MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menegaskan program rumah tahfidz telah menjadi motor perubahan pola pikir masyarakat terhadap pendidikan Al-Quran di Sumsel. Hal itu disampaikannya saat menghadiri pembukaan Khotmul Quran dan Imtihan Akbar Angkatan III Tartil, Tahfidz, dan Turjuman Metode Ummi yang digelar Ummi Palembang di Grand Ballroom Golden Sriwijaya, Kamis (14/5/2026).
Di hadapan ratusan peserta dari berbagai rumah tahfidz se-Sumsel, Herman Deru mengaku terharu melihat perkembangan program satu desa satu rumah tahfidz yang mulai digagas pada periode pertama kepemimpinannya.
“Saya sejujurnya terharu. Ini program saya di periode pertama, satu desa satu rumah tahfidz,” ujar Herman Deru.
Ia mengatakan, pada awal program tersebut diluncurkan, dirinya sempat ragu gagasan itu dapat berkembang besar. Namun dukungan para ustaz, penggerak pendidikan Al-Quran, hingga masyarakat membuat program tersebut tumbuh pesat.
“Saya hampir tidak percaya mau dibuat satu desa satu rumah tahfidz, tapi ternyata Ustad Malik dan para ustad lainnya mendukung program ini,” katanya.
Menurut Herman Deru, perkembangan rumah tahfidz di Sumsel bukan sekadar bertambahnya jumlah bangunan, melainkan tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk memperkuat pendidikan keagamaan sejak dini.
“Kenapa bisa cepat? Karena perubahan cara berpikir, mindset jadi perubahan. Rumah tahfidz ini tidak hanya berbicara bangunan, tetapi kegiatan belajar mengajar Al-Quran,” ucapnya.
Ia menyebut, dalam kurun empat tahun jumlah rumah tahfidz di Sumsel kini telah mencapai lebih dari 5.000 unit yang tersebar hingga ke desa-desa.
Herman Deru juga mengaitkan perkembangan pendidikan Al-Quran tersebut dengan prestasi Sumsel di tingkat nasional, khususnya pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).
“Kita pernah masuk 10 besar MTQ Nasional tahun 2006, setelah 16 tahun, tahun 2022 kita masuk lagi 10 besar. Bangga kita,” katanya.
Menurutnya, capaian itu menjadi bukti pembinaan generasi Qurani di Sumsel mulai menunjukkan hasil yang nyata.
Karena itu, Herman Deru mengajak para orang tua untuk tidak ragu mengarahkan anak-anak mereka menempuh pendidikan Al-Quran dan menjadi penghafal Al-Quran.
“Jangan pernah malu anak belajar Al-Quran. Justru ini kebanggaan bagi orang tua,” tegasnya.
Ia berharap para peserta yang mengikuti Khotmul Quran dan Imtihan Akbar Metode Ummi nantinya mampu menjadi penerus syiar Islam dan menularkan ilmu yang dimiliki kepada masyarakat.
“Ilmu yang didapat jangan berhenti di diri sendiri. Harus bisa diajarkan kembali kepada lingkungan sekitar,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Herman Deru juga menyoroti pentingnya peran ibu dalam membentuk karakter dan pendidikan anak di rumah.
“Ini tidak lepas dari peran ibu utamanya. Para ibu menyadari 70 persen program pendidikan berasal dari rumah,” katanya.
Ia pun mengutip pepatah Arab yang menyebut ibu sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.
“Kalau ibunya baik mendidik, maka anak-anaknya juga akan tumbuh baik,” tandasnya.
Sementara itu, Panitia Munaqosyah dan Khotmul Quran Akbar Metode Ummi, Maliki Utama Putra, mengatakan kegiatan tersebut telah memasuki tahun ketiga pelaksanaan. Tahun ini, sebanyak 149 peserta dinyatakan lulus dari berbagai lembaga rumah tahfidz di Sumsel.
“Antusiasme masyarakat terhadap pendidikan Al-Quran terus meningkat dari tahun ke tahun,” ujar Maliki.















