BERITA TERKININUSANTARATNI DAN POLRI

Dari Rimba Kapuas Hulu, Tali dan Tekad Satukan Desa: TNI-Warga Bangun Jembatan Harapan di Nanga Sebintang

×

Dari Rimba Kapuas Hulu, Tali dan Tekad Satukan Desa: TNI-Warga Bangun Jembatan Harapan di Nanga Sebintang

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Kabut pagi masih menggayut di atas Kapuas Hulu ketika derap langkah Satgas Jembatan Kodim 1206 Putussibau menyusuri jalan tanah menuju Desa Nanga Sebintang, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu.

Di tas mereka bukan senjata, melainkan tali, kabel sling, bambu, dan perkakas lapangan.

Tujuan hari itu sederhana sekaligus vital memulai pembangunan jembatan gantung yang akan menggantikan rute licin di bibir sungai, tempat anak-anak selama ini memaksa diri menyeberang demi mengejar pelajaran di sekolah.

Perwira Seksi Operasi Kodim 1206/Psb Lettu Inf Sugianto, yang mengawasi langsung, menegaskan ini bukan proyek biasa.

“Arahan Bapak Presiden dan Bapak KASAD jelas pastikan anak-anak tidak perlu mempertaruhkan nyawa untuk pergi ke sekolah,” ujarnya di sela mengatur posisi angkur rangka.

Rencana di atas papan kerja tak muluk – muluk bentang 50 meter, lebar 1,5 meter, lantai papan bersela untuk pijakan mantap, dan dua kabel utama yang dijaga ketat ketegangannya.

“Yang istimewa justru caranya dikerjakan gotong – royong, “ucap Dia

Matahari belum tinggi ketika warga berdatangan pemuda dengan parang terselip di pinggang membantu membelah rotan pengikat.

Ibu-ibu mengantar air dan ubi rebus, para tokoh adat ikut mengawasi titik tambat jembatan agar selaras dengan jalur kebun warga.

Anak-anak justru yang paling bersemangat menjinjing paku dan mur dalam kaleng biskuit bekas.

“Entah berapa kali mereka sempat kepleset di sini waktu pulang sekolah musim hujan,” kata Kepala Desa Nanga Sebintang,

Menunjuk alur sungai berarus kuat.

“Kalau jembatan ini jadi, kami bisa bawa hasil kebun ke Kalis ibukota kecamatan lebih pagi. Anak-anak juga tenang.” ucap Dia.

Hari pertama dihabiskan meratakan bahu jembatan dan menanam angkur.

Suara gergaji besi berpadu tawa warga yang saling mengingatkan saat mengangkat batang gelagar bambu.

Di sela kerja, Sugianto mengingatkan soal keselamatan

“Helm proyek dari daun kelapa mungkin terdengar sederhana, tapi disiplin memakai sarung tangan dan mengecek simpul hidup-mati tak ditawar, “tegasnya

Pendekatan militer berpadu kearifan lokal ketika tali harus dipilih yang sudah diawetkan warga dengan damar agar tahan lapuk.

Bagi Kodim 1206 Putussibau, Nanga Sebintang bukan satu-satunya titik, tapi kerja bersama ini punya gema panjang.

Jembatan 50 meter itu kelak akan menjadi urat nadi baru jalan ke sekolah, ke puskesmas, ke pasar.

Sekaligus pengingat bahwa pembangunan di pelosok tak selalu soal beton besar, kadang cukup tali yang diikat dengan benar dan tekad yang ditarik sama rata.

Menjelang senja, saat rangka awal mulai naik, warga berfoto di samping Lettu Sugianto bukan untuk seremonial, melainkan untuk meyakinkan diri: besok, mereka lanjut lagi bersama. (*)