Penulis: Noor Ishmatuddin (Sekretaris Partai Gerindra Banyuasin)
Kuda lumping, tarian khas Jawa ini secara umum berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Masyarakat sering menyebut dengan istilah Jathilan atau juga jaran kepang. Dengan bantuan properti kuda yang didesain khusus, kemudian sekelompok penari akan menari dan ini menjadi ciri khas Tari Kuda Lumping.
Biasanya, tarian Kuda Lumping menyuguhkan adegan prajurit berkuda. Namun, terdapat beberapa penampilan Kuda Lumping yang menampilkan atraksi kekebalan, kesurupan, sampai kekuatan magis. Misalnya, atraksi kekebalan tubuh terhadap pecut dan memakan beling..
Tarian Kuda Lumping memiliki keunikan tersendiri berupa adanya berbagai hal mistis yang tak biasa kita temui. Decak kagum penonton tentulah terundang atas perpaduan antara alam nyata dan alam gaib ini, sebab berbagai atraksi dalam kuda lumping dilakukan meski tampak berada di luar nalar kemampuan manusia sadar. Biasanya, tradisi kuda lumping tampil di berbagai acara umum ataupun khusus, seperti perayaan hari besar, pesta pernikahan, serta momen lainnya.
Terdapat beberapa versi asal-usul kuda lumping dan terbentuknya tarian ini. Informasi yang dihimpun versi pertama, tari Kuda Lumping sudah hadir sejak zaman primitif. Tarian ini dipakai dalam ritual yang sifatnya magis atau upacara adat. Semua properti yang digunakan awalnya sangat sederhana, tetapi terus berubah dan berkembang seiring melajunya waktu.
Kemudian, versi kedua, tari Kuda Lumping ialah bentuk dukungan penuh atau apresiasi dari rakyat jelata terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro dan pasukan kudanya dalam mengusir dan melawan para penjajah. Ada pula versi ketiga yang menganggap asal-usul Tari Kuda Lumping adalah gambaran atas perjuangan Sunan Kalijaga dan Raden Patah beserta para pasukannya dalam mengusir para penjajah dari Nusantara.
Sedangkan versi keempat, tarian yang satu ini dianggap berasal dari penggambaran proses latihan pasukan perang Kerajaan Mataram yang dikomandoi oleh Sultan Hamengku Buwono I dalam menghadapi jajahan Belanda. Versi terakhir dari asal-usul kuda lumping ialah versi yang paling lengkap, yakni menceritakan tentang seorang raja tanah Jawa yang sangat sakti. (Selasar dan Gramedia).
Dalam perjalanannya, jaran kepang atau kuda lumping berkembang menjadi sebuah kesenian. Biasanya dipertontonkan pada saat acara sedekah desa atau panen raya. Saat pementasan, tarian kuda lumping menampilkan sekelompok prajurit yang tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang dianyam dan didesain menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda tersebut dihias dengan beragam warna cat dan kain beraneka warna.
Yang unik bagi kita, gerakan-gerakan pada tarian kuda lumping juga merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini tampak dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif melalui kibasan anyaman bambu serta menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah medan tempur.
Festival Kuda Lumping dan Geliat UMKM
Dengan keunikan ini sejarah dan nilai kebudayaan, kita tertarik menggagas Festival kuda lumping di Banyuasin. Landasannya Kabupaten khas pertanian ini sekitar 40 persen penduduknya berasal dari transmigrasi Jawa seperti Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa timur. Gagasan ini bukanlah hanya sekedar gagah-gagahan menjelang pemilu ataupun pilkada 2024, namun didalamnya memiliki nilai spirit kebudayaan dan ekonomi kerakyatan.
Mungkin tidak banyak menyadari ketika Paguyuban Seni Kuda Lumping Rukun Santoso Turonggo Satu Budi tampil di Desa Banyu Urip Kec. Tanjung lago, Banyuasin, Sumatera Selatan, ratusan orang menikmati seolah ada hiburan alternatif ditengah derasnya modernisasi. Lebih dari itu, ekonomi rakyat juga bergeliat dengan munculnya Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang memanfaatkan momen festival untuk meraih rezeki. Jika ini dilakukan masif tidak hanya budaya lokal yang lestari ekonomi rakyat juga bisa tumbuh.
Jika melihat data BPS, Banyuasin memiliki 288 desa dan 16 kelurahan. Kita berfikir jika berbagai budaya lokal ini bisa ditampilkan di setiap desa 1 kali saja setiap tahunnya dengan perputaran UMKM rakyat sebanyak Rp 15 juta, maka akan ada sekitar Rp 4,5 Miliar rupiah yang beredar dengan adanya even seperti kuda lumping ini di Kabupaten Banyuasin. Bagaimana jika lebih dari itu maka akan semakin tinggi perputaran uang di ajang festival ini.
Dalam konsep dan gagasan kita, ini bukan hanya menjadi hiburan untuk masyarakat sekaligus namun lebih dari itu bisa menumbuhkan geliat UMKM rakyat di pedesaan yang mungkin saja kondisi sebagian masyarakat sulit. Kemudian yang terpenting kegiatan festival kuda lumping ini bisa melestarikan budaya lokal Jawa di Banyuasin, Sumatera Selatan ditengah modernisasi.
Bagi kita yang sangat konsen terhadap kebudayaan lokal, kuda lumping jangan sampai hilang bahkan ke depan kita punya mimpi ada pertunjukan pagelaran budaya lokal lebih besar yang dikolaborasikan dengan hiburan misalkan dengan tajuk festival musik dan kesenian budaya lokal.
Sebagai seorang politisi dari Partai Gerindra, menggeliatkan budaya lokal seperti kuda lumping juga bisa punya efek ganda mempopulerkan Partai politik seperti Gerindra yang menjadi naungan kita serta memperjuangkan visi politik kita melalui budaya lokal.
“Sebaik-baiknya politisi, yang paling baik bisa bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara”.(*)














