BERITA TERKINIHUKUM & KRIMINAL

Hati-hati, Beberapa Kampung di Purwakarta Tak Layak Jadi Pemukiman Warga

×

Hati-hati, Beberapa Kampung di Purwakarta Tak Layak Jadi Pemukiman Warga

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PURWAKARTA – Beberapa wilayah di kabupaten purwakarta berpotensi alami pergeseran tanah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purwakarta, melansir beberapa perkampungan didua desa yang berada di ujung Barat wilayah Kabupaten Purwakarta itu tidak layak untuk di huni.

Pasalnya, wilayah tersebut berada di antara pertemuan dua sesar atau patahan yang rentan akan pergeseran tanah.

Kepala BPBD Kabupaten Purwakarta, Yuddy Herdiana membenarkan terkait hal itu. Hasil assessment jajarannya, potensi pergeseran tahan yang paling di antisipasi itu di antaranya di Kampung Cirangkong, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Tegalwaru. Serta, beberapa kampung di Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani.

“Daerah itu merupakan pertemuan antara sesar Lembang dan Sesar Baribis yang membentang hingga daerah Tangerang. Jadi, hasil kajian kami bersama Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi menyatakan jika wilayah ini tidak layak dihuni karena sangat rawan pergerakan,” ujar Yuddy Selasa (04/09/2022).

Yuddy menjelaskan, pergerakan tanah di wilayah ini terutama di Kampung Cirangkong Desa Pasanggarahan, memang kerap terjadi. Apalagi, di saat intensitas hujan mulai menunjukan peningkatan. Makanya, saat ini pihaknya pun harus ektra waspada sehingga hal-hal yang tidak diinginkan bisa diantisipasi sedini mungkin.

“Dari data yang ada di kita, Sejak 2019, 2020 dan 2021 juga sempat terjadi pergeseran tanah. Puncaknya, di 2021 yang sedikitnya 11 rumah hancur, 48 rumah rusak berat, serta 12 rumah yang rusak ringan,” kata dia.

Adapun di 2022 ini, kejadian tersebut juga kembali terulang. Tepatnya, pada awal Juni kemarin hingga mengakibatkan 21 rumah yang mengalami kerusakan. Tak hanya itu, akibat pergeseran tanah ini, jalan desa di wilayah itu juga terputus dan tak lagi bisa dilalui kendaraan.

“Tahun ini kami juga sudah melakukan Assesment. Kami tegaskan, Kampung Cirangkong memang yang paling rawan, khususnya di dua RT. Kita juga sudah menyampaikan jika lingkungan mereka tidak layak lagi untuk ditinggali,” jelas dia.

Menurut Yuddy, saat ini pemerintah juga sedang berupaya untuk merelokasi warga di kampung itu ke tempat yang lebih aman. Ada salah satu wilayah yang telah dipilih, yakni tetangga kampung yang masih satu desa. Adapun relokasinya, dilakukan secara bertahap.

Sementara itu, saat kejadian pergerakan di awal 2021 lalu Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika sempat menyampaikan jika pergeseran tanah di wilayah tersebut diakibatkan beberapa hal. Di antaranya, terjadinya alih fungsi tanah yang dulunya hutan dengan tanaman keras, sekarang menjadi menjadi kebun.

“Hasil dari laporan Badan Geologi, salah satu penyebabnya itu karena adanya aktivitas penambangan batu. Saya berharap, semua pihak termasuk masyarakat bersama-sama untuk bisa menjaga lingkungan,” ujar Anne kala itu.