supiturang 01, Sudiani S.P,d.
Menurutnya, yang dibutuhkan siswa adalah seragam dan alat tulis, bahkan siswa juga tidak punya sepatu karena barang-barangnya hilang semua ditelan lahar.
Maka dari itu tim J99 People Humanity Squad juga membantu memberikan baju-baju muslim kepada semua siswa yang terdampak.
Tak hanya itu, para guru juga mendapatkan produk MS Glow, sehingga semua happy pada sore itu dari lokasi sekolah itu, tim menyempatkan mengirim bantuan ke Posko PGRI Pronojiwo.
Dari Sekolah Dasar Negeri Supiturang 01 dan Posko PGRI, J99 People Humanity Squad kemudian bergerak menuju Dapur Umum Desa Sumberurip Kecamatan Pronojiwo Lumajang. Semua bantuan yang ada di truk diturunkan di Dapur Umum itu secara gotong royong.
Tim J99 Corp bersama relawan dan anggota TNI yang bertugas menurunkan semua bantuan dengan cara lama. Semua orang berbaris kemudian barang diturunkan dengan cara dioper kepada orang disampingnya hingga seluruh barang di truk habis.
Sementara barang diturunkan, Sebagian ibu-ibu relawan di dapur umum masih memasak dengan porsi yang besar. Bahkan untuk menanak nasi, dibutuhkan tiga bapak-bapak untuk mengaduk pada wadah nasi yang sangat besar.
Menurut Kepala Desa Sumberurip Slamet Hari Abri, dapur umum di balai desanya rutin mengirim makanan masak ke pos pengungsian di SMPN Pronojiwo 2 yang menaungi tak kurang dari 285 jiwa pengungsi. Selain itu juga mengirim makanan masak untuk 54 jiwa pengungsi di SDN 04 Supiturang.
“Kami juga mengirim masakan untuk pengungsi di perumahan warga yang jumlahnya antara 125 an jiwa. Juga mencover makanan untuk 180 relawan,” tegasnya.
Menurut Slamet, keseluruhan pengungsi dan relawan dipasok makanan tiga kali makan sehari. Dapur umum itu dihandle 90 orang relawan yang Sebagian besar dari warga sekitar. Mereka memasak dengan system shift yang dikendalikan oleh satu koordinator dapur umum.
“Barang-barang selain makanan pokok akan dikelola LDP yakni Layanan Psiko Sosial dari Dinsos di bawah Tagana Provinsi Jatim,” urainya.
Atas bantuan dari J99 People Humanity Squad, Slamet mengatakan atas nama pemerintah Desa Sumberurip selaku desa penyanggah bencana dan ketempatan dapur umum akan mengelola dengan transparan.
“Terima kasih Pak Gilang dan bu Shandy, pasti berkah dan mendapat balasan dari Allah SWT, bantuan akan kami kelola sebaik-baiknya untuk merawat pengungsi dan relawan di Pronojiwo,” ucapnya.
Dari Dapur Umum, J99 People Humanity Squad kemudian bergerak menuju Posko Pengungsian. Meski sebagian besar barang sudang diturunkan di Dapur Umum, namun masih ada bantuan yang tersisa di truk. Bantuan itu kemudian dipindah dari truk ke kendaraan taktis untuk dibawa ke dalam SMPN Pronojiwo 2.
Halaman sekolah tersebut berdiri dua tenda yang menjadi hunian sementara para korban erupsi Gunung Semeru. Satu tenda besar untuk para lelaki dan satu tenda untuk kaum perempuan. Setiap tenda dilengkapi Kasur tipis, bantal dan selimut bagi para pengungsi.
Sementara sejumlah kelas dihuni oleh kaum Lansia dan anak-anak. Yang menarik ada satu truk juga tersedia disitu dari sumbangan sebuah brand pembersih dan perawatan pakaian.
Dalam truk ada beberapa mesin cuci yang bisa dipakai para pengungsi. Selain itu ada satu kelas juga digunakan untuk semacam Puskesmas bagi warga.
Sanitasi juga dikelola dengan baik di lokasi itu, selain relawan tampak sejumlah tantara yang berjaga dan siaga membantu. Ada juga relawan yang tengah membuat game dengan anak-anak pengungsi, tim J99 People Humanity Squad juga turun membahagiakan anak-anak pengungsi ini.
“Disini ada 300 jiwa, anak-anaknya sekitar 37, balita 14. Lansia dan anak-anak ada di ruang kelas,” terang Soni Wakil Koordinator Posko Pengungsian di SMPN Pronojiwo 02.
Soni yang juga pengurus Saver, sebuah organisasi untuk penjaga Gunung Semeru berbasis di Desa Ranupani ini mengatakan 60 persen pengungsi balik ke desa setiap pagi. Mereka bekerja danbersihkan puing-puing sisa bencana.
“Ya mereka kan tetap harus tetap bekerja, tidak bergantung terus di posko pengungsian. Sesuai ketentuan BNPB, disini sampai tangga 2 Desember, meski nanti ada kemungkinan diperpanjang melihat dinamika Gunung Semeru,” terang pria yang berdomisili di Desa Ranupani ini.
Terkait bantuan, Soni menegaskan pihaknya memiliki Qris yang bisa diakses instansi atau pihak yang ingin mengirimkan bantuan.
“Melalui kode itu, pihak luar bisa memiliki gambaran, berapa jumlah penyintas atau pengungsi dan list daftar kebutuhan yang paling mendesak dan tepat guna dan ini untuk transparansi,” tandasnya.














