NAMA : AYU SYAFITRI
NIM : 612023023
MATA KULIAH : ETIKA dan HUKUM MEDIA MASSA
DOSEN PENGAMPUH : MUHAMAD AFDOLI RAMADONI, S.SOS.,M.SOS
MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Arus informasi yang begitu cepat di era digital membawa dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, masyarakat semakin mudah mengakses informasi. Namun di sisi lain, hoaks justru tumbuh subur dan perlahan memengaruhi cara publik berpikir serta bersikap. Situasi ini menjadikan literasi digital sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditunda demi menjaga masa depan ruang publik.
Hoaks kini tidak lagi hanya berkutat pada isu politik atau kebijakan pemerintah, tetapi telah merambah persoalan sosial, kesehatan, hingga kehidupan sehari-hari. Banyak informasi yang dibagikan tanpa kejelasan sumber dan tanpa proses pengecekan. Akibatnya, opini publik sering kali terbentuk bukan dari fakta, melainkan dari emosi dan asumsi semata.
Menurut Ade Oktavia, dosen di Ma’had Saad Bin Abi Waqqahs, rendahnya literasi digital membuat masyarakat mudah terjebak dalam informasi menyesatkan. Ia menekankan pentingnya kemampuan membaca, memilah, dan memahami informasi secara kritis. Menurutnya, media digital seharusnya menjadi sarana pembelajaran dan pencerahan, bukan justru menambah kebingungan di tengah masyarakat.
Ia juga menyoroti bahwa penyebaran hoaks terjadi karena masih minimnya sikap kritis di ruang digital. Setiap pengguna media sosial memiliki tanggung jawab moral terhadap informasi yang dibagikan. Jika tanggung jawab ini diabaikan, ruang publik akan terus dipenuhi informasi yang merugikan dan menyesatkan banyak pihak.
Di era sekarang, opini publik tidak hanya dibentuk oleh media massa, tetapi juga oleh percakapan sehari-hari di media sosial. Di ruang inilah hoaks menyebar dengan cepat dan membentuk persepsi kolektif. Ketika informasi palsu terus dibiarkan, kepercayaan masyarakat terhadap media dan institusi pun perlahan terkikis.
Karena itu, literasi digital menjadi jalan keluar yang sangat penting. Masyarakat perlu dibiasakan untuk memeriksa sumber informasi, memahami konteks, dan tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan. Peran mahasiswa, pendidik, dan media sangat dibutuhkan agar publik tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga penjaga kebenaran.
Masa depan opini publik sangat bergantung pada cara masyarakat menyikapi informasi hari ini. Jika hoaks terus dibiarkan, ruang publik akan kehilangan arah. Sebaliknya, dengan literasi digital yang kuat, opini publik dapat tumbuh lebih sehat, rasional, dan berpihak pada kepentingan bersama.(*)














