BERITA TERKINIHEADLINENUSANTARAPENDIDIKAN

Hari Kesaktian Pancasila: Menakar Relevansi di Tengah Krisis Kebangsaan

×

Hari Kesaktian Pancasila: Menakar Relevansi di Tengah Krisis Kebangsaan

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, CIAMIS – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Ciamis menggelar diskusi bertajuk “Hari Kesaktian Pancasila: Menakar Relevansi Pancasila di Tengah Krisis Kebangsaan”, Kamis (2/10/2025). Acara ini menghadirkan akademisi, pegiat media, unsur TNI, serta pemerintah daerah untuk menyoroti tantangan aktual implementasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa.

Ropik Muhsin, S.Pd., pegiat media, menyoroti derasnya arus digitalisasi yang memicu penyebaran hoaks. Ia menegaskan, media sosial sering dipakai untuk menyebar kebencian dan memecah belah masyarakat.

“Kebebasan berekspresi tidak boleh menjelma menjadi kebebasan menyebar fitnah. Literasi digital harus hadir sebagai perwujudan sila ke-2 dan ke-4,” tegasnya.

Dede Wahyu Firdaus, M.Pd., dosen sejarah Universitas Siliwangi, mengangkat isu ketimpangan sosial dan ekonomi. Ia menilai keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam sila ke-5 masih jauh dari kenyataan.

“Masih banyak masyarakat tertinggal dengan akses ekonomi yang timpang. Berdasarkan data BPS per Maret 2025, jumlah penduduk miskin masih mencapai 25,80 juta orang atau 9,30 persen dari total populasi,” ujarnya.

Dari unsur TNI, Kapten Inf Eka Jaenal Arifin, SH., MH., CNSP., Pasi Intel Kodim 0613 Ciamis, menekankan krisis moral generasi muda yang kian mengikis nasionalisme.

“Degradasi nilai dan minimnya keteladanan membuat generasi muda mudah terpengaruh budaya luar yang tidak sesuai jati diri bangsa. Ini tantangan besar bagi pendidikan karakter,” jelasnya.

Sementara itu, Wiji Subekti, S.E., Kepala Bidang Ideologi Kesbangpol Kabupaten Ciamis, mengingatkan ancaman radikalisme dan intoleransi yang berpotensi merusak persatuan bangsa.

“Politik identitas semakin menajam dan menjadikan perbedaan sebagai senjata konflik. Ini harus dilawan dengan penguatan nilai Pancasila dalam kebijakan publik,” tegasnya.

Fahmy Farid Purnama, Lc., M.Ag., akademisi sekaligus tokoh muda Ciamis, menekankan bahwa Pancasila menghadapi ujian berat di tengah krisis zaman.

“Kesaktian Pancasila bukan hanya simbol sejarah, tetapi nilai hidup yang harus relevan menghadapi tantangan hari ini,” ujarnya.

Ketua Bidang Pendidikan PMII Ciamis, Farhan Mujahidin, menutup diskusi dengan seruan refleksi.

“Ideologi bukan sekadar wacana, tetapi arah perjuangan. Mahasiswa harus menjadi pelita di tengah gelapnya arus pragmatisme dan krisis moral kebangsaan,” pungkasnya.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa Pancasila tetap relevan sebagai dasar negara. Namun, implementasinya menghadapi tantangan besar mulai dari kesenjangan sosial, krisis moral, hingga ancaman disintegrasi akibat hoaks dan politik identitas. Para narasumber sepakat, penguatan literasi digital, pemerataan ekonomi, pendidikan karakter, serta kebijakan publik yang adil menjadi kunci untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila.