MATTANEWS.CO, PURWAKARTA – Pemerintah Desa Cirende, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta tenyata memiliki program untuk kesehatan dan pemberdayaan ekonomi warga.
Program itu bernama,”Cirende Sehat Dengan Madu”. Bekerjasama dengan salah satu penggerak budidaya Madu Klanceng di purwakarta.
Sayangnya rencana untuk mengembangkan program itu tidak berjalan sepenuhnya. Dikarenakan saat ini, Pemerintah Desa Cirende sedang fokus menghadapai permasalahan hukum. Karena ulah salah satu oknum perangkat desanya, yang diduga menggelapkan Anggaran Dana Desa (DD).
Hanapiah Kepala Desa Cirende menyampaikan konsep awal dan gagasan ternak Madu Klanceng itu dari kesukaan warga, atau ibu-ibu yang gemar menanam bunga di pekarangan rumahnya. Mulai dari itu dirinya berinisiatif, untuk memanfaatkan dan menggabungkan ide, dimana nantinya pada setiap rumah akan disimpan satu box, untuk tempat bersarang lebah.
Tapi sayang, dengan adanya permasalahan yang menimpa desanya program tersebut tidak berjalan lancar. Rencananya program tersebut akan dianggarkan dalam anggaran DD harus sirna, dan hanya mengandalkan dana dari simpatisan saja.
“Program ini belum dianggarkan hanya bermodal dari pada simpatisan saja. Intinya program ini akan indah di mata dan sehat di badan. Dimana bunganya akan terlihat indah dan madunya sendiri dapat dikonsumsi untuk kesehatan masyarakat, serta bernilai ekonomis,”ucap Hanapiah, di lokasi budidaya Madu Klanceng, Senin (22/08/2022).
“Dengan situasional saat ini, mungkin tidak akan sesuai dengan yang telah direncanakan. Akan tetapi dipastikan program ini akan tetap berjalan secara perlahan,” ujar Hanapiah.
Dadan Hamdani selaku mitra penggerak menjelaskan Madu klanceng atau lebih dikenal dengan sebutan lain madu trigona adalah madu yang dihasilkan oleh lebah kecil, ramping dan hitam yang disebut lebah Trigona Spp. Lebah ini merupakan spesies primitif, yang hanya menghasilkan madu dalam jumlah sedikit.
Lebah trigona termasuk hewan liar, dan tidak membuat madunya dengan cara tradisional dalam sisir madu heksagonal. Namun, mereka menyimpan madunya dalam struktur hitam dan coklat kecil yang tidak beraturan, tercakup dalam propolis.
“Cita rasa dari madu klanceng ini terbilang unik dan berbeda dari madu biasanya. Madu klanceng berwarna agak gelap, tidak bening, serta perpaduan rasa agak manis, asam dan pahit. Dan memiliki kisaran nutrisi dan nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan lebah madu biasanya,” jelas Dadan.
Kata Dadan nilai ekonomis pun lumayan, dalam setiap panen, dalam ukuran botol kaleng soda kecil memiliki nilai jual Rp.250.000.
Dan masa panennya itu di tentukan masa vegetasi bunga. Bila masa vegetasi bunga itu bagus dan memiliki bunga yang banyak maka dalam kurun waktu 3 sampai 4 bulan sudah bisa dilakukan permanen.
“Kita merintis, modal seadanya, program pa Kades ini patut di apresiasi. Pihaknya memiliki program yang baik, dan ini satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan serta dapat meningkatkan roda perekonomian desa,” pungkas Dadan.















