Reporter : Rachmat Sutjipto
OKI, Mattanews.co – Sejak dua pekan lalu, warga Dusun 6 Tulung Udean, Desa Cengal Kecamatan Cengal Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dihebohkan oleh kehadiran 3 ekor kawanan gajah yang diperkirakan eksodus dari habitatnya di kawasan Ulak Kedondong Selapan dan sekitarnya.
Menariknya, walaupun gajah tersebut diperkirakan tengah menderita kelaparan, namun kawanan satwa liar yang dilindungi undang-undang tersebut justru menunjukkan sikap persahabatan kepada warga setempat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan dari pemilik rumah atau kebun milik warga yang mengaku mengalami kerusakan akibat kedatangan gerombolan hewan berbadan besar ini.
Kepala Desa Cengal Mario mengungkapkan bahwa keberadaan gajah tersebut diperkirakan tengah beralih tempat. Seringnya gajah bermunculan, disebabkan karena habitat mereka yang semakin lama semakin berkurang.
Menurut dia, gajah yang kerap muncul saat malam tiba untuk mencari makanan ini, terdiri dari 1 induk gajah betina disertai 2 ekor gajah berukuran kecil. Ia bersyukur, diawal kedatangannya sempat menimbulkan kepanikan, namun kendati hewan berlalai panjang tersebut belum dapat dikatakan jinak, namun sikap bersahabat yang ditunjukkan tidak menyebabkan kerusakan,
“Kawanan gajah tersebut sering keluar hutan malam hari hingga mendekati permukiman warga. Sedangkan saat siang, hewan tersebut berkeliaran dalam kebun sawit dibawah kuasa PT London Sumatera,” terangnya, Rabu (23/06/2020).
Kehadiran gajah dewasa ini, bukan lagi primadona dihati warga. Gajah tersebut, justru dengan framing tertentu, diciptakan sebagai satwa perusak tanaman. Kenyataannya berbanding terbalik. Justru manusia yang terus mempersempit habitat mereka.
Hewan yang dianggap memicu berbagai kerusakan akibat kerap mengamuk tersebut, sejatinya merupakan pertahanan terbaik yang dimiliki hewan tersebut untuk sekedar bertahan ditengah kepungan modernisasi.
Seperti diungkapkan Mario selanjutnya. Ia memperkirakan akibat tergerus pembangunan serta membuka lahan baru untuk dijadikan kebun sebagai penyebab berkurangnya pasokan makanan, sehingga kawanan gajah tersebut mencoba masuk lahan penduduk.
Habitat mereka terancam akibat lahan yang sebelumnya hutan lebat, kini beralih fungsi dijadikan kebun. Mungkin karena itu, pasokan makanan mereka pun menjadi sedikit. Beruntung, saat memasuki kawasan kebun dan pemukiman, meski dalam keadaan lapar, gajah tersebut tidak mengamuk, yang mengancam keselamatan warga.
Dengan sikap simpatik inilah, sambung Mario, tanpa sengaja, terjalin semacam ikatan persahabatan, hingga warga dengan sukacita turut menyiapkan makanan berupa daun sawit dan batang pohon pisang dipersiapkan sebagai santapan ketiga gajah tersebut.
Diakhir perbincangan, ia mengaku telah meminta agar warga tidak sampai melukai gajah. Masyarakat juga diminta tidak melakukan tindakan gegabah karena sewaktu-waktu gajah bisa menyerang,
“Walaupun demikian, kami meminta aparat terkait dapat menanggulangi kawanan gajah agar dipindahkan dari kawasan desanya. Warga yang memiliki tanaman karet disekitar lintasan gajah, mengaku resah dan takut nantinya berpapasan dengan gajah, terutama saat hendak menyadap karet di kebun,” tandasnya.
Editor : Anang














