MATTANEWS.CO, CIAMIS – Kawasan konservasi di wilayah Gunung Sawal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menjadi sumber tangkapan air bagi masyarakat. Pengelola kawasan menegaskan bahwa fungsi utama konservasi tetap diprioritaskan, sementara pemanfaatan sumber daya alam harus dilakukan secara terbatas dan berkelanjutan, Senin (02/03/2026)
Dalam penjelasannya, pengelola kawasan menyampaikan bahwa tugas utama mereka berfokus pada pengelolaan kawasan konservasi yang mencakup kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Untuk wilayah Ciamis, pengelolaan tersebut meliputi Suaka Margasatwa Gunung Sawal serta kawasan cagar alam yang berada dalam satu bentang ekologi.
“Secara tugas dan fungsi, kami menjaga kawasan konservasi agar tetap alami. Di kawasan suaka alam terdapat cagar alam dan suaka margasatwa, sedangkan di kawasan pelestarian alam terdapat taman wisata alam,” jelasnya.
Fungsi Air Bukan Kewenangan Langsung Pengelola Kawasan
Dari sisi siklus hidrologi, kawasan Gunung Sawal menjadi hulu berbagai sumber air, mulai dari mata air hingga aliran sungai yang bermuara ke daerah aliran sungai (DAS). Namun, pemanfaatan air pada badan sungai bukan menjadi kewenangan langsung pengelola konservasi.
Pengelola menyebutkan bahwa pengaturan aliran sungai berada di bawah instansi teknis seperti Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy serta dinas pekerjaan umum.
“Air yang berasal dari kawasan konservasi mengalir ke sungai-sungai dan DAS. Pemanfaatannya berada di luar wilayah kelola kami, karena lebih menjadi kewenangan instansi pengelola sumber daya air,” ungkapnya.
Konservasi Dukung Ketahanan Lingkungan, Bukan Produksi Pangan
Terkait isu swasembada pangan, pengelola menegaskan bahwa kawasan konservasi tidak difungsikan sebagai lahan produksi. Suaka Margasatwa Gunung Sawal tetap dipertahankan kondisi ekologinya agar mendukung keseimbangan alam.
Meski demikian, potensi keanekaragaman hayati seperti plasma nutfah tetap dapat dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan penelitian, farmasi, kesehatan, maupun pengembangan ilmu pengetahuan melalui mekanisme yang sesuai aturan.
“Kawasan konservasi bukan untuk produksi pangan, tetapi untuk menjaga sistem ekologinya. Potensi biodiversitas bisa dimanfaatkan untuk riset dan pengembangan secara legal,” jelasnya.
Harapan Sinergi Kawasan Konservasi dan Masyarakat
Ke depan, kawasan konservasi diharapkan mampu berfungsi optimal sebagai catchment area atau daerah tangkapan air yang menopang kebutuhan masyarakat. Sinergi antara pengelola dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberlanjutan ekosistem.
Pengelola juga mengingatkan masyarakat agar ikut menjaga kelestarian kawasan dengan tidak melakukan aktivitas ilegal seperti perambahan, penebangan liar, maupun pengambilan sumber daya alam tanpa izin.
“Isu lingkungan saat ini menjadi perhatian besar. Masyarakat diharapkan dapat mendukung kelestarian kawasan dengan tidak merusak atau mengambil manfaat secara ilegal,” tegasnya.
Dengan peran strategisnya sebagai penyangga ekologi dan sumber air, kawasan konservasi Gunung Sawal menjadi salah satu aset lingkungan penting yang harus dijaga bersama demi keberlanjutan kehidupan masyarakat di masa depan.














