MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Serikat Petani Indonesia Banyuasin khususnya yang di ketuai oleh Widya Astin dan jajaran pengurus SPI Sumsel yang di ketuai oleh Muhammad Arif sangat mengapresiasi penuh atas di lantiknya Menteri Koperasi Ferry Joko Juliantono per hari Senin, 8 September 2025. Jabatan Menteri Koperasi yang diamanahkan ke Bung Ferry, adalah sangat tepat bukan tanpa sebab karena beliau tahu betul bagaimana seluk beluk pe Koperasian ini.
Kehadiran beliau pada Kongres V Serikat Petani Indonesia membawa angin segar bagi Koperasi Petani khususnya.
Dalam pidatonya pada pembukaan Kongres Serikat Petani Indonesia di Jambi Tanggal 23 Juli 2025 – 25 Juli 2025 terkait Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang baru saja diresmikannya sehari sebelum menghadiri acara Kongres Serikat Petani Indonesia di Jambi.
Ferry menyampaikan harapannya agar Koperasi Petani SPI yang sudah ada bisa berjalan berdampingan dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih ini, dengan tujuan terbentuknya persatuan ekonomi kerakyatan.
“Dengan gerakan bersama kita untuk membangun persatuan ekonomi, dan insyaAllah akan kita buat persatuan politik ke depannya. Untuk hari tani ke depannya, kita bisa buat kerja sama antara buruh, petani, dan koperasi. Koperasi desa merah putih ini juga sudah dibuat sebagai proyek strategis nasional, jadi tidak hanya soal revisi UU Koperasi, tetapi juga UU Sistem Perkoperasian sebagai sokoguru,” ungkapnya.
Serikat Petani Indonesia Sumatera Selatan menilai Koperasi petani di Sumatera Selatan ini sudah cukup berjalan dengan baik, mencakup berbagai jenis koperasi, seperti KUD (Koperasi Unit Desa) untuk pertanian, peternakan, dan perdagangan hasil bumi, serta koperasi yang berfokus pada sektor spesifik seperti perkebunan sawit.
Hanya saja, untuk Koperasi Petani ini belum sepenuhnya terbentuk di berbagai daerah kabupaten, Saya harap pemerintah di tiap kabupaten dapat mendorong terbentuknya Koperasi Petani di desa untuk membangun ekosistem baru di sektor pertanian, agar generasi milenial mampu berusaha dan berkembang, sehingga pertanian diminati anak muda.
“Saya ingin agar anak-anak muda kita juga mau melirik pertanian sebagai sektor yang diunggulkan. Saya juga menyampaikan kepada Bung Ferry yang juga menyempatkan makan siang bersama Petani SPI, agar bisa membuat kebijakan untuk memberi kemudahan pada pendirian Koperasi Petani, sebab jika melihat beratnya syarat-syarat pembentukan Koperasi dan segala biayanya mustahil Petani mampu mendirikan Koperasi. Paling tidak mengurangi kesulitannya yang tujuannya untuk sebersar-besarnya kesejahteraan Petani dan kemakmuran rakyat,” terang Widya Astin
Ketua DPC Serikat Petani Indonesia Kab. Banyuasin itu.
Jalan panjang perjuangan petani Indonesia yang lahir dari ketertindasan, yang tumbuh dalam perlawanan, dan yang terus menyala demi hak atas tanah, pangan, dan kehidupan yang adil. “Perjuangan kita bukan baru kemarin. Ia lahir dari penderitaan petani yang hak-haknya dirampas oleh kebijakan kapitalis dan kekuasaan otoriter. Kita berhadapan dengan sistem yang lebih mementingkan keuntungan segelintir elit ketimbang kesejahteraan petani dan rakyat banyak,” ungkap dia.
Serikat Petani Indonesia dan pemuda tani bukan hanya alat perlawanan, tapi rumah bagi kesadaran kolektif. “Kita tidak hanya menolak ketidakadilan, tapi juga membangun kekuatan alternatif yaitu melalui Koperasi. Ini bukti nyata bahwa koperasi bukan sekadar simbol, tapi alat pemberdayaan ekonomi rakyat yang sangat strategis,” tandas Widya Astin.(*)














