BERITA TERKINI

Dispendikpora Tulungagung Sebut Ada 31 Penyedia Program Sekolah Gratis

×

Dispendikpora Tulungagung Sebut Ada 31 Penyedia Program Sekolah Gratis

Sebarkan artikel ini
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tulungagung, Kamis (2/12) Foto: Ferry Kaligis/mattanews.co

MATTANEWS.CO, TULUNGAGUNG – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispendikpora) Kabupaten Tulungagung, menyebut ada 31 penyedia pengadaan barang dalam program sekolah gratis.

Penyedia tersebut menyediakan keperluan sekolah bagi siswa tidak mampu, untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Program tersebut, Dispendikpora Kabupaten Tulungagung menganggarkan 18 Milyar bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun 2021.

“Jadi begini, program sekolah gratis tersebut dalam bentuk bantuan uang, tapi diberikan kepada siswa dalam bentuk non tunai yaitu berupa virtual account yang nantinya bisa ditukar barang di koperasi,” kata Sekretaris Dispendikpora Kabupaten Tulungagung Saifuddin Zuhri, SH, MM, di ruang kerjanya, Kamis (2/12/2021) Sore.

“Penyedia nanti menyediakan 18 item barang keperluan sekolah, baik untuk jenjang SD maupun SMP di Kabupaten Tulungagung,” imbuh Pria Mantan Kepala Bidang Pembinaan SMP Dispendikpora Kabupaten Tulungagung itu.

Pada saat ditanyakan, apakah para penyedia tersebut merupakan penunjukan langsung dari dinas, Udin lebih akrab disapa ini membantah dengan tegas.

Sebenarnya ini bukan penunjukan langsung, dan bukan kita menunjuk tapi sebelumnya telah mengajukan permohonan dan perkenalan kepada dinas, akhirnya kami mendatangi penyedia tersebut dan mengecek apakah benar bisa mengerjakan sesuai keperluan sekolah.

“Karena ini bukan lelang dan tidak penunjukan langsung tapi ini belanja langsung, sehingga kita bagi rata biar semua kebagian dan tidak ada yang menang-menangan,” tegasnya.

“Kita akui memang ada penyedia dari luar kota, kalau tidak salah ada satu atau dua kayaknya begitu saya tidak hafal,” sambungnya.

Lebih lanjut Udin menjelaskan, terkait adanya pertemuan para penyedia pengadaan barang tersebut, di salah satu resto ia tidak membantah, karena pada prinsipnya Dispendikpora menyambut baik dari pertemuan tersebut.

Pertemuan tersebut sebagai upaya menyamakan persepsi pengadaan barang keperluan sekolah, harus sesuai standar dan spesifikasi yang telah ditentukan.

“Iya benar, dari informasi saya terima pertemuan tersebut dilakukan di salah resto wilayah Kecamatan Kedungwaru. Diantaranya pembahasan terkait penyedia itu ada yang tidak menyediakan satu jenis barang, tapi ada yang dua sampai tiga jenis, sehingga disitu ada satu barang itu diampu (Tampung.red) oleh lebih dari satu orang atau penyedia,” terangnya.

“Selain itu, guna penyamaan kualitas, adapun yang dimaksud semisal dari penyedia A ngedrop barang di Tanggunggunung dengan B ke Tulungagung biar standarnya sama,” imbuhnya.

Standar dan spesifikasi barang, lebih dalam Udin memaparkan pihaknya sudah memberikan hal itu kepada para penyedia agar dalam mengerjakan sesuai dengan ketentuan tersebut. Selain itu, harga yang telah kita sampaikan itu sudah harga dibawah pasar.

“Pengadaan barang tersebut ada 18 item diantaranya berupa seragam untuk SD dan SMP, seragam Pramuka, seragam batik, topi, dasi, sepatu, sabuk, hasduk Pramuka, dan lainnya,” paparnya.

“Kita tahu sebenarnya, namanya orang usaha itu butuh keuntungan,” sambungnya.

Menurutnya, pada prinsipnya Dispendikpora Tulungagung sangat menyambut baik dari pertemuan para penyedia tersebut.

Selanjutnya, pertemuan tersebut akan ditindaklanjuti pertemuan dengan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI).

“Iya benar, namun demikian kelanjutan kapan bertemu dengan 21 KPRI tersebut saya belum paham,” ujarnya.

“Nantinya pesanan seragam itu berapa ada pada koperasi. Karena sekolah sebelumnya sudah memberikan angket siswa diserahkan pada koperasi untuk itu komunikasi dari penyedia ke koperasi,” imbuhnya.

Dispendikpora Tulungagung mengharapkan dengan adanya pertemuan penyedia yang hari ini telah dilaksanakan, agar dapat menyeimbangkan kualitas dari masing-masing penyedia.

“Pada intinya, jangan sampai terjadi kualitas penyedia A rendah dan penyedia B kualitas tinggi, kalau terjadi pertemuan tersebut bisa saling komunikasi, dengan demikian kualitas terbaik,” harapnya.