Kisah Pak Sularjo Tekun Mengais Rezeki Jadi Pedagang Bakso di Tanah Rantau

Penulis : Mila Salsabila (Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang)

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Malam hari, saat langit mulai gelap seorang pria itu tampak sibuk meracik bakso dan kuah ke dalam piring di gerobaknya. Meskipun tampak sibuk, dia melayani para pelanggan yang datang silih berganti dengan senyuman yang lebar dan ramah tamah.

Bapak itu bernama Sularjo. Demi memperbaiki ekonomi keluarga, dia berani merantau menyeberang pulau ke Palembang meninggalkan kampung halamannya di Wonogiri, Jawa Tengah.
Setibanya di daerah tujuan, Pak Sularjo pun memulai usaha bakso dengan menjadi pedagang bakso keliling dari tahun 1980.

Dengan berjalan kaki, dia mendorong gerobaknya menuju gang-gang kecil yang ada di Palembang. Dia masih terlihat bersemangat mengais rezeki dengan berjualan bakso.

Selama kurang lebih 7 tahun, Pak Sularjo terus menekuni usahanya itu dengan menjadi pedagang keliling bersama istrinya.

“Jualan bakso ini memang menjadi keinginan saya. Pengalaman saya itu jualan keliling selama 7 tahun. Selain itu karena kebutuhan dan ingin perbaiki ekonomi keluarga,” kata Pak Sularjo sambil tersenyum ramah.

Pedagang bakso berusia 67 tahun ini menceritakan dia membuat sendiri bakso yang akan di jual. Namun kerap kali usaha baksonya mengalami pasang surut karena cuaca yang mendung membuat para pembeli kian sedikit hingga dia harus pintar mengatur keuangan keluarga agar cukup untuk bertahan di tanah rantau.

“Memang iya, mungkin karena hujan, sehingga jarang orang keluar rumah, dan juga jumlah pembeli mengalami penurunan tetapi bersyukur saja,” ungkapnya sambil mengingat-ingat peristiwa yang sudah berlalu itu.

Bacaan Lainnya

Lambat laun usahanya mulai memperlihatkan kemajuan. Pak Sularjo mendapatkan ide yang tiba-tiba saja muncul dibenaknya untuk membuka gerai permanen yang nantinya akan dikembangkan menjadi warung bakso.

“Menjadi tukang bakso keliling hanya mendapatkan keuntungan kecil dan yang dijual hanya bakso saja, saat itu saya berpikiran untuk membuka warung bakso,” tuturnya sambil tak henti melayani pelanggan yang berdatangan.

Kemudian perlahan Pak Sularjo mulai mewujudkan keinginannya untuk memiliki gerai permanen pada tahun 1987. Saat itu, dia membuka warung bakso perdananya di Jalan KH Wahid Hasyim, Kecamatan Seberang Ulu I, 3-4 Ulu. Nasib baik menghampirinya, usaha baksonya berkembang pesat.

Dahulu saat memulai usaha bakso di kota ini, Pak Sularjo ditemani oleh istrinya Bu Kasmi, kini usahanya berhasil memperkerjakan beberapa karyawan.

Dahulunya Pak Sularjo hanya menjual bakso berupa pentolan biasa kini sudah ada bakso telur, bakso daging, dan bakso super. Bakso di jual dengan harga Rp14.000 per porsi.

Selain bakso di sini juga menjual makanan lain seperti mi ayam, dan es teh. Harganya juga sangat terjangkau yang di mulai dari Rp4.000 sampai Rp11.000. Dia membuka warung baksonya setiap hari dari pukul 15.00 sore hingga pukul 23.00 malam.

Pada tahun itu juga, Pak Sularjo lalu menamakan warung baksonya dengan nama Bakso Bioskop Lamo. Nama tersebut dipilih karena pada zaman dahulu ada bioskop lama yang sekarang sudah ditutup terletak di antara rumah-rumah warga dan tidak jauh dari warung Bakso Bioskop Lamo.

Secara perlahan, ekonomi keluarga Pak Sularjo pun mengalami peningkatan. Pelan-pelan dia mampu memenuhi kebutuhan pendidikan 4 orang anaknya. Bahkan dia kini menerima pesanan bakso untuk berbagai acara.

“Alhamdulillah sekarang omzet bisa Rp4.000.000 per hari,” ujarnya sambil memberikan senyum sumringah.

Di akhir perbincangan, pemilik Bakso Bioskop Lamo berharap agar para pelanggannya selalu menikmati cita rasa bakso yang disajikannya. Harapannya pelanggan dapat mengetahui cita rasa asli bakso daerah Wonogiri.

“Rahasia sebenarnya bakso Pak Sularjo itu, pertama, rasanya yang tidak pernah berubah sejak dulu. Saya yang membuat langsung resep bumbunya. Rahasia lainnya ada pada cara menarik perhatian pelanggan. Kedua, saat melayani selalu sikap ramah, karena untuk menarik minat pelanggan. Ketiga, jaga kebersihan warung. Karena biasanya yang pelanggan lihat dan sukai itu kebersihannya,” tandasnya sembari membuatkan bakso dan mi ayam untuk pelanggannya.(*)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait