MATTANEWS.CO, OKI – Catatan merah kriminalitas di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) belakangan ini memang bukan sekadar angka di atas kertas. Kehilangan 15 nyawa dalam setahun akibat tindak kejahatan adalah alarm keras yang menuntut perubahan strategi.
Namun, alih-alih merespons dengan tangan besi, Polres OKI di bawah kepemimpinan AKBP Eko Rubiyanto justru mengambil langkah yang lebih elegan sekaligus taktis: Diplomasi Ngopi.
Melalui forum “Polres OKI Hadir” di Cafe TR, Kayuagung, Jumat (13/2/2026) kemarin, kita melihat sebuah pergeseran paradigma. Polisi tidak lagi memposisikan diri sebagai menara gading yang hanya turun saat konflik pecah, melainkan sebagai dirigen yang menggerakkan potensi muda.
Hal yang paling patut diapresiasi dari pertemuan tersebut adalah transparansi. Jarang sekali pimpinan institusi keamanan sekelas Kapolres mau membuka “rapor merah” secara gamblang di hadapan mahasiswa dan organisasi kepemudaan (OKP).
Dengan memaparkan data kriminalitas secara jujur, Kapolres sebenarnya sedang membina kepercayaan. Sebuah strategi organik yang jauh lebih kuat dari sekadar patroli fisik.
Pesan yang tersirat sangat jelas. Polri tidak bisa bekerja sendiri. Pengakuan akan keterbatasan personel untuk menjaga setiap sudut Bumi Bende Seguguk adalah bentuk kejujuran intelektual yang justru mengundang simpati dan partisipasi aktif dari elemen masyarakat.
Selama ini, hubungan antara aparat dan mahasiswa seringkali terjebak dalam pola “kucing dan tikus” di jalanan. Namun, langkah Kapolres OKI merangkul BEM Uniski, HMI, PMII, PGK hingga Pemuda Pancasila adalah upaya menempatkan pemuda pada posisi yang terhormat.
Menjadikan mahasiswa sebagai agent of change sekaligus early warning system (sistem peringatan dini) di titik-titik rawan begal adalah langkah yang sangat cerdas.
“Mahasiswa dan pemuda adalah penghubung dengan masyarakat. Peran mereka sangat penting,” ujar Eko dalam sambutannya.
Pemuda dewasa ini memiliki mobilitas tinggi dan literasi informasi yang baik, menjadikan mereka mitra sosialisasi hukum, hingga urusan sosial politik adalah cara paling efisien untuk menembus sekat-sekat masyarakat yang sulit dijangkau aparat
Komitmen Polres OKI untuk menambah intensitas patroli di jam-jam rawan (tengah malam hingga subuh) memang solusi jangka pendek yang mendesak.
Namun, visi jangka panjang yang patut dikawal adalah inisiasi Gerakan OKI Sadar CCTV (GOSC).
Di era digital, keamanan tidak lagi hanya soal jumlah personel, tapi soal pengawasan sistematis. Kapolres Eko Rubianto paham betul bagaimna melangkah secara progresif.
Mengintegrasikan kesadaran warga dengan teknologi digital adalah pondasi menuju Smart Digital City. Jika setiap titik buta (blind spot) di Kabupaten OKI terpantau, ruang gerak pelaku kriminal secara tidak langsung menyempit tanpa celah hingga pelosok.
Langkah Polres OKI ini adalah contoh nyata dari penegakan hukum yang humanis. Keamanan yang sejati tidak lahir dari rasa takut terhadap moncong senjata, melainkan dari rasa memiliki terhadap daerahnya sendiri.
Dengan merangkul pemuda, Polres OKI Eko Rubianto sebenarnya sedang melangkah jauh membangun “benteng sosial”. Sebuah kekuatan visioner dan presisi lahir dari pemikiran komprehensif dengan memanfaatkan kekuatan eksternal diluar institusi polri.
Lewat forum “Polres OKI Hadir”, kepolisian tidak lagi memposisikan pemuda sebagai oposisi jalanan, melainkan mitra strategis atau sebagai “lapis kedua” pengamanan.
Sebuah langkah cerdas untuk menyumbat celah kriminalitas yang sering kali luput dari jangkauan aparat berseragam.
Jika kolaborasi ini konsisten maka ketenangan warga OKI bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang bisa kita nikmati bersama.














