MATTANEWS.CO, CIAMIS – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menggelar program Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Ciamis sebagai bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) 2025. Inisiatif ini bertujuan menemukan kasus TBC sedini mungkin untuk memutus penyebaran penyakit dan meningkatkan angka kesembuhan. Kegiatan dimulai hari ini di Puskesmas Sindangkasih dan akan menjangkau 20 Puskesmas di wilayah Kabupaten Ciamis.
Menurut Rizky Ramawati dari Tirta Medical Center, vendor pelaksana program, ACF TBC adalah strategi proaktif untuk mendeteksi kasus TBC lebih awal. “Kami melakukan screening dengan rontgen dada untuk mengidentifikasi gejala TBC, terutama pada lima kelompok risiko tinggi: kontak erat pasien TBC, penderita diabetes, perokok, individu dengan gizi buruk, dan orang dengan HIV,” jelasnya Senin 29 September 2025.
Proses screening melibatkan kerja sama intensif dengan Puskesmas. Dimulai dari pengumpulan peserta oleh kader, pendaftaran, pemeriksaan awal oleh tim dokter Tirta Medical Center, hingga analisis hasil rontgen oleh dokter Puskesmas.
“Target kami adalah 3.000 peserta dalam 20 hari, atau sekitar 150 orang per hari. Hasil screening langsung diketahui di hari yang sama. Jika skor AI dari rontgen di atas 40, pasien dianggap terduga TBC dan akan lanjut ke tes dahak,” ungkap Rizky.
Tes dahak biasanya menghasilkan diagnosis dalam lima hari, dilanjutkan konsultasi dengan dokter spesialis radiologi.
Didanai melalui APBN 2025, kata dia, program ini sejalan dengan Perpres Nomor 67 Tahun 2021 untuk mencapai eliminasi TBC pada 2030. Kemenkes menargetkan penemuan 981 ribu kasus TBC pada 2025, dengan cakupan pengobatan 95% dan keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat hingga 90%.
Pendekatan screening aktif menggunakan mobile X-Ray dan tes dahak (Community Case Management) diharapkan mempercepat penemuan kasus dan memutus rantai penularan.
“Kami ingin masyarakat paham bahwa TBC bisa disembuhkan jika terdeteksi dan diobati sejak dini. Kolaborasi dengan berbagai pihak adalah kunci keberhasilan,” tegas Rizky.
Ia menyampaikan, Program ACF TBC ini akan berlangsung di 20 Puskesmas di Ciamis, dengan harapan menjangkau lebih banyak masyarakat berisiko dan mendukung Indonesia bebas TBC.
Hari pertama di Puskesmas Sindangkasih disambut antusiasme luar biasa dari warga. Sementara, Kepala Puskesmas Sindangkasih, Asep Setiawan, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Program ini sangat membantu kami mencapai target penemuan kasus TBC, baik terduga maupun positif, yang bisa segera diobati. Masyarakat antusias karena pemeriksaan gratis, sangat meringankan biaya mereka,” katanya.
Keberhasilan program ini didukung kolaborasi lintas sektor, melibatkan pemerintah desa, kecamatan, Kementerian Agama, KUA, hingga penyuluh agama dan relawan yang aktif mengedukasi masyarakat.
“Hari ini, 171 peserta sudah mendaftar, melampaui target 150 orang, dan jumlahnya masih bisa bertambah. Biasanya masyarakat takut periksa TBC, tapi kini mereka justru bersemangat berkat edukasi yang diberikan,” tambah Asep.














