BERITA TERKINIHEADLINEPENDIDIKAN

Kisah Charles, Menimbah Ilmu Sambil Bekerja di Tanah Perantauan

×

Kisah Charles, Menimbah Ilmu Sambil Bekerja di Tanah Perantauan

Sebarkan artikel ini

Penulis : M. Marcelino Pahlevi (Mahasiswa Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang)

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Charles Cahya Saputra seorang anak laki-laki yang menimbah ilmu di kota orang dengan kerasnya hidup diperantauan. Pengalaman itu telah dirasakan oleh sosok anak laki-laki kelahiran Poelau Beringin, 19 Oktober 2000 selama 11 tahun lamanya.

Terlihat wajah Charles sangat tenang seperti kini sudah biasa menjalani hari-harinya saat ditemui, Sabtu Siang (11/11/2022) silam.

Charles sendiri sekarang tinggal di kediaman kakak perempuannya yang sudah menikah di Jalan Sukosari Soekarno Hatta Perumahan Bukit Baru. Tertampak sosok tenangnya memakai kaos oblong gelap sambil duduk bersandar di teras saat dijumpai.

Kisah Charles yang bermula merantau ke Baturaja saat itu ia duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Awalnya terasa sangat sulit baginya, takut dan ragu ia rasakan jika dirinya tidak mampu bertahan di kota orang, kesulitan yang ia rasa di awal ternyata terasa mudah seiring berjalannya waktu.

“Saya sangat bersyukur dipertemukan dengan teman-teman yang berasal dari berbagai daerah. Karena sesama anak rantau, jadi saya dan yang lain bisa saling berbagi kesedihan hingga kebahagiaan bersama,” ujarnya.

Menurutnya, bertemu banyak orang baru dengan bermacam-macam kepribadian pastilah membuatnya belajar banyak hal. Jika sebelumnya ia sering bergantung dengan keluarga di rumah, kini ia bisa melakukan banyak hal sendiri.

“Saya pribadi mengakui bahwa tidak pernah sama sekali menyesal karena sudah mengambil keputusan ini. Justru saya bangga pada diri sendiri karena berhasil keluar dari zona nyamannya untuk mencoba hal atau pengalaman baru dalam hidup,” ungkapnya.

Disinilah awal terbesit perasaan Charles yang menumbuhkan niatnya untuk mengurangi beban orang tua yang berada di dusun/desa. Charles ikut bekerja sambilan sebagai pengantar tabung gas LPG di Baturaja. Anak laki-laki seumurannya yang seharusnya bermain tanpa beban tapi tidak untuk Charles.

Awalnya sulit baginya karena rasa lelah atau bahkan rasa rindu dan batin yang ia dapat setelah beraktivitas seharian. Meski harus melakukan aktivitas tiada hentinya sejak pagi hingga siang hari ia harus memenuhi kewajibannya menimbah ilmu di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan sepulang sekolah ia harus mengantarkan gas yang berada di pangkalan ke warung atau agen setempat hingga petang. Dia tak pernah sedikit pun mengeluh akan hal itu.

“Namun, seiring waktu pangkalan gas LPG yang biasanya tempat saya bekerja memiliki masalah internal pada saat itu. Yang mengharuskan saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan seperti biasanya lagi dikarenakan pangkalannya memutuskan untuk tutup,” katanya.

Waktu berjalan, ia pun beranjak masuk ke Sekolah Menengah Atas (SMA), ia juga disini beruntung diajak kakak keponakannya sedusun yang kebetulan sama-sama sedang merantau di Baturaja dengan bekerja di salah satu studio foto yang mengkhususkan untuk Album kenangan prewedding. Gaji yang diperoleh ia pun dinilainya jauh lebih baik daripada di tempat ia bekerja sebelumnya.

Jika sebelumnya hanya menerima gaji sebesar 2.500 Rupiah per tabung gas yang ia antar ke warung atau agen setempat, namun sekarang lebih baik.

“Selama bekerja di studio foto ini, saya belum pernah melakukan atau tahu tentang fotografi ini,” beber dia.

Ia juga mengaku awalnya terkejut dengan pekerjaan yang sekarang, akan tetapi hal ini tidak mengurungkan niatnya untuk terus berkembang. “Saya terus Bersemangat berlatih, belajar dan berusaha memahami pekerjaan lewat training yang diberikan,” ujarnya.

Baginya bersama tekad yang kuat dengan pendirian yang kokoh, dengan itu juga akan membuat ia memastikan bahwa keringat yang ia keluarkan adalah bukti dari perjuangan. Air mata, keringat, dan tenaga akan terbalaskan dengan Kesuksesan yang orang tuanya harapkan. Hidup yang mengharuskan untuk hemat, permasalahan yang Charles selesaikan dengan buah pikiran ia sendiri, mental yang lebih tangguh dimiliki, kehilangan momentum hari-hari bersama keluarga.

“Semangat dan do’a dari kedua orang tualah yang selalu menguatkan saya melalui masa-masa sulit yang membuat saya merasa lelah,” tutupnya.(*)