MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Rasa gurih dan lezatnya pempek, makanan khas Palembang menjadi kerinduan terbesar bagi Mayda Afifah (24 tahun). Meski tinggal di Bekasi, perempuan berambut panjang itu sangat kental dengan Palembang. Pempek pun menjadi salah satu makanan favorit untuk Mayda.
Dimasa pandemi seperti ini, Mayda pun tidak bisa pulang pergi ke Palembang-Bekasi, seperti tiga tahun lalu. Bahkan untuk menjumpai keluarga di Palembang pun harus ditunda dalam waktu yang lama. Namun kerinduan dengan pempek seakan menjadi hal yang sulit ditahan.
Jemarinya yang lentik pun membuka aplikasi marketplace di handphonenya dan menuliskan kata kunci ‘pempek’. Marketplace yang dibuka yakni Shopee, yang memang menjadi satu-satunya marketplace idolanya.
Ia pun mengarahkan kursor ke Pempek Candy. Bukan kali pertama ia melakukan ini, membeli pempek via online sudah tak lagi bisa dihitung jari oleh Mayda. Dan ia mempercayakan pempek pilihannya kepada Pempek Candy yang menurutnya adalah pempek paling enak.
Untuk melampiaskan rindunya, Mayda pun memesan pempek dengan memilih menu paket pempek Candy 150ribu kecil yang ada di marketplace tersebut. Dengan biaya ongkos kirim yang hanya sekitar Rp40ribuan membuat Mayda tak keberatan asal bisa menikmati pempek Palembang, tanpa harus ke Palembang.
“Sudah sering saya pesan pempek di Shopee. Pempeknya terjamin kualitas dan rasanya, ongkirnya dari Palembang ke Bekasi pun cukup murah. Yang penting kami bisa menikmati pempek tanpa harus ke Palembang,” ungkap Mayda, kepada wartawan ini, Selasa (30/11/2021).
Wanita yang keseharian sebagai wiraswasta ini mengungkapkan, pilihan melakukan pemesanan via marketplace sudah seakan menjadi candu. Bukan hanya mempermudah cara melakukan pembelian barang atau produk yang diinginkan, namun lebih menghemat waktu dan ada beragam pilihan produk di marketplace ini. Terutama di shopee yang sudah menjadi marketplace langganan Mayda.
“Sudah lama saya jadi pelanggan Shopee, bukan hanya pesan pempek atau makanan, semua perabot rumah, make up, hingga pakaian keluarga kami pesan via daring melalui Shopee,” jelasnya.
Menurut Mayda, hal ini lebih efektif dan praktis, apalagi dinilai lebih aman di tengah masa pandemi seperti saat ini. “Jadi memang saat awal pandemi kemarin, sampai sayur mayur dan lauk frozen kami order di Shopee. Namun memang untuk pemesanan itu semua tidak menggunakan kurir JNE atau yang lain, melainkan via instant atau Gosent. Jadi bisa kami terima lebih cepat di hari yang sama,” jelasnya.

Kemampuan mengobati rindu konsumen atas kuliner khas Palembang, Pempek menjadi tujuan utama bagi Pempek Candy Palembang. Pempek Candy kini bukan hanya mendominasi dan terkenal di Palembang, namun hampir sebagian provinsi di Tanah Air sudah mengenal dan mengetahui cita rasa pempek dari merek tersebut.
Berpusat di Kota Palembang, kini konsumen Pempek Candy yang berada di luar Sumsel pun bisa dengan cepat dan mudah menikmati pempek melalui pemesanan di Shopee. Produk dari Pempek Candy sudah terjamin kualitasnya hingga ke tangan konsumen.
Yona Lius Vita, Manager Pempek Candy, mengatakan, di masa pandemi seperti ini butuh strategi untuk bisa menjalankan usaha dan bertahan. Meski sudah berusia 27 tahun, namun bukan berarti usaha Pempek Candy tak mengalami pasang surut, apalagi saat memasuki awal serangan pandemi, termasuk saat penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Palembang.
“Kita tidak akan bertahan dalam usaha yang kita jalani ini jika tidak melek dan tidak beradaptasi dengan teknologi yang ada. Pempek Candy bisa bertahan di saat pandemi, salah satunya karena kita sudah menerapkan ekosistem digital,” jelas Yona, belum lama ini.
Ia menjelaskan, langkah awal adaptasi dengan teknologi digital dilakukan Pempek Candy pada 2012 lalu. Semula, kata dia, dimulai dari membuat akun di media sosial dan melakukan penjualan melalui pemesanan online yang di order di media sosial miliknya.
Namun ini dirasa tidak cukup, pihaknya kembali mengembangkan usaha dengan membuka toko online. “Jadi setelah berupaya di medsos, kami pun melangkah dengan membuka toko online. Saat itu kami menilai bahwa prospeknya akan bagus kedepan, apalagi saat ini handphone dan toko online sudah menjadi bintang di tengah masyarakat Indonesia. Kami pun mulai masuk ke marketplace Shopee,” jelasnya.
Di Shopee, pihaknya menawarkan 66 produk, mulai dari paket pempek, cuko, lempok durian, kerupuk Palembang, hingga tekwan kering. “Pempek masih menjadi produk yang merajai karena kita memang konsentrasi pada rasa dan kualitas. Ini juga menjadi best seller kita,” kata dia.
Dengan telah bergabungnya Pempek Candy di Shopee membuat pihaknya sudah mendapat 21ribu pengikut di marketplace tersebut dan pihaknya pun mengutamakan pelayanan kepada konsumen sehingga performa chat-nya menjadi 97 persen dan penilaian dari pembeli atau konsumen adalah 4,9.
“Kita melayani pemesanan pempek untuk hampir seluruh wilayah Indonesia. Estimasi pengiriman juga cukup cepat yakni 1-2 hari. Jadi konsumen di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Lampung, Semarang, Cilegon, Bandung, Bekasi dan sekitarnya bisa menikmati pempek dengan masa estimasi paling lama 2 hari,” jelasnya.
Dijelaskan Yona, pihaknya memastikan stok atau ketersediaan pempek selalu ada. Sebagai komitmen membantu pemerintah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pihaknya pun menerapkan PPN 10 persen untuk produk yang dijual.
Contohnya, untuk paket pempek kecil Rp100.000 akan dikenakan biaya PPN Rp10.000 sehingga konsumen membayar Rp110.000 untuk paket yang dipesan. “Pempek yang dipesan konsumen itu ada beberapa jenis didalamnya sesuai dengan selera konsumen, dan juga sudah termasuk dengan cuko,” jelasnya.

Hasil dari Perjuangan
Dibalik kenikmatan dan cita rasa Pempek Candy, ada perjuangan yang dilakukan. Pempek Candu bukanlah usaha baru yang tiba-tiba menjadi besar dan memiliki belasan gerai pempek di Palembang. Ada cucuran keringat dan air mata di awal berdiri dan berkembangnya pempek tersebut.
Ada proses yang dijalani dari nol saat awal membangun bisnis kuliner ini. Diceritakan Yona, awalnya Ahua dan Aeng, perintis bisnis Pempek Candy Palembang, pada 1994 membuat pempek di garasi rumah. Keduanya memang menyukai dan cinta dengan pempek ini. Ahua dan Aeng pun membuka usaha kecil dirumahnya.
Lalu pada 1995, keduanya sudah mengumpulkan modal receh dan membuka usaha ruko di Jalan Kapten A Rivai dengan modal yang sangat minim. Bahkan keduanya mendapat bantuan dari anggota keluarganya yang lain untuk membuka bisnis kuliner ini.
“Dulu itu usahanya masih di garasi rumah, dengan modal yang minim kami berani membuka ruko. Dan ternyata bisnis ini pun meroket karena pempek masih menjadi primadona bagi masyarakat Palembang sendiri dan juga wisatawan,” jelasnya.
Dan kini, Pempek Candy pun sudah memiliki 12 gerai cabang di Kota Palembang. “Yang kita utamakan adalah kualitas, dan juga beragam upaya mengembangkan bisnis baik offline maupun online. Peningkatan layanan juga dilakukan agar pelanggan lebih mudah saat membeli produk Pempek Candy,” beber Yona.
Dukungan Pemerintah ke Pelaku Usaha
Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Sumsel Ernila Rizar mengatakan, industri kuliner di Sumsel saat ini sedang berkembang pesat. Namun perlu beragam inovasi agar industri ini tetap dapat bertahan dan berkembang di masa pandemi.
“Solusinya bagi pelaku UMKM adalah dengan berinovasi. Sebab, jika hanya menggunakan sistem manual, tentu penjualannya tidak bisa berjalan keinginan. Saat ini pandemi masih berlangsung, industri kuliner tetap harus bertahan, dengan memanfaatkan teknologi digitalisasi, termasuk melek dengan marketplace atau toko online,” kata Ernila.
Saat ini juga, sudah tersedia platform digital ataupun marketplace yang bisa dimanfaatkan para pelaku UMKM untuk mengembangkan sayap bisnis. “Ini yang harus dimanfaatkan, karena inilah yang menjadi peluang bagi industri kuliner untuk bertahan dan berdaya saing di kondisi seperti saat ini,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Hari Widodo menerangkan, masyarakat di Sumsel tercatat gemar belanja beragam produk di marketplace. Berdasarkan catatan Laporan Ekonomi Bank Indonesia Perwakilan Sumatra Selatan (BI Sumsel), pangsa pakaian menempati posisi pertama, atau sebesar 40,76 persen, dari tiga jenis barang dengan pangsa tertinggi yang dibeli.
Ia mengatakan selain pakaian, barang yang paling banyak dibeli masyarakat Sumsel adalah kosmetik dan barang pribadi, serta peralatan rumah tangga dan kantor hingga makanan. “Transaksi e-commerce di Sumatra Selatan, tumbuh meningkat baik dari sisi nominal maupun frekuensi. Bahkan tercatat, nominal transaksi di marketplace mencapai Rp1,78 triliun per kuartal II/2021 atau tumbuh 109,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai tersebut juga sejalan dengan peningkatan frekuensi transaksi menjadi 19,99 juta transaksi atau tumbuh 159,78 persen,” jelasnya.
Hari menuturkan peningkatan transaksi ini sebagai dampak pergeseran pola perilaku konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. “Di tengah pandemi Covid-19 yang mengharuskan physical distancing dalam melakukan berbagai transaksi,” katanya.
Menurutnya, peningkatan tersebut juga didukung oleh ekosistem pembayaran digital yang semakin baik. Dalam pembayaran di loka pasar, kata dia, terdapat berbagai metode yang bisa digunakan masyarakat. “Masyarakat di Sumsel paling sering menggunakan uang elektronik untuk transaksi di e-commerce yakni sebesar 27,70 persen,” katanya.
Kemudian disusul metode transfer bank sebesar 22,69 persen, cash on delivery (COD) sebesar 20,42 persen, pembayaran kredit tanpa kartu sebesar 16,16 persen dan melalui kios atau minimarket sebesar 7,15 persen. (Ardhy Fitriansyah)














