BERITA TERKINI

Kontroversi Patung Soekarno di Banyuasin, Respon DKSS dan Sorotan Seniman Perupa Sumsel

×

Kontroversi Patung Soekarno di Banyuasin, Respon DKSS dan Sorotan Seniman Perupa Sumsel

Sebarkan artikel ini

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) telah memberikan tanggapan terkait viralnya pembuatan patung Sang Proklamator Soekarno di kawasan Bung Karno Sport Center, Jalan Lingkar Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel).

Ketua DKSS, Iqbal Rudianto, menegaskan pentingnya membahas permasalahan ini karena sudah dua kali patung tersebut menjadi viral akibat ketidakmiripannya dengan Sang Proklamator Soekarno.

“Kami anggap ini sudah sangat krusial untuk dibahas,” ungkap Iqbal Rudianto dalam konferensi pers di Guns Caffe Palembang, Senin (21/1/2024).

Ia melanjutkan, pihak seniman perupa di Sumatera Selatan telah memberikan masukan kepada DKSS. Dan hal ini dianggap perlu untuk segera ditindaklanjuti.

“Jika tidak dibahas, masalah ini dapat menjadi polemik yang berkepanjangan,” kata Mantan Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) itu.

Setelah melakukan survei langsung ke lokasi, seniman perupa senior bernama Wawan menilai proses pengerjaan patung tidak sesuai dengan standar. Wawan menyoroti bahwa jika patung memiliki ukuran 6 meter, seharusnya menggunakan desain gambar dan maket sebagai acuan pembuatan.

“Kalau kita membuat patung ukuran 1 meter masih bisa kita kontrol, tapi kalau sudah 6 meter bagaimana kita mengontrolnya tanpa maket dan desain gambar?” terang Wawan.

Wawan menyarankan bahwa untuk desain semacam itu, dapat menggunakan teknik potongan-potongan yang setelah dianggap pas baru disusun. Atau bisa pula dengan sistem GSC dicetak terlebih dahulu sebelum disusun, namun tetap menggunakan model maket skala sebagai acuan ukuran.

“Kalau dibilang tersinggung, seniman perupa tersinggung, dengan sikap yang dilakukan itu, karena kejadian ini berulang. Akhirnya kita terusik dan duduk bareng disini,” jelas Wawan.

Seniman perupa senior lainnya, Syamsul, menambahkan bahwa membuat patung yang merepresentasikan sosok yang masih dikenal oleh masyarakat merupakan tugas yang sulit. Ia menekankan perlunya melibatkan saksi hidup untuk memastikan kecocokan dalam pembuatan.

“Masyarakat masih tau dengan Bung Karno, masyarakat masih tau dengan karakter Bung Karno. Karakter Bung Karno itu harus ditampakkan,” sambungnya.

Syamsul menyebutkan empat elemen penting yang harus dilibatkan dalam pembuatan monumen sebesar itu, yakni supervisor, seniman ahli, seniman partisipan, dan tukang ahli yang memahami proses campuran bahan untuk pembuatan patung.

“Saya dengar informasi, si pembuatan patung mengerjakan sendiri dan ditutup, kalau begitu siapa yang mau mengontrol,” ujar Syamsul.

Sementara itu, Budayawan Sumsel DR Erwan SuryaNegara berpendapat bahwa monumen keberagaman di Indonesia terletak di Pagar Alam, Sumatra Selatan, dan telah diakui oleh dunia.

Erwan menilai bahwa jika bicara tentang seni rupa atau patung, Sumsel memiliki monumen keberagaman nusantara yakni megalitikum di Pasemah Pagar Alam yang merupakan warisan dunia.

“Jadi bila kita kaitkan dengan peristiwa ini, sangat memalukan. Leluhur kita sudah membuat monumen kelas Internasional terbaik di dunia, tapi generasi sekarang membuat monumen seperti itu,” ungkapnya.

Erwan juga menyoroti pentingnya Sumber Daya Manusia (SDM) di Sumsel agar budaya tinggi dapat diekspor dan dimanfaatkan untuk masyarakat. Namun, ia meragukan pemahaman dan kemampuan Dinas terkait yang ditunjuk untuk pembuatan patung ini.

“Bicara seni rupa tidak bisa disamakan dengan pengetahuan arsitektur. Arsitek yang membuat perumahan tidak bisa disamakan dengan monumen karya seni rupa,” tegasnya. (fly)