Reporter : Zulfi
ACEH TAMIANG, Mattanews.co – Kelangkaan mesin pemotong padi atau combine harvester yang terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang jelang musim panen, sempat dilontarkan anggota DPRD Aceh Asrizal Asnawi.
Dimana, tanaman padi di Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang sudah memasuki usia panen.
Namun karena ketiadaan mesin pemotong padi, petani di wilayah itu hanya bisa menyaksikan padinya menguning tanpa bisa memanen.
Hal tersebut langsung ditanggapi oleh Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan (Distanbunak) Aceh Tamiang, Yunus.
Yunus juga meminta masalah minimnya mesin pemotong padi ini, tidak perlu terlalu dipolitisir.
“Sekarang ini memang musim panen serentak, karena kemarin menanamnya juga serentak. Jadi kebutuhan mesin pemotong padi juga meningkat,” kata Yunus.
Dia pun membantah dan sangat tidak setuju bahwa kelangkaan combine harvester ini, dikaitkan dengan tuduhan campur tangan oknum nakal.
Menurutnya, kondisi saat ini stok combine harvester di Aceh Tamiang memang sedikit dan umumnya dikelola oleh kelompok tani.
Selama ini, petani Aceh Tamiang memiliki kerja sama dengan petani di Sumatera Utara, khususnya tentang penggunaan combine harvester.
“Jadi yang digunakan selama ini mesin dari Medan, ada kerja sama, sepertinya menggunakan kontrak. Sebaliknya juga begitu, ada mesin yang digunakan di Sumatera Utara,” kata dia.
Persoalan muncul ketika musim panen padi di Sumut dan Aceh Tamiang serentak.
Stok mesin pemotong padi yang sejak awal memang minim menyebabkan sebagian areal terlantar.
“Janganlah sampai dibilang ada kecurangan, kasihan petani kita. Kondisi hari ini bisa dibilang kita tidak memiliki mesin. Kami sangat berharap dana aspirasi dewan dicurahkan untuk pengadaan mesin ini,” katanya.
Kendala utama pengadaan mesin ini disebutnya soal harga. Untuk mendatangkan satu unit mesin pemotong padi paling minimal membutuhkan anggaran Rp 400 juta.
“Harganya sangat mahal, paling murah itu Rp 400 jutaan. Jadi janganlah dipolitisir,” kata dia.
Dia menambahkan, setidaknya Aceh Tamiang saat ini membutuhkan 20 unit mesin combine harvester.
Usulan ini sudah disampaikannya melalui DPR RI asal Aceh dan Kementerian Pertanian.
Editor : Nefri














