BERITA TERKINIEKONOMI & BISNIS

Dari Utang Pupuk ke Panen Naik 80%: Kisah Sutarni & KWT Rosela Dongkrak Kesejahteraan Lewat Pertanian Organik

×

Dari Utang Pupuk ke Panen Naik 80%: Kisah Sutarni & KWT Rosela Dongkrak Kesejahteraan Lewat Pertanian Organik

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALI – Hamparan sawah Kelurahan Talang Ubi Utara, Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) jadi saksi bisu perjuangan Sutarni. Petani perempuan ini berangkat dari garis kemiskinan akibat panen gagal, kini berhasil dongkrak hasil panen 80% lewat pertanian organik binaan PEP Pendopo Field, PHR Zona 4.

Sepuluh tahun lalu hidup Sutarni berat. Sawah rusak karena jamur dari pupuk kimia berlebih. Dua tahun kemudian ulat grayak habiskan panen. Ia terpaksa ngutang ke toko demi pupuk, sambil nunggak listrik & biaya sekolah anak 6 bulan.

“Tanpa hama pun untung tipis. Hasil 2,5-3 ton/ha, harga jual Rp10 ribu/kg. Modal bibit-pupuk besar, pendapatan cuma Rp2,5 juta/bulan. Pupuk kimia makin mahal, dapur makin tergerus,” kenang Sutarni, 10 Juni 2026.

Titik Balik Lewat PUJANGGA PEP Pendopo

Harapan muncul 2021. Pertamina EP Pendopo Field lewat Program Pusat Jaringan Pertanian Organik Terintegrasi dan Sustainability PUJANGGA masuk ke Kelompok Wanita Tani KWT Rosela & Kelompok Tani Rejomulyo.

PEP Pendopo latih petani pulihkan lahan pakai pupuk jerami & kotoran hewan. Ajarkan tanam bibit baik + kendalikan hama alami: asap batok kelapa, larutan susu-telur-madu. Perusahaan juga sediakan sekretariat & alat pertanian.

Hasilnya nyata di lahan 15 ha garapan Sutarni dkk:

1. *Bibit hemat*: Dulu butuh 100 kg/ha, sekarang cukup 5 kg/ha.
2. *Panen naik 80%*: Dari 2,5 ton/ha jadi 4,5 ton/ha, masa tanam 3-4 bulan.
3. *Harga naik*: Kualitas beras organik tembus Rp20 ribu/kg.
4. *Pendapatan naik 3x lipat*: Rata-rata petani dari Rp2,5 juta/bulan jadi Rp8 juta/bulan.

“Dulu hasil tak menentu, buat makan keluarga saja kurang. Sekarang produksi naik berkat organik, hidup kami lebih layak,” ucap Sutarni.

KWT Rosela: Dari Sawah ke Produk Herbal

Sukses di sawah, Sutarni perluas dampak. 2024 ia dirikan KWT Rosela yang fokus pertanian + ruang belajar perempuan.

20 anggota kelola 0,5 ha di Pusat Pemberdayaan Masyarakat Pertamina PPMP Pendopo Field. Mereka tanam toga: jahe, kunyit, kencur, bawang dayak, pegagan, kumis kucing, sambiloto + sayur. Hasil olahan jadi Teh Rosela, bandrek, peyek, stik ubi. Pendapatan kelompok Rp2 juta/bulan.

KWT Rosela juga edukasi tanaman obat keluarga untuk anak sekolah & warga yang berkunjung.

Manager CID PHR Zona 4 Iwan Ridwan Faizal apresiasi: “PHR Zona 4 ingin masyarakat tumbuh bersama. Ibu Sutarni buktikan pemberdayaan tepat bisa kuatkan ketahanan pangan & tingkatkan kesejahteraan.”

Perjuangan Sutarni buktikan: kemandirian petani bisa lahir dari inisiatif sederhana. Dari jerat utang pupuk kimia, kini perempuan Talang Ubi Utara mandiri & sejahtera.

*Tentang PHR Zona 4*
PHR Regional Sumatra Zona 4, Subholding Upstream Pertamina, operasikan 7 wilayah kerja PEP & PHE di 2 kota + 9 kabupaten Sumsel, di bawah pengawasan SKK Migas Sumbagsel.