[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Klik Disini Untuk Mendengarkan Berita”]
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Dampak dari penyitaan 2000 butir tahu mengandung formalin kadar tinggi di Pasar 7 Ulu oleh BPOM dan Ditreskrimsus Polda Sumsel, penjual tahu mengeluh sepinya pembeli. Tak hanya itu, penjualan tahu pun menghilang dari peredaran pasar tradisional yang berlokasi di Jalan SH Wardoyo – Jalan KH Azhari Kelurahan 7 Ulu, Selasa (9/3/2021).
“Biasanya, sebelum ramai pemberitaan tahu formalin, jam segini sudah habis dua kaleng (300 butir tahu-red). Nah, hari ini baru sekaleng habis terjual, sisanya belum tersenggol,” jelas penjual tahu di Pasar 7 Ulu, Leha (42), saat diwawancarai wartawan.
Leha menambahkan, dirinya mengambil tahu ini dari kawasan Pasar 10 Ulu.
“Awalnya saya tanya dulu di tempat saya ambil, apakah tahu ini ada campuran formalin atau tidak. Saat saya periksa dan pastikan, ternyata benar, beda dengan yang lain, diperkuat dengan banyaknya pedagang lain seperti saya ambil sama dia,” ujarnya.
Leha yang beromzet Rp 250 juta perhari untuk penjualan tahu, mengaku merosot sejak mencuatnya bemberitaan tahu berformalin.
“Untuk satu butir tahu ini saya jual Rp 800, biasanya habis terjual. Namun, kali ini sepi, bahkan penjual tahu pun tidak ada, hanya saya yang jual tahu disini (Pasar 7 ulu-red),” ungkapnya.
Sementara, salah satu warga setempat, Arief (45) mengaku khawatir untuk mengkonsumsi tahu.
“Kita khawatir dengan mengkonsumsi tahu sekarang. Kita kan, sebagai masyarakat hanya bisa membeli dan makan saja, tanpa mengetahui dampak buruk pada kesehatan. Mudah-mudahan tidak ada lagi, penjual tahu nakal,” ungkap warga Jalan KH Azhari, Kelurahan 7 Ulu ini.














