BeritaBERITA TERKINI

Dari Semir Sepatu hingga Jadi PPPK Pengadilan: Perjalanan Panjang Arafik

×

Dari Semir Sepatu hingga Jadi PPPK Pengadilan: Perjalanan Panjang Arafik

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

PALEMBANG, MATTANEWS.CO – Di balik rapi dan bersihnya gedung pengadilan, ada kisah perjuangan seorang pria yang tak kenal lelah. Namanya Arafik, seorang ayah dengan dua orang anak, yang kini tercatat sebagai tenaga honorer di salah satu pengadilan negeri. Namun, jalan yang ditempuhnya untuk sampai ke titik ini bukanlah jalan yang mudah.

Arafik lahir dan besar di lingkungan sederhana, di Jalan Maszen RT.24 RW.07, Kelurahan Sungai Jodoh, Kecamatan Kadem. Ia menikah dengan Evi Kusmarinta, dan dari pernikahan itu dikaruniai dua anak. Sebagai kepala keluarga, Arafik memikul tanggung jawab besar untuk menafkahi keluarganya. Namun, keterbatasan pendidikan membuatnya harus memulai hidup dari pekerjaan serabutan.

Awal Mula dari Semir Sepatu

Tahun 1995 menjadi titik awal perjuangan panjang Arafik. Saat itu, ia mengais rezeki dengan cara sederhana: menyemir sepatu di depan kantor pengadilan. Setiap pagi, ia sudah siap dengan kotak semirnya, berharap ada orang yang mau menggunakan jasanya.

“Kalau pagi, saya duduk di depan pengadilan, menunggu orang datang,” kenangnya.

Namun, pekerjaan itu tidak selalu mendatangkan penghasilan. Terkadang sepi pelanggan, dan Arafik harus pulang dengan tangan hampa. Meski begitu, ia tidak menyerah. Setiap hari ia datang, duduk di bangku yang sama, menunggu kesempatan.

Dari Relawan Kebersihan hingga Cleaning Service

Suatu hari, Arafik memberanikan diri masuk ke halaman pengadilan dan menawarkan bantuan untuk membersihkan ruangan. Ia melakukannya tanpa bayaran.

“Saya bersihkan ruang tunggu, sapu halaman, pokoknya apa saja yang bisa saya kerjakan,” ujarnya.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Pihak pengadilan mulai mempercayainya untuk membantu membersihkan ruangan setiap hari. Ia pun resmi dipekerjakan sebagai petugas cleaning service, meskipun dengan gaji yang sangat kecil.

“Gaji pertama saya Rp150 ribu per bulan. Uang itu langsung saya pakai untuk bayar utang dan beli kebutuhan pokok,” kata Arafik sambil tersenyum.

Mencoba Jadi Honorer, Berkali-kali Gagal

Meski sudah bekerja bertahun-tahun, status Arafik tetap sebagai tenaga kebersihan biasa. Ia pun mencoba mendaftar sebagai tenaga honorer agar bisa mendapatkan pengaduan lebih layak. Namun, jalannya tidak mudah.

“Saya ikut seleksi sampai tiga kali, tapi selalu gagal. Rasanya mau menyerah, tapi saya ingat keluarga,” ceritanya dengan mata berkaca-kaca.

Setiap kali gagal, Arafik kembali bekerja seperti biasa, tetap membersihkan ruangan dengan penuh tanggung jawab. Ia bahkan mengaku sering meminjam uang hanya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Saya nggak malu kerja apa saja, yang penting halal,” tegasnya.

Akhirnya Diangkat Menjadi PPPK

Titik terang datang pada tahun 2025. Setelah puluhan tahun bekerja dan tiga kali gagal seleksi, akhirnya Arafik resmi diangkat menjadi tenaga PPPK di lingkungan pengadilan Negeri Palembang.

“Saya nggak bisa berkata-kata waktu itu. Rasanya semua perjuangan saya terbayar,” ucapnya dengan suara bergetar.

Kini, Arafik menjadi contoh nyata bahwa kerja keras dan kesabaran mampu mengubah hidup. Dari seorang penyemir sepatu di depan pengadilan, ia kini menjadi bagian dari institusi tersebut.

“Pesan saya, jangan pernah menyerah. Kalau kita sabar dan ikhlas, rezeki pasti datang,” pungkasnya.