BeritaBERITA TERKINIEKONOMI & BISNISNUSANTARA

Energi yang Menyembuhkan: Dari Hulu Migas ke Tangan Perempuan Desa Gajah Mati

×

Energi yang Menyembuhkan: Dari Hulu Migas ke Tangan Perempuan Desa Gajah Mati

Sebarkan artikel ini

Energi Sosial di Tengah Transisi Energi

MATTANEWS.CO.ID, MUSI BANYUASIN – Di tengah tantangan transisi energi nasional, sektor hulu migas terus menunjukkan perannya dalam menjaga ketahanan energi dan sekaligus memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah operasinya. Salah satu contohnya terlihat di Desa Gajah Mati, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan tempat di mana energi bukan hanya mengalir melalui pipa gas, tetapi juga menghidupkan semangat perempuan desa untuk mandiri.

Energi yang Menumbuhkan Harapan

Aroma jahe dan kunyit menyeruak dari sebuah rumah sederhana di Desa Gajah Mati. Di dalam dapur kecil itu, tangan-tangan Ibu Yeni Lusmita tak henti menakar serbuk herbal racikannya. Di rak kayu tersusun rapi botol berisi minuman instan kunyit asam, jahe merah, hingga temulawak. “Semua dari kebun sendiri,” ujarnya sambil tersenyum, Sabtu (1/11/2025).

Yang mungkin tidak banyak diketahui, kesibukan Ibu Yeni hari ini berawal dari sebuah program pemberdayaan masyarakat oleh Medco E&P Indonesia, bekerja sama dengan SKK Migas, yang memperkenalkan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di Desa Gajah Mati sejak 2012. Program itu mengajarkan warga, terutama kaum ibu, memanfaatkan pekarangan rumah menjadi lahan produktif menghasilkan kesehatan sekaligus penghasilan.

“Sejak awal, saya memang bersemangat mengikuti program ini karena bahan-bahan tanaman obat banyak terdapat di lingkungan sekitar kami. Apalagi sejak dikenalkan oleh Medco, manfaat dan cara mengolah tanaman obat, dari situ saya dapat membantu kesembuhan warga yang sakit,” tutur Ibu Yeni, ibu tiga anak yang kini menjadi panutan banyak perempuan di desanya.

Dari Tanaman Obat ke Produk Bernilai Jual

Saat program TOGA pertama kali diperkenalkan, hanya segelintir warga yang tertarik. Namun, berkat semangat belajar dan pendampingan intensif, kini kelompok herbal Kenanga yang dipimpin Ibu Yeni telah memproduksi lebih dari 15 jenis produk herbal: mulai dari simplisia kering, serbuk minuman instan, hingga camilan berbahan rempah.

Medco E&P tidak hanya memberi pelatihan teknis, tetapi juga membantu warga belajar tentang pengemasan, pemasaran, hingga desain kemasan yang menarik. “Sejak dikenalkan Medco cara mengolah tanaman obat, kami bisa membantu warga yang sakit sekaligus menambah penghasilan,” kata Yeni. Produknya pun kini mulai dikenal di sekitar desa dan dipasarkan ke daerah lain.

Selain menjadi produsen, Ibu Yeni juga dikenal sebagai pengobat herbal tradisional. Banyak pasien datang ke rumahnya untuk berkonsultasi dan berobat. “Penyakitnya bermacam-macam, mulai dari yang ringan seperti gatal-gatal sampai pasien penderita diabetes datang ke sini dengan kondisi kaki yang sudah membusuk. Alhamdulillah, setelah menjalani pengobatan herbal dengan kami, pasien tersebut sembuh dan kakinya tidak perlu diamputasi,” ucapnya berseri-seri.

Efek Berganda Hulu Migas: Lebih dari Sekadar Energi

Program TOGA menjadi contoh nyata bagaimana kegiatan hulu migas tidak berhenti pada eksplorasi energi semata. Di baliknya, ada efek berganda yang menyentuh aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup.

Menurut Herry Suriyadi Purnama, Supervisor Community Relation & Enhancement Medco E&P Indonesia, “Program TOGA ini memang ingin lebih menyentuh pada ibu-ibu di sekitar wilayah operasi. Adanya kesulitan akses fasilitas kesehatan seperti Puskesmas masih dirasa kurang optimal. Dengan program penyadaran obat keluarga, hal itu bisa membantu pengobatan penyakit ringan dalam lingkungan terkecil yaitu keluarga masing-masing.”

Herry menambahkan, “Ibu Yeni ternyata telah berhasil menyemangati dirinya sendiri dan kelompoknya untuk menekuni kegiatan TOGA hingga kini akhirnya menjadikan kegiatan ini sebagai penghasilan utama dalam membantu ekonomi keluarganya.” Dari rumah kecil di Gajah Mati, semangat wirausaha dan solidaritas sosial tumbuh kuat menjadi inspirasi di tengah komunitas perempuan desa.

Ekonomi Keluarga Tumbuh

Berkat hasil penjualan produk herbal, ibu-ibu di desa kini memiliki penghasilan tambahan. Produk mereka dijual ke pasar sekitar dan mulai diminati di luar daerah. Aktivitas ini membantu ekonomi rumah tangga dan memupuk kemandirian perempuan desa.

Kesehatan Masyarakat Meningkat

Dengan mudahnya akses obat herbal, warga tak perlu lagi jauh-jauh ke puskesmas untuk mengobati penyakit ringan. Program ini juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat dan alami.

Lingkungan Lebih Hijau

Pemanfaatan pekarangan rumah dengan konsep pertanian ramah lingkungan membuat lingkungan desa lebih asri. Penggunaan pupuk organik dan kompos mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia pertanian.

Pemberdayaan Perempuan Desa

Kaum ibu yang sebelumnya pasif kini menjadi motor penggerak ekonomi lokal. “Ibu-ibu di sini tidak hanya belajar membuat produk, tapi juga belajar percaya diri. Kami bisa berdiri di atas kaki sendiri,” ucap Yeni dengan mata berbinar.

Dari Desa Menuju Pengakuan Nasional

Program TOGA binaan Medco E&P Indonesia dan SKK Migas di Blok Rimau bukan sekadar program sementara. Kini telah diimplementasikan di lima kabupaten di Sumatera Selatan — Musi Banyuasin (7 desa, 306 peserta), Banyuasin (4 desa, 277 peserta), Muara Enim (4 desa, 77 peserta), Lahat (2 desa, 91 peserta), dan Musi Rawas (4 desa, 142 peserta) — dengan total 893 penerima manfaat.

Keberhasilan program ini turut mengantarkan Medco E&P meraih penghargaan PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI — sebuah pengakuan atas komitmen perusahaan menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan secara berkelanjutan.

“Program TOGA ini memang kami desain untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat, terutama perempuan,” ujar Novita Ambarsari, Officer Relcom & Enhancement Area 2 Medco E&P. “Dari hal kecil seperti menanam toga, lahir perubahan besar yang memberi nilai ekonomi dan kesehatan.”

Energi Sosial yang Tak Pernah Padam

Kini, rumah Ibu Yeni Lusmita bukan hanya tempat produksi herbal, tapi juga ruang belajar bagi ibu-ibu lain yang ingin mandiri. Dari situ, semangat tumbuh seperti tunas-tunas jahe di pot kecil halaman rumahnya. “Saya ingin ibu-ibu lain juga merasakan manfaatnya. Kalau kita mau belajar, apa pun bisa jadi rezeki,” ujarnya.

Bagi masyarakat Desa Gajah Mati, energi yang mereka rasakan bukan sekadar listrik atau bahan bakar. Energi itu hadir dalam bentuk semangat, kemandirian, dan harapan baru yang tumbuh dari tangan-tangan perempuan desa.

Penutup: Ketika Energi Menghidupkan Kehidupan

Di balik sumur migas yang menopang kebutuhan energi nasional, ada kisah sederhana tentang perempuan desa yang menyalakan energi kehidupan. Dari pekarangan kecil di Gajah Mati, energi itu menjelma menjadi kekuatan sosial yang menggerakkan perubahan. Inilah efek berganda hulu migas ketika energi bukan hanya menggerakkan mesin, tapi juga menghidupkan manusia.

Catatan Redaksi / Data Pendukung:
– Program TOGA (Tanaman Obat Keluarga) dilaksanakan oleh PT Medco E&P Indonesia di bawah koordinasi SKK Migas.
– Implementasi di 5 kabupaten: Musi Banyuasin, Banyuasin, Muara Enim, Lahat, dan Musi Rawas (total 893 peserta).
– Program ini menjadi salah satu faktor penilaian keberhasilan PROPER Emas Medco E&P Indonesia oleh KLHK RI.