MATTANEWS.CO, BANDUNG — Komitmen dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya kembali ditunjukkan oleh akademisi Institut Nahdlatul Ulama (INU) Ciamis. Salah satu dosen Program Studi Magister Studi Islam, Dr. Rezza Fauzi Muhammad Fahmi, M.Hum., ditetapkan sebagai salah satu penerima Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 Gelombang II yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Barat. Kamis (22/10/2026)
Melalui program tersebut, Dr. Rezza Fauzi Muhammad Fahmi menginisiasi kegiatan bertema “Menjaga Ngikis, Merawat Warisan Budaya” yang diwujudkan melalui kegiatan seminar dan Focus Group Discussion (FGD) mengenai Upacara Ngikis di Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya untuk menggali, mendokumentasikan, sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat terhadap tradisi Ngikis sebagai salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, sosial, spiritual, dan kearifan lokal yang penting bagi masyarakat Ciamis.
Sebagai praktisi budaya sekaligus akademisi, Dr. Rezza menempatkan tradisi Ngikis tidak hanya sebagai sebuah ritual budaya yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan pengetahuan lokal yang perlu dirawat serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan pelaksanaan sebuah tradisi. Lebih dari itu, diperlukan upaya untuk memahami nilai, sejarah, filosofi, serta makna yang terkandung di dalamnya.
Melalui seminar dan FGD, berbagai perspektif diharapkan dapat dipertemukan, baik dari kalangan akademisi, praktisi budaya, tokoh masyarakat, pemerintah, maupun generasi muda. Dengan demikian, tradisi Ngikis dapat terus dikaji secara lebih mendalam sekaligus mendapatkan ruang yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat.
“Menjaga Ngikis bukan sekadar menjaga sebuah upacara, tetapi juga menjaga ingatan kolektif, nilai-nilai budaya, serta warisan pengetahuan yang telah diwariskan oleh para leluhur,” demikian semangat yang diusung dalam kegiatan tersebut.
Pemilihan Karangkamulyan sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna penting. Kawasan Karangkamulyan dikenal sebagai salah satu situs budaya dan sejarah yang memiliki nilai penting dalam perjalanan kebudayaan di Kabupaten Ciamis. Keberadaan tradisi Ngikis di kawasan tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya yang perlu mendapatkan perhatian dan penguatan dari berbagai pihak.
Bagi Dr. Rezza, keterlibatan akademisi dalam pemajuan kebudayaan merupakan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat. Ilmu yang dimiliki tidak hanya dikembangkan melalui ruang-ruang akademik, tetapi juga dapat diimplementasikan untuk membantu masyarakat memahami, menjaga, dan mengembangkan kekayaan budaya daerah.
Program fasilitasi yang diberikan oleh BPK Jawa Barat tersebut sekaligus menjadi ruang bagi akademisi untuk berkontribusi secara langsung dalam upaya pemajuan kebudayaan. Kajian akademik, pengalaman sebagai praktisi budaya, serta keterlibatan masyarakat diharapkan dapat menghasilkan dokumentasi dan pemahaman yang lebih kuat mengenai tradisi Ngikis.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk tidak memandang tradisi lokal sebagai sesuatu yang kuno atau sekadar seremoni. Sebaliknya, warisan budaya perlu dipahami sebagai sumber pengetahuan dan identitas yang memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Dengan semangat “Menjaga Ngikis, Merawat Warisan Budaya”, Dr. Rezza Fauzi Muhammad Fahmi menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal.
Kiprah tersebut sekaligus memperkuat posisi INU Ciamis sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan keilmuan, tetapi juga mendorong para akademisinya untuk hadir di tengah masyarakat melalui pengabdian, penelitian, serta pelestarian nilai-nilai budaya lokal.
Tradisi Ngikis di Karangkamulyan diharapkan dapat terus hidup, dikaji, didokumentasikan, dan diwariskan. Sebab, ketika sebuah tradisi dirawat dengan pengetahuan dan kesadaran, maka yang dijaga bukan hanya sebuah upacara, melainkan juga identitas dan ingatan budaya masyarakat untuk generasi yang akan datang.














