MATTANEWS.CO, OKI – Saat ini permukaan Sungai Komering di bawah Jembatan Desa Belanti tak lagi seperti air yang mengalir melainkan seperti padang hijau terapung yang tebal dan masif. Sebagai antisipasi, Sejak lusa kemarin, satu unit excavator diturunkan Pemkab OKI untuk mengurai tumpukan gulma yang semakin menebal.
Tidak main-main. Eceng gondok menutup hampir seluruh badan sungai, membentuk lapisan setebal hampir satu meter, membentang luasnya hampir satu hektare. Arus yang seharusnya menjadi nadi kehidupan setempat kini terhenti, tercekik oleh gulma air yang tumbuh tanpa henti.
Bagi warga sekitar bantaran sungai yang bermukim di Sirah Pulau Padang, tidak lagi terkejut. Pemandangan seperti itu telah lama berlangsung. Persoalan abadi dari akumulasi dari kebijakan Pemkab OKI dengan proyek penahan eceng gondok yang mangkrak di tengah jalan.
Drama penanganan eceng gondok ini sendiri bermula pada tahun 2021 lalu. Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) melalui Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) kala itu, M. Hafiz, mencoba menjawab keluhan warga terkait banjir dan sumbatan gulma. Ia memerintahkan pembangunan konstruksi penahan eceng gondok di di ujung Kelurahan Jua-Jua dan Kedaton di Kecamatan Kayuagung.
“Eceng gondok yang mengalir sangat mengganggu dan merugikan, apalagi saat debit air tinggi,” kata Hafis kepada wartawan saat itu, menjelaskan upaya antisipasi banjir lewat penahan gulma air.
Hasilnya? Sebagian memang berdiri. Tiang pancang dipasang. Anggaran sebesar Rp 5 miliar digelontorkan.
Lalu, Tahun berikutnya, pada tahun 2022 proyek itu kembali dialokasikan dana Rp 2,3 miliar. Total lebih dari Rp 7 miliar uang publik telah dipakai untuk “menangani” eceng gondok. Tapi nyatanya, proyek tersebut turut hanyut bersama eceng gondok yang lebih masif.
Alih-alih bermanfaat, proyek penahan eceng gondok justru menuai keluhan atas keterlambatan progres, dan ketidakjelasan
“Kadang ada pekerja, lalu lama stop tidak ada kelanjutan. Sisa material sering dibiarkan,” keluh Hendra, warga sekitar lokasi proyek.
Meski telah dua tahun berjalan, pola penanganan tetap berulang. Ketika eceng gondok sudah tampak besar, Dinas PUPR baru turun tangan, tetapi penanganan lebih banyak mengurai gulma daripada mengangkatnya keluar dari sungai.
Hasil yang tercapai dengan metode insidentil seperti itu hanya pemindahan masalah, bukan penyelesaian dari akar masalah itu sendiri. Eceng gondok “diurai” di satu titik, kemudian hanyut dan menumpuk di lokasi lain seperti sekarang disaksikan yang terjadi di Jembatan Belanti.
Terus berlalu hingga menuju tahun ini, ketika volume eceng gondok kembali tinggi, ekskavator diturunkan. Namun upaya itu tak mampu mengejar laju pertumbuhan gulma.
Ketika massa gulma yang diangkat masih kurang dari proyeksi kebutuhan, arus yang tersumbat tetap tertahan. Upaya warga yang bergotong-royong turun ke sungai pun tak mampu menahan debit tumpukan eceng gondok.
Kepala Dinas PUPR OKI saat ini, Man Winardi, mencoba memberikan konteks baru. “Gulma kecil dihanyutkan mengikuti arus air, sedangkan gulma padat dan sampah dibawa ke pinggir secara estafet, lalu dimuat ke dump truk untuk dibuang,” ujarnya di lokasi pembersihan Sabtu (28/2/2026) kemarin.
Ia menegaskan upaya itu masih terus dilakukan sampai aliran benar-benar bersih, dan mengaku koordinasi untuk langkah jangka panjang sedang dirintis bersama Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VII.
Namun di lapangan, warga tak lagi peduli pada rincian teknis metode pembersihan. Yang mereka lihat setiap kali hujan turun deras adalah kecemasan.
Kekhawatiran sungai kembali meluap, menciptakan arus deras. mengancam rumah, sawah terendam, hingga ancaman akses jembatan terputus.
Mereka menyaksikan sendiri bagaimana eceng gondok yang tampak biasa-biasa saja di permukaan, menyimpan potensi kekuatan destruktif yang jauh lebih besar ketika membentuk massa padat.
Fenomena ini bukan hanya soal gulma air yang tumbuh secara alami. Ini adalah cerminan dari kelemahan sistem pengendalian yang tak pernah berbicara tegas tentang apa yang harus dilakukan, kapan dilakukan, dan bagaimana mengukur keberhasilan.
Tanpa strategi pengangkutan total keluar dari ekosistem sungai, tanpa pengendalian sumber nutrien dari hulu, dan tanpa koordinasi lintas wilayah, solusi yang diupayakan hanya berulang dari musim ke musim.
Di Belanti, jembatan dan rumah warga terus menghadapi ancaman. Bukan sekadar struktur bangunan yang diuji oleh bobot air dan gulma, tetapi daya tahan kebijakan terhadap realitas alam yang bergerak tanpa kompromi.
Tumpukan eceng gondok memang terlihat diam. Tapi kekuatannya tak boleh diabaikan lagi.
Tanpa langkah sistematis, miliaran rupiah yang telah di gelontorkan hanya jadi catatan anggaran tahunan tanpa perubahan nyata.
Jika lebih dari Rp 7 miliar belum mampu memastikan sungai tetap mengalir, mungkin yang perlu ditahan bukan hanya eceng gondok, tapi juga kebiasaan Pemkab OKI membuat proyek tanpa memastikan hasilnya.
Sebagaimana sifat alam. Sungai akan selalu berkata jujur, membuktikan apakah kebijakan benar-benar bekerja atau sekadar menambah catatan anggaran semata.(*)














