MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Pengembangan konsep agroforestri kopi robusta di Kota Pagar Alam cukup menjadi potensi yang memberikan manfaat besar bagi masayarakatnya. Agroforestri kopi adalah perpaduan antara tanaman kopi dengan tanaman penaung, tanaman sela dan komoditas lainnya.
Tanaman penaung juga berfungsi untuk menjaga kelembapan sinar matahari yang masuk ke kebun kopi. Sehingga tanaman kopi dapat tumbuh dan berbuah secara optimal. Selain itu masyarakat dapat menerima penghasilan tambahan dengan mengolah buah kopi tanpa harus menebang pohonnya, Penanaman tanaman penaung, dapat berupa tanaman buah-buahan seperti durian, petai, alpukat, dan nangka, atau yang lainnya.
Sehingga praktik agroforestri kopi dipilih sebagai salah satu upaya memberikan manfaat secara ekonomi maupun konservasi lingkungan. Sektor pertanian menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat kota Pagar Alam, dengan kopi robusta sebagai salah satu unggulannya.
Saat ini ada sekitar 11,000 petani yang mengandalkan penghidupannya pada kopi robusta di Pagar Alam. Akan tetapi dalam mempertahankan ekonomi rumah tangganya, petani kopi robusta ini memiliki kerentanan jika hanya mengandalkan pada satu produk. Perlu ada komoditas lainnya yang dapat disandingkan dengan kopi robusta, sehingga petani dapat menghasilkan tambahan pendapatan dari produk lainnya, hal ini dapat menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga mereka.
Tanaman buah-buahan dilihat memiliki potensi yang cukup baik untuk dikembangkan di Pagar Alam, terutama didukung oleh kondisi biofisik Kota Pagar Alam yang memiliki tanah yang subur dan curah hujan yang mendukung pengembangan tanaman buah-buahan. Pengembangan kopi robusta disandingkan dengan tanaman buah-buahan dalam sistem agroforestri kopi atau kebun campur kopi diharapkan bisa meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat Pagar Alam.
Dalam pengembangan agroforestri kopi dan tanaman buah-buahan, petani Pagar Alam masih terkendala dengan penyediaan bibit unggul dan pengelolaannya di kebun jika akan dipadupadan dengan tanaman kopi. Melalui kegiatan Empower yang dilakukan oleh World Agroforestry (ICRAF) bersama Sucden Coffee dengan dukungan dari JDE, IDH dan Pemerintah Kota Pagar Alam, juga berkolaborasi dengan BPSB-TPH Provinsi Sumatera Selatan dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, akses petani terhadap bibit unggul tanaman kopi dan buah-buahan ditingkatkan, dan juga teknik pengelolaan kebun agroforestri diperkenalkan.
Master Trainer SCOPI dan petani penyuluh juga dikerahkan untuk membantu proses pendampingan yang sudah dilakukan sejak 2018. Kopi Indonesia sudah cukup terkenal di dunia, dan salah satunya adalah dari Kota Pagar Alam, Sumatra Selatan.
Para petani kopi di Pagar Alam, melalui kegiatan Empower, berusaha meningkatkan produksi tanaman kopinya dengan menambah jenis tanaman penaungnya. Kegiatan Empower didukung oleh Sucden Indonesia, JDE (Jacobs Douwe Egberts) dan IDH, dan dilaksanakan oleh Nedcoffee dan ICRAF, memperkuat petani kopi robusta Pagar Alam untuk bertahan memproduksi kopinya walaupun terkendala berbagai kondisi, mulai dari iklim yang terkadang semakin tidak ramah sehingga menurunkan jumlah panen kopi, hama penyakit, kondisi tanaman yang sudah cukup tua, serta persaingan lainnya yang lebih menguntungkan secara ekonomi.
Melalui kegiatan Empower, para petani juga mendapatkan pendampingan dan pelatihan tentang agroforestri kopi di Kecamatan Dempo Tengah dan Dempo Utara. “Lokakarya ini bertujuan untuk menyampaian hasil-hasil kegiatan proyek Empower yang dapat digunakan untuk pengembangan agroforestri kopi robusta dan tanaman buah-buahan yang mendukung usaha pertanian Kota Pagar Alam, merumuskan integrasi pengembangan produksi dan pemasaran agroforestri kopi robusta dan tanaman buah-buahan dengan rencana strategi pembangunan Kota Pagar Alam. Serta mempertemukan para pelaku usaha kopi petik merah petani kopi Pagar Alam dengan pelaku pasar (pemilik kafe) untuk memperluas jaringan pemasaran kopi robusta petik merah Kota Pagar Alam,” ujar Endri Martini, selaku koordinator lapangan proyek Empower yang juga peneliti Agroforestry Extension Specialist di ICRAF Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa Sejak tahun 2018, Empower melihat potensi pengembangan agroforestri kopi dengan tanaman buah-buahan melalui kerjasama yang baik dengan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Bibit Tanaman Pangan dan Hortikultura.
Guna meningkatkan akses ke bibit unggul tanaman buah-buahan melalui pembangunan 6 kebun induk tanaman buah-buahan dan pemberian sertifikat kompetensi pembibitan terhadap 10 pembibitan tanaman buah-buahan unggul di Pagar Alam.
“Kebun entres kopi juga dikembangkan dengan menggunakan bibit yang dibeli dari Puslitkoka di Jember. Perbaikan mutu melalui pelatihan pembuatan pupuk organik dan paska panen kopi juga sudah dilakukan melalui kerjasama dengan Master Trainer SCOPI,” jelasnya.
Melalui proses selama 3 tahun di Pagar Alam, saat ini sudah terbentuk petani-petani unggulan (mobilizer) yang dapat membantu menyebarkan informasi mengenai perbaikan tanaman kopi di Pagar Alam.
Alpian Maskoni, Walikota Pagar Alam mengatakan Kopi Pagar Alam yang memiliki kualitas yang khas juga sudah dicoba dipromosikan oleh Proyek Empower melalui kontes-kontes kopi skala nasional dengan tujuan untuk memperkenalkan kopi Pagar Alam di kancah perkopian Indonesia. Beberapa petani yang juga terlibat dalam proyek Empower sudah secara mandiri mengembangkan produk-produk kemasan kopi petik merah yang dipasarkan secara online.
“Pelatihan pemasaran online juga harapannya dapat memberikan manfaat keberlanjutan bagi petani kopi Pagar Alam. Melalui kegiatan temu usaha yang dilakukan pada hari ini, diharapkan akan juga menambah jaringan pemasaran kopi petik merah Pagar Alam,” jelasnya.
Acara ini juga menghadirkan para petani sukses dari Pagar Alam untuk berbagi kisah dan pengalamannya selama mengikuti pendampingan dan mendapatkan berbagai ilmu mengenai agroforestry kopi untuk meningkatkan produksi kopi robusta petik merah. Selain untuk meningkatkan produksi, pengembangan strategi pemasaran juga dihadirkan dalam acara Talkshow Temu Usaha, dengan menghadirkan lima café owner dari berbagai daerah, yaitu Tangerang, Jakarta Barat, Cilacap, Surabaya, dan Jember.
Ke lima café owner ini telah menerima 6 sample kopi petik merah dan hasil uji tes menghasilnya nilai diatas 80. Hal ini membuktikan bahwa kopi robusta Pagar Alam mempunyai pangsa pasar yang cukup menjanjikan. Harapannya akan terbangun hubungan kerja sama dengan para petani untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan usaha pertanian di Kota Pagar Alam.














