BERITA TERKINIEKONOMI & BISNISHEADLINEPEMERINTAHAN

Kendali Harga di OKI Terjaga, Inflasi Terendah di Sumatera Selatan

×

Kendali Harga di OKI Terjaga, Inflasi Terendah di Sumatera Selatan

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, OKI – Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mencatatkan performa ekonomi yang stabil di tengah dinamika harga pasar. Pada Maret 2026, laju inflasi tahunan (year-on-year) di wilayah ini menyentuh angka 2,74 persen.

Angka tersebut menempatkan OKI sebagai daerah dengan tingkat inflasi terendah dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Provinsi Sumatera Selatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten OKI yang dirilis dalam forum Focus Group Discussion (FGD) di Kayuagung, Rabu (1/4/2026), capaian ini berada di bawah rata-rata inflasi provinsi yang tercatat sebesar 3,09 persen.

Keberhasilan menekan laju kenaikan harga ini dinilai sebagai buah dari koordinasi yang erat dalam menjaga rantai pasok.

Kepala BPS OKI, Muhammad Dedy, menjelaskan bahwa meskipun secara umum terkendali, tekanan inflasi masih muncul dari kelompok pengeluaran tertentu.

“Inflasi sebesar 2,74 persen ini menunjukkan tekanan harga yang relatif moderat. Namun, andil besar masih datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama komoditas emas perhiasan serta penyesuaian tarif listrik,” ujar Dedy.

Secara bulanan (month-to-month), OKI mengalami inflasi sebesar 0,36 persen pada Maret 2026. Kenaikan harga ini dipicu oleh fluktuasi harga beberapa komoditas pangan, seperti daging ayam ras dan ikan patin, serta pengaruh harga bensin.

Sekretaris Daerah OKI, Asmar Wijaya, menegaskan bahwa posisi OKI sebagai daerah dengan inflasi terendah di Sumatera Selatan merupakan indikator efektivitas kerja Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Menurutnya, stabilitas harga adalah kunci untuk menjaga daya beli masyarakat agar tidak tergerus.

“Kami terus memperkuat langkah antisipatif, mulai dari pemantauan harga secara berkala hingga intervensi pasar jika diperlukan. Inovasi seperti penguatan distribusi pangan dan pelaksanaan pasar murah menjadi instrumen utama kami dalam meredam gejolak harga komoditas strategis,” tutur Asmar.

Kendati tren inflasi melandai, pemerintah daerah tetap mewaspadai potensi risiko di masa mendatang. BPS mengingatkan adanya tantangan dari sektor kebijakan energi dan komoditas pangan bergejolak (volatile foods) yang kerap dipengaruhi faktor cuaca maupun kelancaran distribusi.

Dikatakan Asmar, dengan koordinasi lintas sektor yang terjaga, Kabupaten OKI kini berada pada jalur yang tepat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi daerah.

“Fokus ke depan tetap pada pemastian ketersediaan pasokan agar fluktuasi harga global maupun nasional tidak berdampak signifikan terhadap kesejahteraan warga di tingkat lokal,” tandasnya.