KA Rapih Dhoho Tabrak Bus Harapan Jaya di MATTANEWS.CO,TULUNGAGUNG – Bus Pariwisata mengalami kecelakaan di perlintasan kereta api tanpa palang pintu yang masuk wilayah Desa Ketanon Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Minggu (27/2/2022) sekira pukul 05.16 WIB.
Hal ini, dibenarkan oleh Kapolres Tulungagung AKBP Handono Subiakto, S.H., S.I.K., M.H., mengatakan telah terjadi kecelakaan melibatkan antara bus Harapan Jaya Nopol AG 7679 US dengan kereta api Rapih Dhoho nomor lambung KA 531 jurusan Malang-Blitar-Surabaya.
“Jadi begini, telah terjadi kecelakaan bus Harapan Jaya AG 7679 US dengan KA Rapih Dhoho nomor lambung KA 531 di perlintasan tanpa palang pintu mengakibatkan 5 orang meninggal dunia, 14 orang mengalami luka-luka,” kata AKBP Handono didampingi Kasat Lantas AKP Muhammad Bayu Agustyan, S.I.K, di lokasi kejadian.
Mantan Kapolres Tulungagung Polda Jawa Timur menjelaskan kronologis sebelum kejadian kecelakaan.
“Bus Harapan Jaya ini mengambil penumpang dari pabrik plastik jaraknya kurang lebih 1 kilometer dari lokasi dari kejadian. Rencana rombongan ini ada 3 bus yang akan pergi berwisata ke Batu,” terangnya.
“Ada 3 bus yang bis pertama sudah melewati perlintasan, bus kedua mungkin disebabkan sopir kurang konsentrasi saat melewati perlintasan kereta api tanpa palang pintu, akhirnya ditabrak KA Rapih Dhoho yang melaju dari selatan (Tulungagung.red) menuju utara (Surabaya.red), dari bagian ekor bus tersebut,” imbuhnya.
Lebih lanjut Handono menjelaskan, bus Harapan Jaya yang mengalami kecelakaan tersebut sarat penumpang. Dari data sementara yang berhasil dihimpun petugas, jumlah penumpang sekira 41 orang, ditambah sopir dan kenek total ada 43 orang.
Usai kejadian, petugas melakukan evakuasi terhadap penumpang bus, selain itu berkoordinasi dengan pihak KAI untuk segera memindahkan bus tersebut agar jalur kereta api bisa normal kembali.
“Iya benar, 4 penumpang bus meninggal di TKP, dan 1 lainnya saat perawatan di rumah sakit, jadi total korban meninggal ada 5 orang. Sedangkan untuk yang luka-luka baik itu berat maupun ringan jumlahnya ada 14 orang, dan sekarang masih menjalani perawatan secara intensif,” terangnya.
“Untuk evakuasi kendaraan bus itu memang butuh waktu, kendalanya karena kondisi posisinya sempit, melintang, sehingga perlu khusus ditarik dengan mobil derek,” sambungnya.
Menurut Handono, pada saat kejadian kecelakaan di perlintasan kereta api tanpa palang pintu itu penjaga relawan belum ada.
“Petugas relawan itu belum ada saat kejadian, sedangkan untuk kode sirene yang biasa berbunyi saat ada kereta melintas, coba nanti kita cek berfungsi atau tidak setelah dilakukan investigasi pihak KAI,” ujar Perwira lama bertugas di Manado Polda Sulawesi Utara itu.
Lebih dalam Handono memaparkan, dengan adanya kejadian ini pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pihak KAI sebagai upaya mencegah kejadian tidak terulang kembali.
“Nanti kita akan koordinasi dengan pihak KAI supaya kecelakaan tidak terulang di perlintasan kereta api tanpa palang pintu,” paparnya.
“Sedangkan petugas tetap akan menunggu kondisi sopir yang masih dirawat menurut informasi kita terima. Setelah itu guna dimintai keterangan agar kronologis kejadian kecelakaan lebih lengkap,” tandasnya.















