Reporter : Mateus Tekege
DEIYAI PAPUA, Mattanews.co– Ketua dewan kesenian kabupaten Deiyai menyikapi TNI-Polri yang melakukan penyitaan budaya asli Papua. Rabu (27/5/2020) di Waghete, Deiyai Papua.
Hingga hari ini mereka (TNI/Polri) yang bertugas di kabupaten Deiyai masih lakukan Rasia atau Menyita yang bermotif kebudayaan masyarakat Papua yakni Noken buatan dari kulit kayu, anak-panah buatan dari jubi, manik manik buatan dari angrek, topi buatan dari rotang, koteka mogee itu semua disita (TNI/Polri).
“Sebagai ketua dewan kesenian kabupaten Deiyai Papua, sangat menyesalkan dengan adanya penyitaan budaya asli kami yang dilakukan TNI-Polri selama ini,”ucap mote.
Mote menegaskan agar pihak TNI/Polri tak boleh lagi melakukan penyitaan budaya Papua karena itu persempit pengembangan kebudayaan di kabupaten Deiyai, Papua.
“Penyitaan yang bersifat kebudayaan Papua ini saya secara pribadi sangat kesal karena itu membunuh karakter kami secara tidak langsung. Mohon supaya segera hentikan penyitaan budaya Papua,”tegasnya.
Sementara itu ditempat lain, intelektual muda meepago Domin Badii menegaskan, Seni dan Budaya adalah jati diri kami, ciri khas kami, identitas kami selalu saja dipojokan dan dipermainkan oleh mereka yang tidak mengenal dan memaknai budaya kami sebagai warisan leluhur kami bangsa Papua.
“Pemerintah kabupaten Deiyai baik itu dari lembaga eksekutif, legislatif, dewan adat daerah maupun kepala suku kabupaten Deiyai perlu adanya ketegasan dan mengambil kebijakan untuk menegur dan diberhentikan kepada TNI/Polri yang mana selalu saja menyita budaya asli Papua itu,”ujarnya.
Editor : Poppy Setiawan














