NUSANTARA

Ini Data Kerusakan Pasca Gempa Bermagnitudo 6,8 SR di Dusun Waitasi SBB

×

Ini Data Kerusakan Pasca Gempa Bermagnitudo 6,8 SR di Dusun Waitasi SBB

Sebarkan artikel ini

Reporter : Edo

MALUKU, Mattanews.co – Sejak gempa bermagnitudo 6,8 SR yang mengguncang pulau Ambon, Seram Bagian Barat (SBB) dan Maluku Tengah pada Rabu (26/09/2019) lalu, hingga kini beberapa titik lokasi di Kabupaten Seram Bagian Barat mengalami kerusakan baik ringan, berat maupun sedang.

Salah satunya titik gempa di Kabupaten SBB yang mengalami kerusakan baik berat, ringan dan sedang baik fasilitas umum maupun pribadi berdasarkan data yang dihimpun media ini di posko bencana gempa bumi dusun Waitasi Desa Kairatu Kabupaten SBB.

Adapun kerusakan pasca gempa bumi diantaranya, sebanyak 86 buah rumah warga rusak, kategori rusak berat sebanyak 6 buah, rusak sedang 30 buah dan rusak ringan 50 buah.

Sedangkan fasilitas umum yakni talud pantai rusak berat sepanjang 100 meter, instlasi air 500 meter, jembatan rusak sedang, jalan stapak 150 meter retak, dan balai pertemuan rusak ringan.

Untuk fasilitas pendidikan ada dua SD mengalami rusak sedang, Pagar MA Aliyah rusak berat dan fasilitas rumah ibadah rusak ringan.

Salah satu tokoh masyarakat dusun waitasi Fathin Tuasamu kepada Mattanews.cko Senin (30/09/2019) menjelaskan semua data valid baik faslitas umum, fasilitas pribadi, pendidikan maupun fasilitas ibadah sesuai dengan pendataan yang sudah dilakukan.

“Dan saat ini pengungsian masyarakat waitasi tersebar pada tiga titik ada pada gunung siompo, gunung wailala dan gunung jemaat,” elas Tuasamu.

Lanjutnya, dikatakannya ada 220 kepala keluarga waitasi dengan jumlah jiwa 850 jiwa, adapula ibu hamil sebanyak 25 orang, bayi 25 orang dan balita 80 orang dan sedangkan lansia sebanyak 55 orang.

” Dan ada pula yang mengalami luka ringan sebanyak 10 orang,” ucap Tuasamu.

Ditanyakan soal kebutuhan yang mendesak saat ini sambungnya yaitu kebutuhan tenda, selimut, makanan, susu bayi, obat – obat dan lainnya,” tutup Fatin

Sampai saat ini para pengungsian masih mendiami tenda – tenda di hutan, belum kembali ke rumah masing – masing karena masih trauma apalagi masih ada gempa susulan walaupun tidak besar. Hal itu juga masih membuat masyarakat betah di tenda tenda pengungsian dari pada memilih kembali ke rumah masing – masing.

Editor : Anang