MATTANEWS.CO, MUBA – Wajah Rika tampak sumringah. Senyum selalu tersungging di bibirnya. Gadis lugu warga Desa Pagar Desa, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) itu sangat
senang dengan berdirinya balai pendidikan di kampungnya.
Bagi warga Suku Anak Dalam
(SAD) di desa itu memiliki fasilitas pendidikan merupakan mimpi yang menjadi kenyataan.” Saya sangat senang karena bisa belajar setiap hari,” sahut anak perempuan berusia 11 tahun itu ketika ditemui beberapa waktu lalu.
Ia mengungkapkan sebelum balai yang terbuat dari kayu dan bambu berukuran 6×8 meter itu berdiri, anak-anak usia sekolah hanya bisa belajar bersama dua hari dalam sepekan. Tempat
belajar mengajarnya pun alakadarnya. Sebelum ada saung, anak-anak belajar di balai kecil yang dibangun secara swadaya. Balai itu digunakan bergantian dengan ibu-ibu setempat yang mengenyam ilmu bercocok tanam.
Adapun untuk tenaga pengajarnya, selama ini didatangkan dari luar kampung atau sekolah terdekat dengan mereka yakni daerah Jambi. Pendirian balai itu terwujud atas inisiatif Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kecamatan Bayung Lencir dan Kabupaten Muba untuk warga SAD di
wilayah Rompok Soak Buring, Desa Pagar Desa, Kecamatan Bayung Lencir, Muba, dan Desa Pangkalan Bayat.
Saat ini pembangunan yang dimulai sejak bulan Maret sudah mencapai 40 persen. Pembangunan agak tersendat karena adanya kendala akses pengiriman material. “Harapan
kami awal tahun ajaran baru saung tersebut sudah bisa digunakan,” kata Kepala Desa Pagar Desa, Firman Luter Hia.
Harapan itu agaknya akan segera terwujud. Ketua TP PKK Kabupaten Muba, Thia Yufada Dodi Reza, notabene istri Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin, telah berkomitmen
meresmikan penggunaan balai tersebut pada tanggal 26 Juli 2021 kemarin. Tanggal itu sengaja dipilih dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.
Kebetulan di Desa Pagar Desa yang terdiri dari 25 Kepala Keluarga memiliki 27 anak usia sekolah. “Semuanya tingkat SD,” ujar Firman.
“Mereka memang sangat ingin memiliki sarana pendidikan. Hasrat belajar mereka tinggi sekali,” tuturnya menambahkan.
Demi mewujudkan hasrat, warga lantas menyampaikan aspirasinya ke pemerintah desa. Dan gayung pun bersambut. “Alhamdulilah ada kerjasama dari pihak kabupaten dan
kecamatan bersama pihak ketiga yang bisa membantu SAD ini,” ucapnya seraya berharap fasilitas pendidikan ini dapat memberantas buta huruf di desanya.
Yang dimaksud dengan pihak ketiga, tak lain PT Marga Bara Jaya, yang menyalurkan bantuan melalui program
tanggung jawab sosial korporasi (CSR).
Pendi, tokoh masyarakat setempat, menyambut baik pendirian balai tersebut. “Kami ingin anak-anak
mendapatkan pendidikan yang layak, maka itu saung ini sangat penting agar mereka punya tempat belajar. Terima kasih juga kepada Pemkab Muba, PT MBJ, dan pemerintah desa. Jangan sampai anak-anak seperti kami orangtuanya yang buta huruf,” tutur dia.
“Saung belajar ini tentu sangat membantu mereka memperoleh pendidikan, ibaratnya pengganti gedung sekolah. Maka itu seluruh SAD yang ada bisa membaur terhadap masyarakat saat mendapatkan pendidikan,” timpal Firman.
Menurutnya, menerima modernisasi dalam jangka panjang, diharapkan dari saung ini jumlah masyarakat SAD terdidik akan meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir jumlah masyarakat SAD yang mengecap
pendidikan dari tingkat SD hingga perguruan tinggi naik cukup pesat. Ini tak terlepas dari pengaruh modernisasi yang merambah pemukiman mereka.
Masyarakat SAD di Bayung Lencir pada umumnya sudah beradaptasi dengan masyarakat umum, seperti berpakaian, menetap di rumah. Mereka juga memiliki televisi, radio bahkan parabola.
SAD atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Jumlah populasi mereka saat ini diperkirakan mencapai 200.000 orang. Pada umumnya mereka hidup secara nomaden dan mencari nafkah dengan berburu dan
mengumpulkan buah-buahan dari hutan. Walau tak sedikit juga saat ini yang menetap di suatu tempat dan berbaur dengan warga sekitar. Banyak dari mereka sekarang telah memiliki
lahan karet dan pertanian lainnya. Dan banyak juga warga SAD di daerah Musi dan Rawas menerima modernisasi termasuk penggunaan kendaraan bermotor.(*)














