BERITA TERKINI

‘Fenomena Chidfree’ Menteri BKKBN Gencarkan Program Tamasya dan Genting

×

‘Fenomena Chidfree’ Menteri BKKBN Gencarkan Program Tamasya dan Genting

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, MALANG – Dalam kunjungan kerja (kunker) Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN), Dr. H. Wihaji, S. Ag., M.Pd menggelar Dialog dan Diskusi Bersama Penyuluh Keluarga Berencana dan Kader Bangga kencana Kota Malang, berlangsung di Gedung Mini Office Pemerintah Kota Malang, Selasa (12/8/2025).

Dalam kunjungan kali ini, Menteri BKKBN Wihaji didampingi oleh Kepala BKKBN Jawa Timur Maria Ernawati, Walikota Pasuruan Adi Wibowo, Anggota DPRD Kota Malang.Djoko Prihatin langsung disambut oleh Sekda Kota Malang, Erik Setyo Santoso mewakili Wali Kota Malang.

Pada kesempatan tersebut, Sekda Erik menyampaikan salam hormat dari Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat dan Wawali atas kunjungan Menteri BKKBN bersama rombongan ke kantor mini blok office Pemkot Malang.

“Salam hormat dari Pak Wali dan Wawali beliau sangat berbangga dengan Pak Menteri dan Bapak Ibu sekalian ini berkenan hadir ke kantor Pemerintah Kota Malang,’ ungkapnya.

“Beliau menugaskan kepada saya untuk menyambut dengan baik Bapak Ibu sekalian semuanya dan pasti jika ada yang kurang berkenan dalam pengiapan-penyiapan tempat mohon dimaafkan,” terang Erik

Sementara itu, Menteri BKKBN, Wihaji menegaskan bahwa dalam rangka membangun keluarga berkualitas serta menekan angka stunting tersebut sesuai dengan arahan dan instruksi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pihaknya memastikan bahwa ibu hamil, ibu menyusui dan balita non paud bakal masuk daftar sebagai penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Selain itu, Menteri Wihaji juga telah menyoroti fenomena pasangan yang tidak ingin memiliki anak (Chidfree) dengan berbagai pertimbangan, pihaknya mencatat sekitar 71 ribu perempuan di Indonesia pingin Chidfree.

“Jadi data menunjukkan 71 ribu perempuan di Indonesia pingin Chidfree, saya meyakini meskipun pingin tetapi Insyaallah itu tidak akan dikerjakan,” terang Menteri Wihaji.

Menurutnya, beberapa faktor pasangan yang ingin melakukan Chidfree yaitu faktor ekonomi, faktor pekerjaan dan faktor peradaban baru.

“Prinsipnya saya meyakini untuk Indonesia soal Chidfree itu bukan pilihan, saya menghormati apa yang mereka inginkan, tetapi saya selaku menteri tentu pemerintah harus hadir, kenapa itu terjadi saya menjawab dengan Program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak),” jelasnya.

Masih kata Wihaji, Program Tamasya ini tentunya untuk memastikan bahwa apa yang mereka takuti langsung terjawab.

“Mereka yang takut mengasuh anak kita jawab dengan Taman Penitipan Anak yang kota bungkus melalui Taman Asuh Sayang Anak, oleh karena itu yang sibuk bekerja biar tetap bisa bekerja,” ujarnya.

Program tersebut juga telah bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), bahkan Wihaji menyebut bahwa seluruh korporasi yang bergerak di KLH salah satunya wajib menyediakan proper Tamasya.

“Itu biar anak-anak mereka berhak mendapatkan pendidikan, Bapak Ibunya tetap bisa kerja tanpa harus keluar dari pekerjaan, anaknya tetap dapat pola asuh dari orang tuanya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Menteri BKKBN menambahkan bahwa Program Gerakan Orang Tua Asuh Anti Stunting (Genting), setelah ada MBG juga berkolaborasi dengan beberapa pihak dalam mendukung air bersih ataupun sanitasi.

“Memang sudah ada MBG, tetapi ada beberapa yang sempat stunting tidak hanya Maslah asupan gizi, apa yang tidak bisa dicover Pemerintah, kita minta cover pentahelix yaitu Korporasi, BUMN maupun Swasta dan penyuluh-penyukuh sendiri yang sekarang menjadi orang tua asuh bagi mereka,” tukasnya.