BERITA TERKININUSANTARAPEMERINTAHAN

Di Antara Risiko dan Keamanan: Menjaga Dana Haji Tetap Aman Tanpa Kehilangan Manfaat

×

Di Antara Risiko dan Keamanan: Menjaga Dana Haji Tetap Aman Tanpa Kehilangan Manfaat

Sebarkan artikel ini
AIILUSTRASI/ROP

MATTANEWS.CO – Malam itu, listrik di rumah Sulaiman (57) sudah dipadamkan sebagian. Hanya satu lampu yang masih menyala di ruang tengah. Di atas meja, buku tabungan haji terbuka, ditemani secangkir kopi yang mulai dingin.

Ia tidak sedang menghitung uang.

Ia sedang berpikir.

“Kalau uang ini diputar, apakah aman?” katanya pelan.

Pertanyaan itu sederhana, tetapi menyentuh inti dari pengelolaan dana haji: bagaimana menjaga keseimbangan antara risiko dan keamanan.

Sulaiman telah menabung lebih dari sepuluh tahun. Baginya, dana haji bukan sekadar simpanan. Ia adalah hasil dari kerja keras, pengorbanan, dan harapan yang ditunda.

Karena itu, satu hal menjadi sangat penting baginya keamanan.

Namun di sisi lain, ia juga mendengar bahwa dana haji tidak hanya disimpan. Ia dikelola, diinvestasikan, dan dikembangkan agar menghasilkan nilai manfaat.

Di titik inilah dilema muncul.

Jika terlalu aman, manfaat bisa kecil.
Jika mengejar manfaat besar, risiko ikut membesar.

Di antara dua pilihan itu, pengelola dana haji harus berjalan di garis yang sangat tipis.

Kepala Badan Pelaksana BPKH, Fadlul Imansyah, menegaskan bahwa prinsip utama dalam pengelolaan dana haji adalah kehati-hatian.

“Pengelolaan dana haji mengedepankan prinsip keamanan dan kehati-hatian, dengan tetap berupaya menghasilkan nilai manfaat yang optimal,” ujarnya.

Sebagian besar dana haji ditempatkan pada instrumen yang relatif aman seperti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan deposito syariah. Instrumen ini dipilih karena memiliki risiko yang lebih terukur dibandingkan investasi berisiko tinggi.

Namun “aman” tidak berarti tanpa risiko.

Pengamat ekonomi syariah, Yusuf Wibisono, menjelaskan bahwa setiap instrumen investasi tetap memiliki risiko, meskipun dalam tingkat yang berbeda.

“Tidak ada investasi yang sepenuhnya bebas risiko, namun yang bisa dilakukan adalah mengelola risiko tersebut agar tetap dalam batas yang terkendali,” ujarnya.

Dalam konteks dana haji, pengelolaan risiko menjadi hal yang sangat krusial.

Karena dana yang dikelola bukan milik institusi semata, melainkan milik jutaan calon jamaah yang menitipkan kepercayaan mereka.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Agama menegaskan bahwa keamanan dana jamaah menjadi prioritas utama.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief, menyatakan bahwa seluruh kebijakan pengelolaan harus berpihak pada perlindungan dana.

“Keamanan dana jemaah menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pengelolaan,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa risiko tidak dihindari sepenuhnya, tetapi dikendalikan.

Namun bagi masyarakat seperti Sulaiman, konsep itu tidak selalu mudah dipahami.

Ia tidak berbicara tentang diversifikasi portofolio atau manajemen risiko. Ia hanya ingin memastikan satu hal.

“Yang penting uang kami jangan sampai hilang,” katanya.

Kalimat itu sederhana, tetapi justru menjadi inti dari seluruh sistem.

Bahwa di balik strategi investasi, ada kebutuhan dasar akan rasa aman.

Di sinilah tantangan terbesar muncul.

Bagaimana menjelaskan bahwa dana haji tetap aman, meski dikelola dalam instrumen investasi.

Bagaimana meyakinkan bahwa risiko ada, tetapi tidak dibiarkan lepas.

Bagaimana menjaga kepercayaan di tengah kompleksitas sistem.

Sulaiman menutup buku tabungannya. Ia tidak menemukan jawaban teknis malam itu. Tetapi ia memilih untuk tetap percaya.

Karena baginya, perjalanan ini sudah terlalu jauh untuk diragukan.

Namun kepercayaan bukan sesuatu yang bisa dianggap selesai.

Ia harus terus dijaga.

Melalui pengelolaan yang hati-hati.
Melalui pengawasan yang ketat.
Dan melalui transparansi yang jujur.

Karena jika keamanan terganggu, kepercayaan akan runtuh.
Dan jika risiko tidak dikelola, manfaat tidak akan berarti.

Menjelang tengah malam, lampu di ruang tengah akhirnya dimatikan. Rumah kembali gelap, tetapi satu hal tetap menyala harapan.

Harapan bahwa dana yang ia titipkan tidak hanya tumbuh, tetapi juga tetap aman hingga hari keberangkatan tiba.

Karena pada akhirnya, pengelolaan dana haji bukan hanya tentang mencari manfaat.

Tetapi tentang menjaga amanah.

Dan di antara risiko dan keamanan, di situlah kepercayaan dipertaruhkan.