NUSANTARA

Hipma Nusa Puan Pertanyakan Status Desa Buano Utara ke BPS SBB

×

Hipma Nusa Puan Pertanyakan Status Desa Buano Utara ke BPS SBB

Sebarkan artikel ini

Reporter : Fitrah

Maluku, Mattanews.co Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Maluku disoroti oleh Himpunan Mahasiswa Nusa Puan SBB.

Para mahasiswa ini harus turun jalan untuk melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor BPS, di Jalan Niniari Desa Niniari Kecamatan Seram Barat Kabupaten SBB.

Aksi mereka ini tergerak untuk meminta penjelasan dari BPS SBB yang dipimpin Yuliana Marlisa. Terkait pemetaan batas wilayah desa Buano Utara yang dikeluarkan oleh BPS Kabupaten SBB.

Salah satu pendemo Usnadin Tombalisa dalam orasinya, menyesalkan atas kinerja BPS yang dibilang tidak profesional. Yang mana telah mengeluarkan merilis soal luas wilayah Buano utara 35.98 km, sedangkan buano selatan 91.57 km.

“Padahal secara historis, desa Buano Utara, telah memekarkan Desa Buano Selatan menjadi desa admistratif. Kenapa wilayah Buano Selatan lebih besar dari pada Buano Utara,” ujarnya, Rabu (4/12/2019).

Menurutnya, ini menunjukkan ketidakprofesional kinerja yang ditunjukan oleh BPS Kabupaten SBB. Sebab, sangat tidak rasional serta tidak masuk akal.

Seharusnya, lanjut Usnadin, Buano Utara harus pada posisi angka paling teratas, namun ini posisinya terbalik Buano Selatan pada posisi teratas dalam pemetaan wilayah. Padahal Buano Utara yang mekarkan Buano Selatan.

Buano utara memiliki empat dusun, sedangkan Buano Selatan hanya punya dua dusun.

“Sumber datanya dari mana, sehingga buano selatan dengan jumlah luas wilayah berada pada posisi teratas,” katanya.

Wan Tamalene koordinator aksi menyebutkan, mereka menolak dengan tegas data pembagian hak ulayat yang dirilis oleh BPS, karena data tersebut tidak sesuai dengan fakta otentik dilapangan.

Lalu, meminta pimpinan aksi kepada Kepala BPS SBB, agar transparansi dalam persoalan sumber data.

“Yaitu dengan melibatkan kedua pemerintah negeri Buano Utara dan Buano Selatan, tokoh adat, dalam menyelesaikan persoalan ini dengan baik,” ucapnya.

Selama tiga hari waktu yang diberikan kepada Kepala BPS untuk turun ke Pulau Buano. Jika tidak, maka mereka akan mendatangi kantor BPS SBB kembali dengan jumlah masa yang lebih besar.

Kepala BPS SBB Yuliana Marlisaa, menjelaskan ada dua jenis data yang diriliskan oleh BPS yakni data primer dan sektoral.

“Data primer sumber datanya dari lembaga BPS itu sendiri. Sementara data sektoral sumber datanya berasal dari bagian pemerintahan dan hingga kini belum diverifikasi,” ujarnya.

Editor : Nefri