Lecehkan Putusan Pengadilan, PLN Terkesan Tidak Perduli Dengan Masyarakat

  • Whatsapp

MATTANEWS.CO, PALEMBANG – Sikap arogan beberapa oknum Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Wilayah Sumsel, Jambi, dan Bengkulu cukup mencoreng nama baik PLN dimata masyarakat. Akibat melanggar putusan hakim Pengadilan Tinggi, PLN ini terkesan tidak perduli dan tidak mengindahkannya. Bahkan, dengan sombongnya, masyarakat yang merasa dirugikan (konsumen-red) agar dapat ke kantornya, Selasa (21/9/2021).

Bacaan Lainnya

“Kami sudah ada itikat baik pak, tapi karena terkendala komunikasi, korban belum menemui kami. Kalau Mas dekat dengan orang itu (korban/konsumen yang dirugikan-red), tolong beritahukan, listriknya akan kita pasang kembali. Makanya harus kami koordinasikan terlebih dahulu,” jelas Humas PLN Unit Induk Wilayah Sumsel, Jambi dan Bengkulu, Sandy Rudiyanto, kepada wartawan online media ini.

Disinggung adanya pemutusan aliran listrik dengan cara loncat pagar dan tidak diketahui tuan rumah ataupun ketua RT, Sandy menjelaskan, sebelumnya PLN telah mengirimkan surat tertulis.

“Pemutusan listrik dilapangan itu dilakukan pihak ketiga, yang berkerjasama dengan PLN. Mengenai loncat pagar yang dimaksud, kami tidak tahu,” ungkapnya.

Dikatakan Sandy, setelah menerima putusan hakim, PLN sudah mencoba memasang kembali meteran listrik dirumah korban.

“Saat kami hendak pasang kembali meteran, ternyata sudah ada meteran lain. Saat petugas memanggil tuan rumahnya, ternyata tidak ada. Sepertinya rumah tersebut jarang ditunggu, makanya tidak dipasang kembali oleh petugas,” tambahnya serius.

Keluhan sikap arogan PLN ini dilontarkan salah satu konsumen, Hadriyanzah Amir, warga Prumnas Sako.

“Saya jelas-jelas memenangkan putusan hakim, itu tertuang dalam surat putusan Pengadilan Tinggi Nomor 49/PDT/2021/PTPLG, yang isinya PLN harus mengembalikan meteran ke posisi semula. Namun sampai saat ini putusan tersebut tidak diindahkan PLN. Terkesan PLN melecehkan keputusan majelis hakim. Kami ini masyarakat dan kami membayar iuran sesuai aturan, apakah salah jika kami mengharapkan perlakukan dan sikap baik PLN. Apakah begini pelayanan PLN kepada masyarkat,” ungkap Hadriyanzah Amir.

Dijelaskan Hadriyanzah, pemutusan arus listrik rumahnya dilakukan petugas PLN pada 29 Desember 2019 lalu.

“Saat kejadian pemutusan itu, kami sekeluarga sedang liburan ke Bandung. Menurut tetangga, petugas PLN datang ke rumah memanjat pagar dan memutus meteran listrik. Setelah itu mereka pergi, seolah tidak terjadi apa-apa. Mirisnya lagi, pencabutan meteran tersebut tidak mengundang Ketua RT atau minimal tetangga,” urainya.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Pos terkait