MATTANEWS.CO, SIDOARJO – Desa Tambak Cemandi tepatnya di Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo merupakan wilayah pesisir sebagian besar penduduk Desa Tambak Cemandi bermata pencaharian sebagai nelayan dan petambak. Aktivitas ekonomi masyarakat sangat bergantung pada hasil laut dan tambak yang melimpah, menjadikan sektor perikanan sebagai tulang punggung kehidupan desa yang memiliki potensi alam yang khas dan strategis.
Di tengah dinginnya angin laut dan gelapnya dini hari, para nelayan di Tambak Cemandi telah memulai aktivitas mereka jauh sebelum matahari terbit. Sekitar pukul 04.00 WIB atau selepas subuh, perahu-perahu kecil mulai meninggalkan daratan. Dengan perlengkapan sederhana, mereka membelah laut demi mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga agar dapur tetap mengepul.
Rutinitas tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir Tambak Cemandi. Para nelayan mengandalkan pengalaman untuk menentukan lokasi potensial, baik dengan menebar jaring maupun memasang alat tangkap tradisional. Namun, pekerjaan ini tidak lepas dari berbagai risiko, mulai dari cuaca yang tidak menentu hingga hasil tangkapan yang sulit diprediksi.
Setelah beberapa jam melaut, nelayan biasanya kembali ke daratan antara pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Hasil tangkapan kemudian dijual ke pengepul atau dibawa ke tempat pelelangan ikan (TPI) Tambak Cemandi, Dalam kondisi normal, penghasilan kotor yang diperoleh berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per sekali melaut, sebelum dipotong biaya operasional.
Rohili (55), nelayan setempat yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari laut, mengaku kondisi saat ini semakin menantang, terutama saat musim angin timur.
“Kami nelayan sedih kalau tiba angin timur, sudah satu bulan ini tangkapan ikan berkurang. Dampaknya ke penghasilan, ditambah adanya isu-isu kenaikan BBM akibat perang Iran–Israel,” ujarnya kepada Mattanews Jumat (17/4/2026).
Untuk menekan biaya, Rohili melibatkan anggota keluarga dalam aktivitas melaut.
“Untuk menghindari pengeluaran berlebih, saya mengajak anak saya membantu menangkap ikan, karena tidak cukup untuk menggaji orang,” imbuhnya.
Hal serupa juga dilakukan Subur (58), yang mencari cara lain untuk menambah penghasilan di tengah ketidakpastian hasil tangkapan. Ia menyewakan perahunya kepada wisatawan lokal.
“Selain menangkap ikan, saya juga menyewakan perahu untuk memancing atau sekadar wisata berkeliling laut. Lumayan untuk tambahan penghasilan,” katanya sambil tersenyum.
Meski terlihat menjanjikan, penghasilan nelayan tidak selalu stabil. Pada musim tertentu, terutama saat cuaca buruk, hasil tangkapan bisa menurun drastis, bahkan tak jarang mereka pulang dengan hasil yang minim.
Di balik kerasnya pekerjaan, nilai kebersamaan tetap terjaga di antara para nelayan. Mereka saling berbagi informasi lokasi ikan, membantu saat mengalami kesulitan di laut, serta menjaga solidaritas di lingkungan pesisir.
Bagi nelayan Tambak Cemandi, melaut bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan yang telah dijalani secara turun-temurun. Suka duka menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan mereka hingga berangkat dalam gelap dengan harapan, dan pulang pagi hari dengan membawa hasil, apa pun yang diberikan laut hari itu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang terus mereka jalani.
Selain itu, desa ini juga didukung oleh ekosistem tambak yang luas serta keberadaan hutan mangrove yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir. Keberadaan mangrove tidak hanya melindungi wilayah dari abrasi, tetapi juga menjadi habitat bagi berbagai biota laut yang mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.
Dengan potensi alam dan sumber daya yang dimiliki, Desa Tambak Cemandi memiliki peran penting dalam pengembangan sektor perikanan pesisir di Kabupaten Sidoarjo.














