MATTANEWS.CO, KAPUAS HULU – Gemuruh semangat nasionalisme menggema hingga ke pelosok perbatasan. Di bawah terik matahari Kapuas Hulu, Baur Unit Nik Inteldim Kodim 1206/Putussibau menapaki setiap sudut Dusun Sebintang, Kecamatan Kalis dengan satu misi mulia: mengibarkan kembali rasa cinta tanah air.
Jumat (07/08/2026), melalui Program Kampung Merah Putih, para prajurit TNI tidak hanya membagikan Bendera Merah Putih. Mereka turun langsung, dari pintu ke pintu, membantu warga memasang Sang Saka di halaman, di tiang bambu, di teras rumah.
Satu demi satu rumah di Dusun Sebintang kini diselimuti warna merah putih yang berkibar gagah. Bukan sekadar kain. Itu adalah simbol, sumpah, dan pengingat bahwa di ujung negeri ini, Indonesia tetap berdiri tegak.
Kegiatan ini bukan seremonial biasa. Bagi Baur Unit Nik Inteldim Kodim 1206/Putussibau Serma Abdul Majid, setiap helai bendera yang dipasang adalah pesan perjuangan.
“Kami berharap melalui Program Kampung Merah Putih ini, semangat patriotisme semakin tertanam dalam kehidupan masyarakat. Bendera Merah Putih bukan hanya simbol negara, tetapi juga lambang persatuan, perjuangan, dan kebanggaan seluruh rakyat Indonesia,” tegas Serma Abdul Majid.
Ia menegaskan, di wilayah perbatasan, pengibaran bendera memiliki makna lebih dalam. Ini adalah bentuk penegasan kedaulatan. Ini adalah cara TNI mengajak rakyat untuk tidak melupakan sejarah dan jasa para pahlawan.
“Selama Merah Putih masih berkibar di setiap rumah, maka semangat menjaga keutuhan NKRI tidak akan pernah padam,” lanjutnya.
Menurut Serma Abdul Majid kibaran Merah Putih di setiap rumah menciptakan pemandangan yang dramatis. Merah putih berkibar berdampingan dengan hijaunya hutan perbatasan. Sebuah potret kuat tentang persatuan.
“Kodim 1206 Putussibau menjadikan Program Kampung Merah Putih sebagai gerakan berkelanjutan. Tujuannya tidak hanya menyemarakkan HUT ke-81 RI, tetapi lebih dari itu memperkokoh persatuan, menumbuhkan jiwa nasionalisme, dan mempererat kemanunggalan TNI dengan rakyat, “ucap Serma Abdul Majid.
Ditambahkan Abdul Majid, di era digital dan derasnya informasi, nilai kebangsaan harus terus dijaga. Dan cara paling sederhana namun paling kuat adalah dengan mengibarkan bendera.
“Kami ingin generasi muda di Sebintang tumbuh dengan dada membusung karena bangga jadi anak Indonesia. Kami ingin mereka tahu, kemerdekaan ini diperjuangkan dengan darah dan air mata,”tutup Serma Abdul Majid.
Kini, Dusun Sebintang bukan lagi sekadar nama di peta perbatasan. Ia telah menjadi saksi. Saksi bahwa semangat Proklamasi 1945 masih hidup, masih menyala, dan terus diwariskan — satu rumah, satu bendera, satu tekad Indonesia tetap satu. (*)














