MATTANEWS.CO, CIAMIS – Pondok Pesantren Miftahussalam memperingati Haul ke-22 pendirinya, Ummi Hj Ade Siti Maryati binti H. Thoyib Iskandar, pada Rabu, 23 Sya’ban 1447 H bertepatan dengan 11 Februari 2026 M.
Kegiatan tersebut berlangsung khidmat di lingkungan Pondok Pesantren Miftahussalam yang beralamat di RT 024 RW 010, Dusun Cireong, Desa Sukaresik, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis. Rabu (11/02/2026)
Acara haul ini menjadi momentum silaturahmi keluarga besar pesantren, para santri, alumni, tokoh masyarakat, serta para tamu undangan yang hadir untuk mendoakan almarhumah dan mengenang perjuangan beliau dalam mendirikan serta membesarkan pesantren.
Bertindak sebagai pembawa acara, Ustadz Ajawi selaku Dewan Guru Pondok Pesantren Miftahussalam sekaligus menantu almarhumah, membuka rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh hadirin, “Hatur wilujeung sumping ka Bapa, Ibu hadirin sadayana,” serta memohon maaf atas segala kekurangan dari pihak keluarga dan pesantren dalam penyelenggaraan acara.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan hadits Nabi Muhammad SAW: “Idza mata ibnu Adam inqatha’a amaluhu illa min tsalatsin” yang mengingatkan bahwa ketika manusia wafat, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.
Hadits tersebut menjadi penguat makna haul sebagai wujud doa dan harapan agar amal jariyah almarhumah terus mengalir.
Acara kemudian diisi dengan tawasul yang dipimpin oleh Kang Haji, secara khusus ditujukan kepada almarhumah, dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin dan mahalul qiyam.
Suasana haru dan kekhusyukan menyelimuti seluruh rangkaian kegiatan hingga akhirnya ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Habib Fachri bin Mahmud Al-Qodry.
Dalam kesempatan tersebut, KH Agus Salim selaku Pimpinan Pondok Pesantren Miftahussalam sekaligus putra pertama almarhumah, menyampaikan kesaksian tentang sosok sang ibu.
Ia menuturkan bahwa almarhumah merupakan pribadi yang sangat mencintai para ulama dan memiliki cita-cita besar untuk mencetak kader-kader ulama, meskipun beliau sendiri bukan seorang ulama.
“Beliau sangat mencintai sosok para ulama sehingga mempunyai cita-cita ingin mencetak kader-kader ulama, walaupun beliau sendiri bukan seorang ulama. Ilmu yang beliau miliki mungkin tidak banyak, tetapi diamalkan sehingga menjadi manfaat,” ujar KH Agus Salim.
Haul ke-22 ini bukan sekadar mengenang wafatnya pendiri pesantren, melainkan juga menjadi refleksi atas nilai perjuangan, keikhlasan, dan komitmen almarhumah dalam membangun pendidikan Islam.
Doa pun dipanjatkan agar iman dan Islam almarhumah diterima oleh Allah SWT serta seluruh amal jariyahnya terus mengalir melalui keberlangsungan Pondok Pesantren Miftahussalam dan para santri yang menuntut ilmu di dalamnya.














