MATTANEWS.CO, SIDOARJO — Pembangunan Jembatan Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, dipacu 24 jam untuk mengejar keterlambatan progres fisik yang mencapai minus 9,94 persen. Pemkab Sidoarjo menargetkan jembatan senilai Rp1,46 miliar tersebut rampung pada 16 Desember 2026.
Percepatan pekerjaan mulai diterapkan sejak Senin (5/10/2026), dengan penambahan tenaga kerja dan pembagian pekerjaan dalam dua tim. Langkah tersebut dilakukan agar ketertinggalan pekerjaan dapat segera dikejar tanpa mengabaikan kualitas konstruksi.
Bupati Sidoarjo H Subandi SH MKn saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di lokasi proyek, Selasa (6/10/2026), meminta kontraktor menerapkan sedikitnya dua shift kerja. Menurutnya, waktu yang tersisa harus dimanfaatkan secara maksimal untuk mengejar deviasi pekerjaan.
“PPK tadi menyampaikan deviasinya saat ini mencapai 9 persen. Karena ini pengerjaan jembatan, kami menyarankan agar diberlakukan minimal sistem dua shift untuk mengejar deviasi tersebut,” kata Subandi.
Subandi mengatakan masih tersedia waktu sekitar 2,5 bulan untuk mengejar keterlambatan. Ia meminta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) lebih aktif melakukan pengawasan dan memperkuat koordinasi dengan konsultan pengawas serta kontraktor.
“PPK kita sampaikan untuk sering sidak. Sering koordinasi antara konsultan dengan kontraktor. Kalau ada deviasi, panggil ke kantor, bicarakan kekurangannya apa untuk segera ditindaklanjuti. Kita ingin pelaksanaan pekerjaan jembatan ini tepat waktu,” ujarnya.
Ia menegaskan kendala teknis tidak boleh menjadi alasan berlarutnya keterlambatan. Menurutnya, kebutuhan material dan tenaga kerja telah disiapkan, sedangkan persoalan aliran air sungai semestinya sudah diperhitungkan sejak tahap perencanaan.
“Tidak bisa beralasan karena air. Sebelum bekerja kan sudah ada perencanaan. Karena itu, saya sampaikan kepada PPK dan konsultan pengawas agar pengawasan diperketat,” tegasnya.
Sementara itu, Konsultan Pengawas Proyek, Umar, menyebut progres fisik hingga Senin (5/10/2026) mencapai 52,64 persen. Namun, capaian tersebut masih mengalami deviasi minus 9,94 persen dari target.
Untuk mengejar ketertinggalan, pelaksana menerapkan catch-up plan dengan pola kerja 24 jam serta menambah tenaga kerja. Sebanyak 18 pekerja dibagi dalam dua tim untuk mempercepat pemasangan struktur baja, diafragma, dan gelagar WF.
“Kami membagi pengerjaan menjadi dua tim dengan total 18 pekerja. Pengerjaan dilakukan secara maraton hingga Subuh untuk memaksimalkan tahapan pemasangan struktur baja, diafragma, dan gelagar WF,” ujar Umar.
Umar menjelaskan, keterlambatan dipengaruhi sejumlah kendala, antara lain pengiriman material baja Wide Flange (WF), proses perakitan di workshop, akses pengangkutan, serta intensitas air sungai di area fondasi.
Meski demikian, pihaknya optimistis target penyelesaian tetap dapat dicapai. Saat ini, pengecoran pile cap abutment sisi utara telah selesai dan memasuki masa perawatan beton atau curing. Pekerjaan berikutnya difokuskan pada sisi selatan, dinding abutment, dan pier head.
“Meskipun ada keterlambatan di awal, dengan percepatan pemasangan baja dan pengecoran plat lantai serta plat injak yang sedang berjalan, kami optimistis proyek selesai tepat waktu,” katanya.
Jembatan Candinegoro tersebut terdiri atas dua unit jembatan masing-masing sepanjang 8 meter, sehingga total panjangnya mencapai 16 meter dengan lebar 4 meter.














